Friday, May 25, 2007

KOTAK KOSONG WARNA JINGGA

Orang bilang...Cinta seperti permen lolly yang manis kali pertama masuk mulut...rasa itu lama, lama sekali bahkan,tapi bekasnya...yah gigimu rapuh bolong-bolong, sekalipun ada sebuah lagu kebangsaan orang-orang sakit hati yang bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Kurasa lebih baik tak kuderita keduanya.

Tapi pilihan hidup tak selamanya indah...says who???aku selalu percaya kebahagiaan juga pilihan, entah mengapa—mungkinkah karena aku lahir sebagai malaikat di tengah manusia, atau karena hidup yang menuntut untuk selalu sempurna. However it takes if we believe in ourselves...were believe in happiness, and i believe in my heart or people who have it.

Orang bilang...Cinta seperti, sebenarnya apa peduliku dengan orang dan pendapat mereka, tapi perempuan disebelahku ini memaksa untuk mengetahui arti cinta keluar dari mulutku. Dan ehm cinta seperti aliran air, beberapa orang terhanyut nyaman dalam alirannya yang syahdu serupa lantunan do’a, dan beberapa yang lain mengutuk segan karena alirannya kelewat deras—menghayutkan sisa jiwa yang mereka pertaruhkan.

Kalau begitu ini semua seputar pilihan...says who???ini semua ketentuan alam, sekalipun kita berhak memilih, alam tetap penguasa semesta. Cinta buatku elemen dari nafas semesta alam, yang ritme hembus-tariknya tetap harus diatur...kita hanya partikel-partikel dengan izin coblos sekecil serpihan debu.

Orang bilang...Cinta seperti kehidupan. Yang lahir atas ketulusan dan rasa percaya akan sesuatu yang lebih baik.

Tak semua cinta datang dengan tulus...says who???tidakkah kau lihat cinta dengan ragam yang dimilikinya, aku bukan cuma bilang tentang cinta yang datang dari 2 makhluk lain jenis, banyak bentuk, banyak lakon—tak pernah sama untuk kata cinta...

L is for the way you look at me

O is for the only one i see

V is very very extraordinary

E is even more than anyone that you adore*

+ + +

KRISTALL terpaku menatap wajah wanita di hadapannya, begitu cantik tak tercela. Siang ini hari begitu panas, cuaca tak pernah berkompromi dengan kegiatan yang dilakukan manusia. Dan bayangan kesejukan rumahnya akhirnya tinggal mimpi di siang bolong.

“maaf tante cari siapa?”, tanyanya dengan nada halus, nada yang familiar dengan yang diajarkan bunda.

“ini benar rumah Bima?, jawab wanita itu—sebenarnya lebih tepat dikatakan balik bertanya.

“Bima...”,terdiam sesaat...bertanya-tanya adakah yang bernama Bima di sekitar rumahnya.

“Sebastian Pandji Bimantara”, jelas wanita itu kembali

“oh...ya Bima...itu nama ayah, ya ya ya itu nama ayah saya...sudah lama tidak ada yang panggil ayah Bima, saya jadi...ehm silahkan masuk tante....”

Wanita itu menerawang ke seluruh ruangan, seolah mencari celah-celah kesalahan atau mungkin sebenarnya sedikit pembenaran untuk dibawa pulang sebagai cerita tentang kunjungan siang hari yang kering tawa.

“siapa nama kamu?”, wanita itu membuyarkan pikiran Kristall.

“Kristall, oh iya maaf saya lupa bertanya tante ini siapa...”

“cuma Kristall?”.

“ya...ehm maksudnya?”

“nama kamu cuma Kristall?”

“oh tidak, saya punya nama lengkap tapi untuk apa?”.

“nama yang dingin...”

“oh ya...bunda yang kasih saya nama itu, buat saya itu indah, seindah bunda..”

Wanita itu tertegun mendengar jawabannya, jawaban yang selalu Kristall berikan kepada setiap orang yang pandang betapa dingin namanya.

Ia tahu bukan hanya wanita itu yang merasa namanya terlalu kaku dan minim cinta, tapi apa pedulinya kalau itu sudah melekat kelewat lama di hidupnya.

“Gayatri...”

pardon?!?”

“orang yang kamu sebut Bunda itu...Gayatri kan?!?”

“orang yang saya sebut Bunda itu ibu kandung saya, yang melahirkan saya, orang yang membagi gen-nya kedalam tubuh saya, dan ia memang bernama Gayatri, sebenarnya tante ini siapa?”, ujarnya jengkel—terkadang dalam sepersekian detik hidup Kristall, ia selalu bertanya mengapa tak pernah menang adu kelembutan dengan Bunda-nya, emosinya terlalu mudah terpancing untuk urusan ini.

“bilang saja kalau Bima datang...tadi Kalya datang berkunjung”, ujar wanita itu sambil berjalan keluar pintu, menghilang bersama deru mobil yang dikendarainya.

Orang aneh pikirnya, walau tak pernah ia lihat rupa sesempurna itu sebelumnya, hidung bangir dan kulit seputih kapas itu setahunya cuma ada di dongeng Putri Salju, belum lagi rambutnya yang hitam legam. Tapi tetap saja tak seindah bunda—ia selalu menganggap ibunya malaikat yang lebih indah dari rupa manusia manapun.

KENANGAN itu bangkit lagi akhirnya, tepat disaat ia menginjakan kaki di kota ini—sekali lagi, ia membencinya, telah ia perjanjikan dengan yang Kuasa untuk tidak mengusiknya, tapi gadis itu belahan jiwa yang lama tertinggal, oleh kebodohan individualis yang melekat kuat di jiwanya...Kalya menatap lekat sobekan kertas yang baru kemarin diberikan Suga, rekan sekerjanya dulu, dulu sekali...waktu ia masih sesegar apel yang baru dipetik dari pohon. Kini semuanya sudah berubah, 21 tahun waktu yang cukup lama untuk lari dari tanggung jawab besarnya sebagai perempuan, tapi layakah ia menyebut dirinya perempuan, sedang melihat benih yang ditanamnya tumbuh pun ia enggan.

...Terik matahari di kota ini tak pernah bisa sedikit memberi sejuk untuk datang, aku berjalan lunglai ke arah perpustakaan yang letaknya di seberang gedung fakultas. Siang ini benar-benar parah, tugas yang menumpuk, pekerjaan sehari-hari yang sudah menanti riang, baju-baju kotor yang menunggu-nunggu giliran untuk dicuci bersih.Belum lagi...ya Tuhan mohonkan percepat hari ini 1 jam dari biasanya...setidaknya...bruuuuk...oh tidak, lagi-lagi, kenapa kebiasaan buruk berpikir atau apa lebih tepatnya memikirkan sesuatu tanpa otak, yah pokoknya itu lah...selalu merugikan kegiatan siang hari yang parah ini. Orang yang kutabrak dan membuat buku-buku keparat ini berjatuhan cuma menatap lekat lalu menunduk lagi.

“aduh sorry ya, gak keliatan...”

“gak apa-apa, lain kali bawa spion ya kalau mau jalan”.

“hah...eh yayaya”,balasku dengan terus tersenyum—aneh.

“Bima...”,ujarnya sambil mengulurkan tangan.

“eh...”

“nama aku Bima, kamu siapa?”.

“saya ehm Kalya...”

Kalya selalu mengingatnya, saat dimana ia bertemu dengan Bima yang tak pernah disangka merubah hidupnya. Pria bertubuh tegap yang selalu berjalan tertunduk itu, pantaskah disebut dengan nama salah satu Pandawa yang maskulinitasnya tinggi. Ia selalu menganggap Bima lebih identik dengan Yudhistira yang plin-plan, tak pantas seorang pria yang berat berkata tidak jadi seorang Bima.

Tak pernah dipungkiri ia selalu rindu dengan suasana dulu—berbagi dengan Bima yang tak pernah dikenalnya utuh.

LELAH menjalar di seluruh urat syarafnya, sudah pukul lima lewat limabelas waktu akhirnya Pandji duduk dengan santai di sofa panjang rumahnya. Belum ada siapapun yang meladeninya hari ini. Gayatri istrinya kebetulan sedang sibuk “nyekar” ke makam leluhurnya di Imogiri, sedang Kristall putri pertamanya mungkin sedang asyik baca buku sambil mendengar musik di taman dekat rumahnya. Kristall tak pernah diijinkan mendengarkan musik di dalam rumah. Gayatri membencinya—ia tak kuasa membantahnya. Kebencian Gayatri akan musik mungkin terdengar tak logis namun untuk seorang perempuan dengan hati sekeras baja pun, ia cuma manusia biasa yang bisa nyeri.

Hampir 15 tahun rumah ini menjadi pelepas lelahnya, dengan jerih payah yang ia satukan bersama Gayatri, semuanya terbayar dengan rumah ini. Gayatri perempuan tangguh di hidupnya, tak pernah sekalipun ia mengeluh atau sekedar ingin jadi istri orang lain dalam sehari...begitu bangga ia menjadi Nyonya Pandji, menjadi Ibu dari anaknya. Gayatri yang tak akan mampu ia tampik.

“yah...tadi ada cewek cantik loh kesini”, ucapan Kristall membuka kembali kesadarannya yang sempat hilang sesaat.

“oh ya...wah kenapa ayah pulangnya terlambat ya, lumayan kan gak ada Bunda”, sahut Pandji dengan leluconnya seperti biasa.

“ih ayah, aku serius nih, dia nyariin ayah...”

“ada cewek cantik nyariin ayah, anugerah apa musibah tuh nak?”.

“anugerah kalau ngasih duit tapi musibah kalau mau nagih utang...”, anak ini punya selera humor macam ibu...kandungnya

“ah tapi perasaan ayah gak ada urusan apa-apa gitu nak”.

“dia bilang...bilang saja kalau Bima datang, tadi Kalya datang berkunjung...”,ujar Kristall sambil meniru ucapan wanita aneh yang siang tadi datang kerumahnya.

Pandji menatap lekat bola mata putri tunggalnya, berharap ia temukan secercah kebohongan di retina Kristall, tapi tidak mungkinkah ada yang memberitahu Kristall—mana mungkin.

Mana mungkin—ia datang kembali.

Ini hampir 21 tahun sejak kepergiannya.

Sejak keputusan hebatnya untuk memberi kebebasan.

Band ini benar-benar menguras isi otakku sampai habis, kenapa pula manajer dungu itu pakai acara cinta lokasi dengan Dinnah—lead vokal kami, tidakkah ia tahu kalau perempuan itu punya bisa sehebat Medusa.Suaranya memang indah, dan siapapun yang mendengar pasti terbuai, sayang indahnya tertutup dengan kelakuannya yang mengesalkan, minggu lalu ia minta kenaikan upah yang cuma pantas untuk penyanyi sekelas January Christie. Dan kini kami yang harus pontang-panting cari pengganti, kalau tidak siapa yang mau bernyanyi, tak mungkin para tamu kuhibur dengan instrumen saja. Untungnya Suga bilang sudah dapat yang baru... perempuan, penampilan menarik, suaranya seksi, dan...

Dan disanalah akhirnya ia datang sambil melempar senyum nakal yang selalu kulihat setiap saat ia berhasil menjatuhkan barang bawaannya tepat di depanku. Ia yang datang dengan rok cokelat dan kemeja putih yang menyempurnakan keanggunannya, dan jangan sampai harus kusebut keindahan rambutnya yang ikal—Kalyana Maitri Paramitta.

“ayyyaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh.....”.

“ayah ini udah malem, bangun dong.....”.

Kristall...ya itu suara Kristall yang memanggilku dari jauh...itu pasti dia.

“jam berapa ini nak?”, tanyaku setelah setengah tersadar dari mimpi singkat tentang Kalya.

“jam 7 sih...ayah jaga rumah ya, aku mau ke gereja”, jawabnya kemudian. Kristall yang akan berusia 21 tahun sebentar lagi, ia sudah besar dan matang...walau belum sematang ibunya yang pergi dulu.

“ehm yah Kalya tuh siapa sih? Temen Bunda ya yah?”, lanjutnya lagi.

“Kalya...ya temen ayah juga temen bunda juga”.

“kok orangnya aneh sih yah tapi cantik? Aku kok gak pernah liat dia sebelumnya?”.

“oh...yah mungkin karena lama tinggal di luar negeri”.

really...awesome!”...

KALYA tidak pernah merasa sebersalah ini hingga ia melihat betapa Kristall mewarisi kulitnya, matanya, bibirnya, bahkan tulang rahang yang nyaris serupa. Anak itu hampir berusia 21 tahun sekarang. Sebenarnya tak ingin ia usik ketenangan keluarga mereka, tapi salahkah jika ia ingin mencurahkan sesuatu yang tertunda selama 21 tahun lamanya. Ia pergi tanpa memandang Kristall, bahkan tanpa meninggalkan bayi mungil itu nama untuk dipanggil.

Dua bulan lalu ia berhasil mengumpulkan potongan-potongan tentang keberadaan Bima, Kristall dan Gayatri tentunya. Suga banyak membantunya mengumpulkan serpihan-serpihan abu masa lalu itu. Awal tahun lalu ketika ia mampir ke Yogyakarta untuk urusan pekerjaan, ia bertemu dengan Suga...satu-satunya sumber informasi yang belum ia korek keterangannya. Darinya ia tahu kalau Bima sekarang pindah ke kotamadya dekat kotanya dulu, anaknya dibawa serta, tak pernah sekalipun ia buat anak semata wayangnya itu menderita, pun Gayatri mencintai dan merawatnya sangat baik. Benak Kalya bertanya akan kebenaran cinta Gayatri—mungkinkah anak itu tidak meninggalkan bekas genital yang diwarisinya. Mungkinkah Gayatri tidak membayar sakit hatinya pada satu-satunya darah daging yang tak kuasa ia bunuh.

Aku menatap wajahnya lekat-lekat, ketampanan yang kelewat menyilaukan di mataku, pria ini mungkin terlihat sangat membumi tapi bagiku ia ibarat Icarus yang sengaja datang untuk menyapa. Buatku pada awalnya semua kedekatan yang ter jalin sebatas kasih antara dua manusia yang kehilangan sosok ayah terlalu cepat...tak pernah kuduga sebelumnya kalau rasa sakit bisa menimbulkan gejolak hasrat yang dashyat...

Bima begitu passionatte...tertawan aku dalam diam yang selalu ia tunjukan, hamparan kering yang sengaja ia suguhkan, membuat sepersekian detik pikiranku memaksa hati untuk menghiba sentuhan lembut, tatapan itu—penjara tak kasat mata.

“buat kamu...cinta itu apa?”,tanyaku.

“cinta, dalam rangka apa?”.

“jawab aja...”

“cinta itu seperti berjalan dia atas air...”

Aku tersenyum, senyum yang sama dengan yang kuberikan setelah ciuman pertama kami.

Sayang ia bukan milikku, bisakah kumiliki dia, sebentar pun tak apa ya Allah, hanya untuk menjamahnya, hanya untuk meneguk anggur dari manis bibirnya...Walau beberapa detik kemudian kau buatku sadar kalau atas namamu manusia kini saling berpalingan.

+ + +

GAYATRI membiarkan badannya rebah barang sejenak di ranjang besi tempat ia biasa mendengar cerita-cerita yang ti tentang segala macam dedemit, peri, atau bahkan hewan yang pandai bahasa manusia—si kancil yang nakal misalnya. Hampir 30 tahun yang ti seda, selama itu pula waktu menoreh masa lalu yang panjang untuk hidupnya yang dituntut sempurna. Waktu itu ia cuma anak manis berusia 12 tahun, hampir dewasa karena sudah mau masuk SMP, ia selalu menikmati perjalanan ke Imogiri, karena itu satu-satunya tempat dimana ibu dan bapaknya berkumpul memanjakan ia, Tantri dan Bondan—adik-adiknya. Dan kini usia 45 tahun sudah ia rasakan, betapa segala ujian ia lewatkan dengan tabah tanpa berani membantah.

Aku tak pernah memohon kebaikan Gusti Allah sampai sebegini memaksa, nyawa ibu dan bapakku ada di tanganmu ya Bapa..aku masih membutuhkan mereka, pun adikku, tidakkah kau lihat betapa keluarga kami saling bergantungan, kesatuan utuh yang saling membutuhkan, minggu lalu kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang membuat kedua manusia yang kautakdirkan menjadi penciptaku harus terbaring sekarat dirumah sakit, mengapa harus mereka ya Bapa...tak sanggupkah kau renggut aku sebagai gantinya, tak cukupkah deraan yang kami terima paska kepergiaan Bondan.

Kuatkan hati kami Bapa, berikan kami secercah cinta kasihmu...selamatkan nyawa kedua orangtuaku.

Airmata mengalir lambat di pipinya, tak kuasa ia mengingat setiap kata-kata yang keluar dengan tulus dihadapan Kristus yang selalu ia anggap kudus. Walau ternyata Tuhan menakdirkan kedua orangtuanya untuk pergi, meninggalkan ia dan Tantri berdua.

Kala itu usianya sudah 23 tahun, sudah mengenal Pandji yang merupakan cinta pertama di hidupnya. Pandji yang berbeda dari jenis pria yang selama ini ia kenal, Pandji yang melunturkan semua ketakutannya akan cinta, Pandji yang membuatnya lebih agung dari manusia manapun. Buatnya segala sisa-sisa cinta yang masih ia miliki adalah harta yang harus ia jaga sampai mati.

Pertemuannya dengan Pandji begitu indah untuk terus dikenang, Pandji yang punya segudang makna untuk digali, ia yang berusaha keras mendekati dirinya yang kelewat sulit membuka hati, yang akhirnya berhasil mengetuk pintu itu hingga terbuka.

Hingga semuanya terbuka...hingga meresapi makna memiliki dan dimiliki...hingga seseorang yang datang dengan pesona yang belum pernah ada, bukan karena ia hebat, tapi karena ia lahir sebagai jalang...Pandji ternyata cuma pria biasa, manusia biasa yang jatuh hati dengan malaikat dan iblis yang menyimpan benihnya.

Gayatri selalu mengenang kenangan-kenangan itu satu persatu, tentang kedua kakek-neneknya, orangtuanya yang terlalu cepat pergi, adik yang menjadi tanggungannya, lik Rah, Pandji—malaikat hatinya, penguasa seluruh hidupnya, Kristall...yah bayi mungil itu, ah tidak kini ia sudah menjadi gadis, sudah dewasa bahkan, rupanya, cara bicaranya, seleranya yang kelewatan terhadap musik, dan kegemarannya membaca, yang begitu...pada akhirnya harus Gayatri akui, menuntunnya pada kenangan akan Kalya.

+ + +

TERKADANG Kristall berpikir mengapa bunda begitu ngotot melarangnya bermusik, padahal Kristall begitu bergantung pada musik, sebagian jiwanya seperti telah dipersekutukan oleh musik, entah iblis macam apa yang rela menorehkan kecintaan yang terlarang bahkan dibenci oleh malaikat jiwanya—bunda yang tak mampu ditandingi siapapun. Bahkan ayah tak mampu meredam kebenciaan bunda akan musik, suatu kali pernah ia melihat bunda bertengkar dengan ayah karena masalah larangan ini, hebat sekali hingga ia melihat sisi lain dari malaikat yang selama ini menjaganya. Tak habis-habis bunda menuding ayah dan menyebut kata “ia”, entah ditujukan untuk siapa atau maksud apa, yang Kristall ingat setelah itu hanyalah bunda pergi tanpa pamit dengannya, tanpa meninggalkan sedikit pesan untuknya... Sesekali dalam hidupnya bunda memang terlihat seperti manusia biasa—bukan sesuatu yang agung, namun kebiasaannya lah yang membuat Kristall terkagum, mengucap syukur pada Tuhan atas berkah yang berwujud Bunda di hidupnya.

Dering telepon membangunkan alam sadarnya yang sempat menerawang beberapa saat mengenang bunda yang sudah 2 minggu pergi, padahal hari ini ulangtahunnya yang ke 21 tahun, dan hanya rupa suci Bunda Maria yang tersenyum syahdu memandangnya dari bingkai kayu.

“hallo...”

“can i talk with Bima, please”.

‘who is it?”

“its Kalya...”

perempuan itu lagi, sudah 1 minggu berlalu semenjak kedatangannya yang cukup ganjil kehidupnya, entah mengapa Kristall menganggap perempuan ini bukan tanpa maksud terpendam datang ke rumah keluarganya.

“ayah sedang keluar tante, ada pesan?”...

“saya bicara dengan siapa sekarang?”.

“ini Kristall...”

“Kristall...can we meet?”.

Dia memang aneh, tapi sebagian keanehan yang dia miliki justru menuntun Kristall ke arah cahaya yang selama ini ia rindukan.

of course...where?”.

“saya jemput kamu jam 4 sore ini,deal?”.

with my pleasure...”

Ini ulangtahunnya dan satu-satunya manusia yang ia temui di tahun baru-nya justru orang asing yang aneh—tapi kenapa ini seperti dinantikan, inikah yang Kau namakan takdir ya Bapa—bathinnya, lalu ia tersenyum kepada Maria yang masih setia memandang lewat gambar dirinya yang tergantung di ruang keluarga.

“ok tell me why you always said that word”.

“which word?”.

“andai...”

Bima cuma tersenyum sambil menatapku lekat, seakan dia ingin merengkuhku kembali dan membenamkan kami dalam ritual cinta yang tak habis hingga hari ini terang dan menyapa kami untuk sadar.

“andai...”

“tuh kan gak jawab, ayo dong jawab...”

Aku tetap memaksanya menjawab, ia selalu mengucap kalimat itu selain kata maaf yang selalu keluar dari bibirnya yang menggemaskan...Ah anggap aku jalang, atau liar, tapi ia memang membuat perangkap hasrat ini untukku.

“andai adalah sisa misteri kekuatan hidup dari dunia yang hampir punah”.

Aku menatapnya selekat tatapannya, menyalurkan segala pesona yang kumiliki untuk memikatnya, menjatuhkan ia dalam perangkap yang tak pernah membuatnya terjerat.

“andai...yang akan menghapus dosa umat manusia”.

“andai...”.

“sekarang kamu mulai suka dengan kata itu kan?”.

Yah aku mulai menyukainya, kata itu membawa mimpiku terbang tinggi, membuat mimpi lari sejauh-jauhnya dari kejaran nyata yang selalu menang sendiri.

Aku merebahkan diriku diatasnya, telanjang—tanpa sehelai benang. Membiarkanya bermain di tengah dua buah kenikmatan dosa, ia menikmatinya, tanpa pernah berpikir kalau kenikmatan itu membuatnya berandai semakin jauh, aku merajainya, seperti kekuatan Btari Kali yang selalu ingin berdiri diatas semua lawan jenisnya di muka bumi.

KINI dihadapnya sudah duduk perempuan yang berasal dari buah dosa yang ia paksa Bima untuk memetiknya. Kalya tahu ini hari ulangtahun putri tunggalnya, tak kuasa ia pulang ke Belanda sebelum melihat anak ini tumbuh sedewasa dirinya dulu.

“happy birthdays...”

“oh how...thanks anyway but...how come?”.

“i just know it”.

Kristall perempuan yang pandai, mereka mengajarinya dengan baik, bahkan ia beragama dan tidak membenci pencipta-Nya.

“ayah bilang...tante tinggal diluar negeri, dimana tan?”.

“Nederland, hidup disana menyenangkan”.

“kan kotor disana tan? too much sinner...”

“well...im the part of that”.

Kristall bahkan dikreasikan untuk tidak sepertinya oleh Gayatri, pandangannya akan hidup sebagai perempuan yang menjadi makhluk dengan dosa asal yang melekat, sengaja untuk menghina keberadaannya yang selalu Gayatri anggap himpunan dosa manusia.

“tante aneh...apa tante juga benci musik seperti bunda?”.

“oh i loved music, you dont?!?”.

“aku suka tapi bunda enggak, ia selalu jadi orang asing kalo udah marah masalah kesukaanku yang satu ini...aku cuma boleh nyanyi di gereja dan dengerin musik cuma halal disana, diluar itu semua bunda anggap itu nista, lucu ya tan, padahal ayahku kan jago main piano dan dulunya pemain band...”.

For God sake Gayatri...sampai sejauh itukah ia mencoba menjauhkannya dari jangkauanku—bathinnya, ia tahu bahwa Gayatri tidak pernah tertarik akan musik seperti ia juga Bima, juga pengkambinghitaman Gayatri akan musik yang dengan biadabnya menjodohkan mereka yang terlarang untuk bersama.

Tapi untuk melarang buah hatinya bermusik, itu sama saja membunuh sisa-sisa kenangan akannya dalam tubuh Kristall.

Aku memandangnya berulang kali mungkin hanya sesekali berkedip, dalam senyap tidurnya, diselimuti kain abu-abu yang hanya jadi penutup badannya yang telanjang. Kenikmatan ini selalu ada di benakku, tak pernah sekalipun kuberniat untuk mewujudkannya ke dalam nyata. Namun ia terlalu hebat menebar pesona.

Kaki-kaki telanjang yang mungil bermain dengan hasrat yang lama kupendam,lekuk-lekuk tubuhnya dan halus kulitnya yang seputih susu menghanyutkanku dalam aliran kemauan tertahan.

Aku menginginkannya sangat—tapi kami bukan sejoli yang dicipta untuk bersama. Tuhan takkan rela merestui kami, iblis yang akan bahagia melihat kami satu.

Lekuk itu kembali menawanku, ketika Kalya membalikan tubuhnya dan membiarkan sedikit bagian tubuhnya terlihat dari sela-sela kain, membiarkanku melanglangbuana dalam khayal yang mendominasi kemasuk akalanku malam ini, oh dia menggoda, walau tanpa maksud buatku tergoda...kenapa tak ia buka seluruhnya, kenapa ia biarkan aku mengintipnya diam-diam.

Dagu itu...cuping telinga kiri yang mencoba memaksaku untuk berbisik lirih...dan...

Aku menciumnya perlahan dan lembut, ia tetap terpejam walau merasa, tak pernah ia membalas ciumanku di pagi hari, ia biarkan aku mengontrol ritme cumbuan ini sesuka hati..membiarkan jari-jari ini menjamah seluruh tubuhnya, merelakan aku untuk merasa kelembutan akan nafsu yang menyaru dalam kasih, membuatku kembali jatuh dalam lingga dan yoni yang bersatu...

ya Bapa inikah dosa yang hendak kau tebus dengan bilur-bilurmu...

PANDJI memandang mereka dari kejauhan, berkelebat sejenak bayangan akan Kalya 21 tahun silam, Kalya yang hampir membuatnya tersungkur dalam mimpi buruk, ah tidak ia belum sempat jadi mimpi buruk walau selalu memaksanya untuk terlibat dalam serentetan mimpi buruk di hidup Pandji. Hari ini tepat 21 tahun kepergian Kalya yang tanpa pesan, ia tahu dengan jelas selama 21 tahun pula kebahagiaan itu terenggut dari hidup mereka bertiga, tapi apa daya manusia jika taruhan dosa lah yang menghadang.

Sore tadi ia terima pesan singkat di telepon genggamnya, dari Kristall tentang hari spesialnya yang akan dirayakan dengan teman ayahnya yang ayu—tante Kalya ia sebut nama wanita itu, ia mengundangnya serta untuk makan malam di Kafe Morien. Biasanya mereka memang merayakan ulangtahun Kristall di kafe itu, Kristall menyukai tiramisu yang dijual disana, sedang ia dan Gayatri memang punya sejarah dengan tempat itu. Sayangnya hampir 3 tahun belakangan ini, Gayatri seperti melihat sosok Kalya dalam diri putrinya—begitu pekat kemiripan mereka, hingga buat hatinya miris setiap melihat Kristall tersenyum.

+ + +

IA menatap nanar foto keluarga yang tergantung indah di dashboard mobilnya, ini tahun ke 21 bagi putri orang yang paling dibencinya sekaligus pria yang dipujanya sangat, hampir 3 tahun ini ia menghidari dirinya untuk menjadi bagian dari perayaan, berbagai cara yang ia tempuh untuk menutupi semua kebenciannya pada Kalya, tapi sosok itu lagi-lagi selalu muncul setiap melihat Kristall tersenyum.

Awalnya semua berjalan begitu indah, bayi mungil yang ia renggut dengan kerelaan hati perempuan yang mengandungnya, mengobati luka hatinya sebagai perempuan yang tak mungkin menjadi ibu. Gayatri terlalu lemah untuk dapat merawat benih dalam kandungannya, anugerah Tuhan untuknya hanya pantas untuk jadi pajangan.

Sudah hampir pagi waktu akhirnya tangis bayi membuyarkan semua kemarahan yang ia pendam setahun belakangan. 4 Agustus 1985, pagi itu dingin terasa memusuhinya, matahari di timur seperti hendak minta bulan mengganti fungsinya, ia sendiri menggigil minta kekuatan. Pandji di dalam sana, memegang erat tangan Kalya yang merintih kesakitan, bahkan ditengah tangisnya yang menyayat, ia tetap berpikir perempuan itu iblis dalam jubah keanggunan, jijik ia melihat rupa wanita yang merenggut hal berharga dari hidupnya. Kebencian itu membuncah 4 bulan kemarin, tepat satu minggu setelah pemberkatan yang khusyuk di gereja tempat ia dan Pandji akhirnya bersatu.

Satu minggu ini begitu membahagiakan hatiku, sampai sesak dadaku dipenuhi sukacita, tak henti-hentinya pujian kulimpahkan atas kebaikan Tuhan untukku. Seperti berada di awang-awang waktu akhirnya mendapati Pandji selalu disampingku. Pria yang kuperjuangkan, mungkin satu-satunya hal berharga yang takkan rela tercuri orang lain dariku. Tak kubiarkan apapun memisahkan kami, aku sudah cukup mengerat perih untuk kepergian manusia-manusia tercinta di hidupku, dan Bima lah yang membuatku sadar akan pentingnya memperjuangkan sesuatu.

“ga bisa nduk...kenapa ga bilang dari kemaren, ini masalah gak kecil...”, suara Bima terdengar setengah berbisik tapi menahan sesuatu yang seharusnya keluar deras.

Aku mendengarnya dari kejauhan, dari sini tak jelas dengan siapa Bima bicara.

“Mas...aku harus pergi ke Belanda, dan aku gak bisa pergi dengan keadaan begini”.

Suara itu begitu familiar di kupingku, mengapa perempuan itu kembali lagi ke kehidupan kami—baru saja kain ini kurajut dengan benang cinta, dan ia pasti datang untuk merobeknya.

Kakiku berat melangkah ke arah mereka, aku hanya diam terpaku pada akhirnya, menatap dua sejoli yang terpisah atas nama Tuhan di hadapanku.

“nduk...jangan”.

“kamu egois ya...aku gak mungkin bawa ini semua ke negara orang, aku mau...”

Tapi entah darimana segala kekuatan itu datang, seperti digerakkan tenaga seribu kuda, aku mendekat kearah mereka...ternganga melihat perut Kalya yang membesar.

“kamu mau apa?”, tanyaku menahan hati yang hampir pecah.

Mereka pasti kaget melihat kedatangannku, sedari tadi aku memang pergi untuk menemani Tantri berjalan-jalan.

“Gayatri...”, suara wanita itu kembali menyelimuti kabut amarahku, tak rela bahkan kudengar ia memanggil namaku.

“kamu mau apa lagi Kalya?”.

“aborsi”, ujarnya lirih tanpa memandangku.

Bima cuma tertegun melihat keberaniannya, tak pernah kuduga bahwa perbuatan terkutuk mereka membuahkan benih dosa, dan dengan hebatnya perusak ini datang minta restu untuk membunuh...

Niat itu tak pernah terwujud, Gayatri tidak merelakan perbuatan keji itu dilakukan, bagaimana pun ia wanita yang menomor satukan hukum Tuhan, tak kuasa ia membangkang hal yang dikutuk oleh Causa Prima-Nya. Walau harus ia tanggung beban kebencian seumur hidupnya, ia tulus meminta jabang bayi itu sebagai hukuman kebejatan dua manusia yang memberinya kado terlaknat di hidupnya.

Bayi itu ia beri nama Kristall, dengan hati beku dan amarah yang ia peti es kan, diambilnya Kristall dari suster yang membersihkannya dari darah perempuan kotor yang menyimpannya 9 bulan, meninggalkan Kalya yang masih lemah dan tertidur karena lelahnya.

+ + +

MEREKA saling menatap, seperti sekian waktu dihabiskan untuk memendam rasa yang lama pergi—terkubur dalam naungan hati yang begitu pintar bersembunyi.

ia mencuri hatiku

berhari-hari kucari

aku yakin ia mencuri

KALYA menatap pria dihadapannya dengan segenap hati yang hilang hampir 21 tahun lamanya—pencuri hatinya yang ia biarkan bebas.

tidak cantik

tak kuasa kucuri hatimu yang merah muda

kadang ungu kalau tersentuh cemburu

aku menyimpannya rapat—bukan di hatiku tapi

aku tak berani

PRIA itu pun menatapnya tak kalah lekat, dipandanginya setiap detail yang terlewat selama 21 tahun, perkembangan perempuan yang membuat hidupnya tak lagi sama seperti ia yang dulu ada... Telah ia simpan rapat rasa itu dalam sudut hatinya yang tak mungkin ditemukan siapapun—sampai dengan hari ini.

maaf jelita

hatimu kusimpan hati-hati

dalam kotak kosong warna jingga...

kalau kau tak suka

akan kuberi kuncinya agar terbuka

Tak pernah ia lihat tatapan dialamatkan pada siapapun kecuali ia dan bundanya. Ayah terlampau dingin untuk seorang pria berhati hangat, tapi tatapannya yang tajam untuk perempuan yang duduk disebelahku...mungkinkah pernah terjadi sesuatu yang dalam dengan mereka, salahkah aku mengundangnya hadir dalam pesta sederhana tahun baruku, ya Bapa bagaiman perasaan bunda jika ia tahu—bathin Kristall kembali berkecamuk tanya. Tapi nyeri hati hampir 3 tahun karena tingkah bunda yang aneh menjelang ulang tahunnya menyeimbangkan kembali suasana hatinya. Berada diantara dua manusia berbeda ini mencipta gelora yang ia pun tak mengerti atas apa.

Tante Kalya yang baru dikenalnya satu minggu...perempuan yang kini sering tak sengaja mengantar bahkan menjemputnya berangkat kuliah.

Ayah...ia pria hebat, dengan sejuta cinta yang ia punya, kharisma yang terlihat jelas dalam sejuk senyumnya. Orang yang tak pernah lupa mengecup pipinya sebelum tidur, menatap wajahnya begitu dalam—menyimpan rindu yang kini tumpah di depan matanya.

Rasa sakit kembali menusuk hatinya, ayah kini menatap wajahnya dan mengucapkan selamat ulang tahun beserta harapan-harapan yang ia tanam untuk putri yang selalu ia banggakan. Ritual ini selalu dibencinya 3 tahun belakangan, ia membencinya sangat, ia mengutuk dirinya sendiri untuk dibakar dalam api terpanas di neraka. Terasa asinnya airmata di ujung bibir tipisnya, kenistaan itu merambat lemah dari mata hingga ke dagunya yang mungil.

Ini dosaku ya Bapa...jangan timpali kepada mereka yang menyayangiku...tak kubiarkan mereka remuk karena cintaku yang terlalu dalam untuk mereka—ayah dan bundaku

Berusaha kuat Kristall menyeka airmatanya, tapi aliran itu tak terbendung. Mereka pikir mungkin karena ia terharu atas hadiah cinta yang membuat ruang hatinya bertambah sempit. Oh tidak tahukah mereka tentang derita seorang pendusta yang menutup rapat rahasia busuknya, tidakkah mereka sadar akan wajah kebohongan yang terlihat jelas dimatanya...

Teriakan dan tangis bayi yang diangkat malaikat ke surga kembali terngiang diruang kedap suara jiwaku. Wajah minta kasih dan sayang karena telah rela bertandang menyelimuti pandanganku yang kabur karena airmata. Ingin rasanya kubasuh cinta mereka dengan kasih yang kupunya, segenap rasa yang membuatku begitu kejam dan terluka karenanya...

Ya Bapa biarkan aku tenggelam bersama dosa tapi jangan biarkan mereka luluh lantak karena kubunuh sebagian jiwaku...

Tak pantas kuminta ampunMu, atau bahkan sedikit iba untuk aku yang tak menjaga karuniaMu...

Ya Bapa

Kubebani diriku hingga nanti malaikat maut cabut jiwaku

Kubawa serta cinta yang tertunda untuk jiwa suci yang harusnya ada

Meski kutahu ia tidak akan disana

are you OK, dear?”, suara milik ayah membangunkan ia dari kesedihan.

“iya yah, aku cuma...”, jawabnya terbata.

you’re gonna be fine”, kini sentuhan halus tante Kalya dan suara seraknya yang menyemangati Kristall untuk kembali bahagia.

Aku rasa aku takkan pernah baik

Aku pembunuh...



* L.O.V.E by Nat King Cole (taken with no permission—he’s already die!)

DALAM DARAHKU TIDAK ADA IBU

Pikiranku merayap cepat saat menyaksikan salah satu tayangan televisi tentang melodi duka lara atas nama kebesaran Tuhan. Diceritakannya bagaimana perempuan buta itu pasrah tak berdaya melihat suaminya memaki kasar karena si istri sudah tidak dapat melayani, tak bisa memuaskan birahi si suami, tak bisa membahagiakannya, dan serupa dengan si istri, tak bisa kusalahkan suami itu bila akhirnya ia tidur dengan wanita lain, dengan lacur yang cuma menguras hartanya—tokh dalam agama yang kuanut, wanita hanya mesin pemuas pria (begitu salah satu artist menggambarkan pola kehidupan yang mengenaskan bagi seorang wanita). Tontonan ini—yang selama ini membuat perutku mulas, akhirnya membuatku sadar bahwa dalam darahku tidak setetes-pun yang mengalir dari darah ibu, bahkan aku skeptis kalau ia pernah rela meneteskan darahnya padaku.... Namun bagaimana aku ada, bila telurku pun enggan menampung sperma Ayah ???, aku mungkin seorang wanita yang tangguh, tapi aku tidak mungkin seorang wanita tanpa ibu.


Dengarlah barang sejenak raungan dinding yang terpasung asa

Merapat ke dalam abslepsia yang cekat tenaga

Aku hanya ingin satu detik pelukan

Aku hanya ingin satu menit ciuman

Aku hanya ingin satu jam kehangatan

Aku hanya ingin satu hari kebersamaan

Lalu kau pergi lagi tinggalkan fana tandangi maya


“kamu itu nggak ada gunanya jadi istri, masa bikin nasi goreng aja rasanya hambar?”, teriakan Ayah kembali menggema di seluruh ruangan luas dalam rumah dengan arsitektur victoria yang kami tempati. Rumah ini menjadi hunian kami selama 5 tahun terakhir, semenjak Ayah dipromosikan sebagai manajer di Bank tempatnya mencari nafkah. Aku dan adikku begitu bahagia saat itu—kalau tidak salah kami masih duduk di bangku sekolah dasar, aku di kelas 6 sedang adik di kelas 5, kali pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku—sampai detik ini.

“jawab aku Hanni, kamu bisanya apa??? Ngurus anak cuma dua aja kamu nggak becus, kamu bisa apa... masih muda sudah ndak bisa melayani suami”, suara Ayah yang sedang bersemangat memaki ibu masih terdengar di telinga kami, walau sudah kupaksakan kupingku dan adik untuk tuli temporari dengan menutupnya pakai bantal.

“Yah, aku minta maaf, nggak enak Yah didenger tetangga...”, akhirnya kudengar suara ibu yang sedari tadi bisu menenangkan amarah Ayah.

“tetangga kamu bilang, emang tetangga ngerasain apa yang aku rasain, emang tetangga kita semuanya punya bini bego kaya kamu, enggak Hanni, cuma kamu yang bikin semua laki-laki senewen...”, kembali Ayah meluapkan marahnya, menyemburkan semua murka yang memang sudah seharusnya keluar di pagi hari cerah ditengah udara pagi bulan November. Dan ibu—yah lagi-lagi ibu mendekati Ayah yang kalut dan menyentuh lembut punggungnya, sabar dan penuh kasih, tanpa setitik pun airmata—walau belaian cintanya dibalas dengan satu tamparan manis pembuka hari minggu ini.

Ayah pergi dan kudengar sayup deru kendaraannya melesat keluar garasi, Ibu hanya tertunduk menyapu bersih pecahan piring yang tadi dialamatkan Ayah untuk memecahkan kepalanya.

Aku dan adik menghampirinya, memeluknya haru, mencium keningnya dan mengambil sapu juga das bin yang dipegangnya erat di atas kursi roda.

+ + +


Namaku Roshita Ariadna, orang-orang biasa memanggilku Oshi, hanya keluargaku yang memanggilku Shita, dan semenjak di bangku SMA aku memutuskan untuk menyebut diriku Oshi dihadapan teman-teman. Oshi yang hebat, Oshi yang pintar, Oshi yang cantik, Oshi yang palsu dihadapan cermin bola mataku. Andai dosa itu tak pernah ada, andai keluargaku dapat kutukar semau hati, mungkin aku bukan Oshi yang sekarang, Oshi yang harus membuka kedoknya setiap malam di hadapan cermin usang peninggalan ibunya

“Mum... ibu itu kasian banget yah, masa suaminya minta cerai tiba-tiba dia nggak marah...”, ujar putri tunggalku Heidi menanggapi sinetron duka lara ini.

“Namanya juga film. Pasti ngada-ngada, nggak mungkin ada orang sabarnya kayak gitu...”, jawabku—kalaupun memang ada kesabaran sampai tak berbatas; bisa – bisa kedudukan Tuhan diganti olehnya.

Aku tinggal dalam homestay nyaman di salah satu kotamadya dekat salah satu gugusan pantai terindah se-Indonesia (menurut salah satu majalah pariwisata,-), kebetulan suamiku yang WNA menjadi salah satu tenaga ahli di industri terbesar besi baja. Kehidupan nyaman dengan harta bergelimang ini kunikmati hampir 15 tahun lamanya, rekor yang cukup lama—mengingat biasanya para pria asing itu hanya mengawini wanita pribumi dengan sistem kontrak selama 5 sampai 10 tahun, namun suamiku Oscar memang pria yang baik, atau lebih tepat disebut pria yang lemah !!!

+ + +

Jakarta, 5 Mei’89

Aku bekerja sebagai sekretaris di salah satu Law Firm yang juga P.P.A.T di Jakarta, ternyata ijazah D3-ku berguna sebagai penyambung nyawa keluarga kami semenjak kematian Ayah 2 tahun silam. Aku datang ke Jakarta 3 tahun yang lalu, tinggal bersama saudara sepupuku yang kebetulan sudah mapan di Jakarta, sengaja aku tidak indekost karena biaya di pendidikan disana sudah hampir membuat keluargaku pailit. Untuk study saja, Ayah harus merelakan rumah mewah kami hasil jerih payahnya—padahal sudah hampir tuli kuping kami mendengar keluh kesahnya bila harus menjual rumah “hebat” versinya itu.

Dan setelah 3 tahun memerih uang saku, aku lulus dari pendidikan D3 sekretaris dengan indeks prestasi yang memuaskan. Sayang Indonesia kental dengan budaya koneksi, sehingga angka 3,23 yang menghias ijazahku tidak juga membuatku mendapatkan pekerjaan di perusahaan bonafide. Sampai suatu hari saudara sepupuku mengenalkanku pada Ibu Sri Ambarwati—salah satu notaris terkemuka di Jakarta, yang membutuhkan sekretaris pribadi yang handal.

Hari itu, hari dimana aku bertemu dengan seseorang yang menjungkirbalikkan kehidupanku, seseorang yang mengangkatku dari jurang keperihan, pengiritan, juga rasa sakit. Pria usia 28 tahun itu bukan pria asing yang tampan macam Brad Pitt, atau bertumbuh kekar macam Stallone... ia hanya pria asing bertubuh jangkung dengan rambut coklat dan mata almond berkacamata, Oscar Robertinno Lowrency. Tapi panggil saja dia Oscar, pria campuran Perancis-Italia yang warganegara Inggris, Oscar tinggal di Inggris semenjak ibunya yang juga penyanyi Opera di Italia, meninggal dunia karena kanker—entah kanker apa, karena setiap membahas Mamma-nya ia berubah lebih sayu. Sedang Daddy-nya yang keturunan Perancis tapi numpang lahir di Britania Raya, menduda sampai ajalnya tiba.

Oscar datang ke tempat kerjaku untuk mengurus salah satu propertinya di Jakarta yang akan dijual ke salah satu rekan bisnisnya, sedang ia sendiri harus pindah ke kotamadya Cilegon untuk menjadi tenaga ahli disana. Perkenalan kami berjalan lancar, dan kami memang cocok satu sama lain. Hubungan kami yang hanya berjalan selama 6 bulan, tenyata telah memantapkan hati Oscar untuk meminangku, saat itu pula Oscar datang ke kota masa kecilku untuk melamar kepada ibu.

+ + +

Bangun pagi dengan libido yang sudah diujung kepala memang lazim dialami oleh wanita bersuami—mungkin lebih tepatnya wanita dewasa, tapi hal ini menjadi tidak lazim manakala suami yang kau goda habis-habisan hanya mendengkur tenang sambil memunggungi. Tapi aku harus mencobanya lagi. Oscar tetap khusyuk dengan dengkurnya. Mungkin harus dimulai dengan pijatan halus di daerah paha. Tidak bereaksi, hanya sedikit bersuara uh. Harus naik ketahap meremas penis. Dia tetap diam, seakan yang kupegang hanya benda plastik buatan pabrik. Kucoba dengan meremasnya sambil mencium tengkuk Oscar. Ia bereaksi. Cihuy... Aku memberanikan diri membuka celananya, walau benda buatan Tuhan itu belum juga keras. Memasukannya ke mulut dan meremasnya halus. Pelan. Pelan. Pelan. Sedikit kencang. Sedikit jilatan. Kencang dengan gigitan. Mengeras. Bertambah keras. Ouch... Oscar berteriak sambil menjambak rambutku yang terjuntai di perutnya. Dan aku... yah sayangnya tak kusadari dari awal, kalau suamiku hanya berhasil membuahkan seorang Heidi Hortancia Lowrency di dalam rahimku.

Selebihnya sperma itu harus berakhir sebelum aku klimaks atau yang 2 tahun belakangan ini terjadi—di ujung lidah. Luar biasa menurut sebagian orang. Bertahan dengan blow job tanpa having sex selama 2 tahun terakhir. What an amazing ???. Tapi hal luar biasa bisa jadi biasa kalau rutin. Dan dari tekhnologi penis mainan aku beralih ke penis sungguhan.

+ + +

Semua orang di komplek ini tahu, tetangga-tetangga kami lebih dulu tahu tentang keberadaan Ayah yang menghilang hampir 2 bulan. Dan kali terakhir ia datang, ia hanya mengambil baju dalam jumlah banyak, sambil pergi memaki ibu—yang tidak menangis.Mereka tahu. Yah orang-orang diluar sana tahu. Kalau ayah sekarang tinggal dengan tante Avy, yang juga tetangga beda blok dengan kami. Tante Avy, si janda cantik nan kaya. Tante Avy yang hanya tinggal dengan pembantu dan kucing angora kesayangannya. Tante Avy yang kesepian katanya.

Ia teman ibu, dan seperti kehidupan setiap gadis cantik, persaingan menjadi syarat mutlak dalam pergaulan—entah kasat atau tak kasat. Persaingan ibuku dengan tante Avy bukan tanpa kesadaran, ibuku sepenuhnya sadar kalau mereka adalah dua gadis sempurna di zamannya, begitu juga tante Avy. Dari segala perebutan hal sepele sampai rebutan gelar, itu hal yang lumrah. Hanya satu yang membuatku heran, kenapa ibu dan tante Avy selalu menggilai pria yang sama. Ayahku—Surya Prana contonya, ia hanya pria biasa, pintar, dan sedikit tampan. Untuk ukuran ibu, Ayah mungkin sepadan, tapi bagi seorang Avy, apalah gunanya Ayah... ia bisa mendapatkan pria anak pejabat apa...bila ia mau, kekayaan tante Avy adalah hal yang tak mungkin dimenangkan ibuku seumur hidupnya.

Dan hari dimana Ayah meninggalkan rumah, mencoreng nama keluarga kami karena ia hanya pindah 3 blok dari rumah kami, merupakan hari paling berkesan sekaligus merubah kami—anaknya, menjadi wanita yang harus lebih tangguh dari wanita yang duduk di kursi roda diseberang kami, yang hanya diam mendengar gurauan tetangga tentang rumah tangga kamii yang dramatis.

+ + +

Ta, lo lagi ngapain?

Lagi renang sih, ada apaan Shif?

Gua pengen ke rumah lo, tapi ada Oscar nggak?

Gak lah, ini hari rabu, dia kerja.

Anak lo?

Heidi sekolah ampe sore.

Lo mau pergi nggak?

Shif, lo aneh amat, mau kesini ya kesini aja.

Gua serius Ta, gua butuh lo.

Ya udah kesini aja, gua tunggu.

Makasih ya Ta.

Telepon-pun ditutup.

Shiffa menelponku tiba-tiba di hari rabu yang panas ini, tapi Cilegon memang selalu panas tak terkontrol, seakan neraka-pun tak bisa memenangkan kepanasannya. Isak tangisnya sedikit menggangu kegiatan berenang sambil berjemurku dengan Davan, segera saja kusuruhnya berpakaian dan pulang, tak lupa kuselipkan 100 dollar di dalam celana panjangnya.

Shiffa—adikku, tinggal di Tangerang bersama dengan suaminya Isman, Pak Isman aku biasa memanggilnya, karena usia suami Shiffa lebih tua dari kami bertiga—aku, suamiku, ataupun Shiffa sendiri. Usia pernikahan mereka sudah berjalan 8 tahun, tapi selama itu pula mereka tidak membuahi satu anak-pun. Sama sepertiku atau sedikit lebih perih dariku, Shiffa harus berjuang dan bersahabat dekat dengan keprihatinan, dan karena itu pulalah ia memutuskan untuk menerima pinangan Isman, yang juga merupakan teman pamanku.

“dia mau maduin gua Ta...”, ucap Shiffa yang datang 45 menit setelah meneleponku.

“dia bilang perusahaannya butuh diwarisin, dan harus dengan anak biologis”, sambung Shiffa masih terus menangis. Kutawari ia segelas limun dingin buatan si bibi, tapi ia begitu sedih hingga limun segar itupun tidak membuatnya berselera.

“lo minta dia medical check-up nggak?”, tanyaku.

“udah Ta, tapi dia bilang dia sehat, dia nggak papa, buktinya bininya yang dulu bisa hamil, sayang nggak kuat jadi keburu mampus”, jawabnya.

“Shif lo jelasin dong kalo dia tuh udah 49 tahun, udah tua, beda dong sama dulu”.

“cape gua ngomongnya Ta”, jawab Shiffa putus asa.

“siapa madunya?”.

“Lenny, cliche kan, dia mau maduin gua sama sekretarisnya”.

Shiffa berhenti bicara sampai disitu, dia adikku—adikku yang tidak butuh belaian, tidak butuh pelukan hangat kakaknya, tidak butuh nasehat yang membuatnya makin senewen, ataupun support dalam bentuk apapun, hanya satu yang ia butuhkan...

“lu masih suka nyimeng kan Ta !!!”, ujarnya mantap sambil terus mencampur tembakau dari rokok putih dengan kanabis yang diberikan Davan sebelum pergi.

+ + +

Satu tahun setelah acara kabur-kaburan Ayah yang sensasional, Ayah kembali lagi kerumah diantar supir tante Avy.Keadaan Ayahku lengkap dengan kopor yang dibawanya pergi juga jaket kulit yang dikenakannya di malam ia membuat segalanya sempurna.Hanya saja, ia terlihat lemah, serangan jantung yang menyerangnya kemarin minggu membuat separuh tubuhnya seakan lumpuh. Dan tante Avy yang sudah—sebenarnya ia kurang puas dengan servis Ayah, mencicipi Ayahku, meninabobokannya dalam payudara silikon terbesar yang pertama kali kulihat dengan mata kepalaku, juga berteman sangat dekat dengannya selama satu tahun terakhir... hanya memandang iba ke arah ibuku yang langsung menyambut Ayah sembari mencium keningnya, kuingat jelas kalimat terakhir tante Avy sampai Shiffa memukul pipinya keras.

“Hanni, Hanni, keadaan kamu nggak pernah berubah. Kamu mungkin dapetin Surya, ngurus dia kayak babu, tapi dia tetap milikku...milikku yang patut kunikmati, sayang dia sekarang sampah”.

Hari itu aku sebenarnya lebih memilih Ayah tidak kembali ke rumah, tidak kembali ke kehidupan kami yang hampir nyaman walau morat-marit. Penyakit yang dideritanya hanya menambah daftar panjang keprihatinan kami. Hanya sedikit lebih ringan dengan dana pensiun dini milik Ayah, namun uang segar tidak selamanya segar, uang itu harus habis karena Ayah tidak sudi menjual rumah kami—demi mempertahankan gengsinya.Imbasnya adalah aku dan Shiffa, mau tidak mau kami harus merelakan masa SMA kami dengan bekerja paruh waktu, usiaku dan Shiffa hanya terpaut satu tahun sehingga kami lebih mirip teman baik ketimbang kakak-adik, apalagi Shiffa dan aku memang akur semenjak ibu kecelakaan dan akhirnya lumpuh.

Sementara para belia di muka bumi asyik pacaran, kongkow, ke disko... kami, yah... kami disini sekolah sampai pukul 3 sore, kerja di toko Ua Asan—kakak ipar Ayah, pulang kerumah lewat jam 8 malam, kadang melepas lelah dengan sembunyi-sembunyi merokok kanabis, yah saat itu kanabis sudah merajalela dan membentuk sebuah animo mutakhir dalam remaja

Aku ingat drama di televisi yang kusaksikan kemarin lusa, tentang bagaimana si isteri dengan senang hati menyambut sang suami yang lumpuh tak berdaya karena stroke, dikembalikan dengan kepuasan mutlak oleh pelacur yang menguras hartanya, sedikit berbeda memang dengan Ayahku—karena tante Avy alih-alih menguras uang Ayah melainkan tenaga kelaki-lakiannya hingga disfungsi ereksi, saat Ayah kembali dulu... bathinku berkecamuk, mempertanyakan apa yang dilakukan wanita kelewat hebat itu pada Ayah, hingga ia terserang jantung karena konsumsi viagra yang berlebihan, untuk masaku dulu viagra hanya berupa jamu kuat yang memang masih orisinil bukannya jamu campur zat kimia berbahaya, lagipun efeknya tidak semenakjubkan obat-obatan kimia di pasaran sekarang. Jadi dalam kasus Ayah yang tidak jauh berbeda dengan sapi perahan, viagra yang ia gunakan mungkin jamu campur zat kimia pertama yang ada di Indonesia.

Namun cerita itu begitu merefleksikan Ibu, ia juga menangis haru saat Ayah datang, mencium tangan dan keningnya sama seperti ketika ia memohon Ayah untuk berhenti berteriak dan kembali kagum pada pesona Ibu... bodoh, yah itu hal pertama yang selalu kusesali dari menjadi anak Ibu, aku lahir dari perjuangan wanita bodoh yang bahkan tidak bisa memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, dan bukan hanya aku yang menatap jijik ke arah Ibu saat itu, adikku tak kalah geram, bahkan dengan frontal ia menunjukan kemuakannya akan romantisme antar Ibu dan Ayah. Semenjak saat itu, kami berubah—sekali lagi di sela-sela napas kami yang hampir lega hidup memaksa berubah.

+ + +

“Shif kamu harus ngerti dong, Ayah kan sakit, jadi dia mesti dibantu, mesti dikasih dukungan biar cepet sembuh”, ujar Ibu di suatu sore kepada adikku.

“siapa yang pengen dia sembuh??? Cuma Ibu doang, aku nggak Bu, aku pengen dia mati”, jawabnya lantang.

Ibu cuma diam, tidak memukul seperti ibu-ibu yang lainnya atau menyuruh Shiffa diam, justru ia yang memerintah dirinya untuk diam dan mundur, menggerakkan kursi rodanya ke arah kamar, kembali berkutat mengurusi Ayah.

“Ibu kenapa sih? Ibu tau nggak kalo Ibu juga sakit, Ibu juga repot ngerawat orang lain di atas kursi roda...”, lanjut Shiffa menyusul Ibu ke kamar.

“Ibu denger aku nggak, aku nggak butuh dia sembuh, aku butuh Ibu yang sembuh, IBU...”.

Tapi sekali lagi Ibu cuma diam, menatap Ayah masih dengan penuh kekaguman, masih dengan penuh keyakinan, masih dengan penuh kasih. Walau seberapa kalipun Ibu menatapnya, Ayah tetap Ayahku... Ayah yang meninggalkan kami disaat kami butuh, Ayah yang membuang jauh kasih Ibu untuk perempuan lain, Ayah yang sudi mengotori dirinya hingga lemah tak berdaya. Ayah yang murah, hingga cintanya dapat terbeli hanya dengan kesintalan.

Sementara Ayah, ia tercekat ditengah-tengah teriakan adikku, tak kuasa melawan segala keinginannya—yang ingin Ayah pergi untuk selamanya, terbakar api terpanas di Neraka, merasakan pahit yang kami tanggung setelah kepergiannya, setelah petualangannya yang sensasional melambungkan kedramatisan keluarga kami.

“kalo Tuhan nggak mau kabulin permintaan gua supaya dia mati, biar gua aja yang bikin dia mampus...”, ujar adikku lirih dengan napas tersenggal, menghampiriku yang sibuk membersihkan rumput.

“Ta, kok lo daritadi diem aja, lu udah bisu apa Ta?”, tanyanya sewot.

“kalo mau bunuh, ya tinggal bunuh, nggak usah cerita ma gua, ntar gue jadi saksi kunci”.

“geblek lu Ta...”

“lu yang gila, masa ortu sendiri mau lu matiin.”

“muak gua ngeliatnya...”

“biar aja dia gitu, ntar juga dia mati sendiri”.

“iya kalo mati, kalo enggak ?!?”.

“bagus...”

“hah ???.....”

“mati enggak, hidup enggak”, jawabku sambil masuk rumah, menaruh gunting rumput di lemari perkakas yang letaknya di dapur.

Shiffa tetap diam di pekarangan, memandangi tetangga seberang rumah yang sedang sibuk mempersiapkan panggangan untuk sate, kemarin lusa adalah hari Raya Idul Adha, hari dimana para sapi dan kambing harus menerima kiamat mereka, hari dimana para karnivora berpesta dengan restu yang Kuasa... dan seperti kebanyakan manusia yang menikmati Qurban, para binatang itu selalu saja berakhir menjadi daging potong dadu yang ditusuk lalu dibakar. Aku sudah biasa melihat tetangga-tetangga kami berkumpul di pekarangan mereka masing-masing, tertawa dan tertawa bersama keluarga, sedang kami—bahkan Hari Raya Lebaran hanya kami lewati dengan sungkem pada Ibu, dan tetap mengutuk Ayah.

+ + +

Suamiku sudah pulang sejak pukul 4 sore, sementara aku tidak ada di rumah, aku harus menemani Davan berbelanja ke Plaza Indonesia, namanya juga anak muda, harus berpenampilan menarik supaya agency-agency itu menerima lamarannya, meloloskan castingnya, memberinya peran dalam sinetron, iklan, atau bahkan film. Tapi ia merajuk, ia bilang, kalau tidak ada uang pelicin, ia takkan bisa tenar seumur hidup, walaupun rupanya yang tampan, dan badannya yang tinggi sempurna, tidak pula menjamin keselamatannya untuk menjadi populer dan kaya. Aku bisa saja menuruti permintaanya, tapi aku harus minta persetujuan Oscar untuk menurutinya, segala pengeluaran di balik punggungnya berakibat fatal—bisa-bisa tambang emasku itu ngambek dan pulang ke negaranya, membawa Heidy dan meninggalkanku terlunta-lunta.

Oscar sedang makan malam dengan Heidy waktu aku datang, Heidy tahu aku pergi dengan Davan, Heidy gadis pintar yang tak akan mengadu pada Daddy-nya, ia takkan rela hidup berdua dengan Oscar tanpaku, ia takkan sanggup menelan mentah-mentah kenyataan hidupnya yang akan berubah mengenaskan bila semua itu terungkap. Selama ini kehidupan keluargaku sempurna, semua orang tahu kalau aku istri yang berbakti, yang mendampingi suaminya, mengurus anaknya dengan baik, dan Davan—kedoknya tidak akan terbuka, selama seluruh manusia yang tak perlu tahu itu menganggapnya keponakanku, anak dari saudara jauhku di Sukabumi.

Setelah makan malam, Heidy pergi ke toko buku yang letaknya di pusat kota, tempat tinggal kami hampir berada di ujung kota, di bukit sejuk yang bernuansa perumahan a’la Amerika. Dan Oscar, ia menghampiriku yang sedang berkutat di meja rias setelah membersihkan—wajib dilakukan karena permainan nakalku baru saja kulakukan di pinggir tol. Ia mencium tengkukku dan memijat pundakku.

“are u tired?”, tanyanya

“enggak, kenapa?”.

“i want to spend this night with you”.

“tiap malem juga gitu”.

“more romance”.

“whha... “

“shall we?!?”

ia langsung menggedongku dan merebahkan tubuhku di sofa, sofa empuk tempatku biasa menikmati Davan di siang hari dan memuaskan Oscar di malam hari—yang hanya satu bulan sekali.

Hari ini sepertinya ia ingin memanjakanku, ia membelai lembut seluruh tubuhku, membuatku menikmati suguhan kenikmatan yang selama ini postphone dari kehidupan rumah tangga kami, aku tidak membathin macam-macam, tokh sekalipun kemanjaan yang ia berikan malam ini hanya kamuflase dari tindak menyimpangnya, aku tidak keberatan.

Oscar patut menikmati kesegaran yang lain selain aku, walau mukaku kencang, payudaraku cup C, bokongku indah, dan tubuhku sintal... tidak bisa kututupi bahwa aku hanyalah wanita berusia 38 tahun yang bolak-balik ahli kecantikan demi satu kata—seksi !

Biarlah... aku hanya bertugas menikmati dan dinikmati, aku tidak punya tanggung jawab moril apapun untuk kebahagiaan, bukankah kebahagiaanku sudah kupugar sejak lama. Heidy memiliki kehidupan yang sejahtera, Oscar dengan reputasi yang baik, dan aku yang tanpa kekurangan. Itu kebahagiaanku. Itu inginku. Aku bukan Ibu. Bukan Ibu yang bahagia dengan obsesi untuk memiliki Ayah. Bukan Ibu yang takut dosa dan menyerah menderita. Bukan Ibu yang rela membuat kedua anaknya muak. Bukan Ibu yang sudi menjual harga dirinya demi reputasi istri solihah. Bukan... Aku Roshita Ariadna, aku anaknya, tapi aku membuat kebahagiaanku sendiri, menyaru dalam gelimang kepuasan yang tak bosan-bosannya bertandang, dan aku tidak ingin satu tetes-pun dari sifat manutnya menulariku, menulari Shiffa, bahkan menulari Heidy. Kami berhak semena-semena, kami berhak menjadi yang pertama, kami berhak bahagia—dihujani harta.

Malam yang indah

Bulan meruak tawa

Bintang melantun do’a

Memohon para pendosa diberi kekal

BINCANG DALAM RANJANG

………………………………………………………………………………..............………………………………………………………………………...…………...……………………………………………………………………..……………………………………………………………………………….........????????????????????? Mau apa—mau tulis apa ?!?.....................................................................................

enggak tahu, belum punya ide, tapi aku mau_aku mau tulis semua yang ada disini. Every detail. Tanpa terkecuali, bisa? Pasti bisa. Aku bisa menulis, bahkan mengarang. Apa saja_cinta, kebodohan, sisi lain, atau kebencian dalam bungkus cinta. Semua orang bisa. Semua orang bisa cerita, dari segala cerita-cerita tentang tetangga, sampai segala macam hidup dalam ranjang , yang sama sekali tidak menarik.... Eeehh tunggu, cerita di ranjang selalu menarik bukan ? seperti menonton pertunjukan tabu yang katanya porno_padahal yang bicara para freudian pecundang yang takut istri. Ach... tapi apa peduli, biar mereka dengan bakat absurd dari lahir yang masih lekat sampai mati_kasihan !!!! Dibilang apa peduli... kenapa masih marah-marah dengan para pesakitan itu, nah nah... sekarang kenapa jadi sarkas dengan menyebut pesakitan. Mana bisa kita judge orang lain sembarangan. Mereka juga punya private right loh. Mana mau di-judge mengidap sakit jiwa. Biar saja... mereka kira kita juga gila, aneh, absurd, sok idealis, claustrophobia, anti kemapanan.... anti kemapanan bagaimana_lah kita juga kerja dari jam 8 sampai 5, jadi budak kapitalis_tapi suka juga. Kita enggak perlu pusing pikir-pikir dapat uang darimana ???? Berarti kita memang absurd, memang bodoh, memang sok idealis, tapi kita tidak anti kemapanan, soalnya masih cinta melacur. Masih cinta bos-bos gendut—yang irit hambur-hambur uang dengan teori kapitalis.... bagus... bagus.... sekarang pindah topik ke direktur pelit yang nolak kasih kenaikan salary. Padahal dari dulu banting tulang, iya banting tulang. Senyum-senyum manis yang dibuat-buat setiap mereka mondar-mandir_mengkontrol katanya !!!. Padahal cuma mau lihat paha para karyawati yang mulus-mulus itu. Bangun pagi-pagi buat berangkat ke kantor on time__kalau terlambat potongan gaji yang datang............................ Wiiiiiiiiiiiiihhhhhh, tenang kenapa sih.... kenapa mesti pusing pikir-pikir tentang gaji sekarang. Katanya mau writing. Mau bikin masterpiece biar terkenal. Biar bisa masuk majalah karena dinilai brilliant... pendatang baru dengan bakat mengagumkan... iya kan ?!? itu yang diinginkan, yang dicita-citakan, yang jadi impian setiap malam,,,, dasar gila ketenaran... narsis. Katanya enggan memeluk Agama, kok malah jadi penganut narsisme yang saleh. Yang absurd itu kamu. Kamu yang buat semua jadi absurd. Orang lain cuma ikut numpang keren saja. Loh... jangan marah. Jangan marah sama idelisasi, biar jadi narsis, asal konsisten. Memang tidak mau memeluk, tapi bukan berarti tidak mau memeluk apapun. Salah itu.................................................................................................................................

mau memeluk semuanya. Semua paham, yang diketahui pastinya. Yang dimau, yang diinginkan, yang ibadahnya gampang. Kalau begitu jangan bilang enggan... tapi... tapi apa ???? Peduli apa sama kosa kata. Biar berantakan. Asal tahu apa yang diucapkan. Mengerti dengan jelas, dan rela menaggung resiko... heh_dipikir kalimat itu tidak berpengaruh !!! Siapa yang ajar, yang ajar itu cuma murid bodoh yang cari pembenaran dengan membenarkan opininya sendiri... jangan mau dibodohi sama orang bodoh.... kata itu penting ditelaah... dasar dungu_bagaimana mau jadi penulis terkenal kalau kalimatnya berantakan,,,, memangnya mengarang berantakan itu amazing apa ????? Idiotta..............................................................

Siapa yang goblok. Biar mereka pikir berantakan. Aku pikir ini sesuai. Sesuai dengan apa yang aku mau. Sesuai dengan pikiranku. Enggak perlu bohong, jangan ada proses editing. Editing itu cuma merusak karya..............

Jadinya seperti memutarbalikkan fakta. Jadi tidak orisinil, tidak natural, tidak jujur..... jangan mau baca karangan-karangan yang isinya kebohongan. Kita sudah cukup kenyang membaca sejarah negara yang tiap hari direvisi. Jangan mau dibuat pusing dengan bacaan yang isinya menjebak, yang palsu itu.... Siapa bilang palsu... siapa bilang mau memalsu.... Cuma menyaring yang salah, kenapa sekarang jadi paranoid. Anggap semua orang hendak merusak, padahal mau ditambah__untuk apa... jangan ditambah, kalau sudah dicetak, artinya sudah bagus... makanya dibilang memalsu. Jadi tidak orisinil. Jangan tambah bumbu-bumbu yang tidak perlu. Jangan rusak karyaku..... dasar keras kepala, dibilang mau membenarkan..... lalu kapan mau maju kalau tidak mau mendengar............ Diamlah, atau lidahmu akan membuatmu tuli...................

siapa yang bilang ???? Tumben kalimatnya tidak berantakan. Pepatah Indian... masa tidak tahu ?!? dasar bodoh, wawasan sempit, jangan khutbah tentang kalimat bagus, sok tahu......................................................... sok pintar.

Siapa yang sok pintar............................. aku memang pintar, aku ahli bahasa.

Masa kamu belum tahu. Satu pepatah Indian kuno tidak akan membuatmu tolol seumur hidup. Jangan buat judgement dari satu sisi. Tidak baik. Itu egocentris namanya........ Memang.... memang egocentris, tapi aku lebih baik dari yang lain karena aku mengakui.... mengaku apa, itu bukan pengakuan. Itu namanya sudah tertangkap tangan. Mana bisa mengelak, jalan satu-satunya mengaku. Maling tertangkap basah, kalau lari yah berujung di penyiksaan masyarakat. Masa yang seperti itu masih harus diajari............... jadi siapa yang sok pintar sekarang................ Tidak ada, karena tadi sudah ditetapkan hukum untuk tidak men-judgement tanpa mempertimbangkan sisi yang lain..........................................................................

Bisa-bisanya bicara begitu sekarang. Tadi bicara lain... mulai seperti munafik yang tergila-gila masuk surga.... Padahal surga itu tidak punya kolam susu, tidak ada bidadari dengan pakaian tipis, tidak ada restoran cepat saji yang pakai telepati........ iya neraka juga tidak ada..... tidak punya malaikat tanpa nafsu yang tega memotong lidah, terus tumbuh lagi, potong lagi, tumbuh lagi, terus, terus, terus. Tidak ada perempuan yang bunting lalu mendidih dalam api.... bahkan Lucifer-pun tidak ada, karena Lucifer hidup di surganya sendiri, dalam kerajaan kekalnya sendiri........... Kenapa tega mendeskripsikan aku seperti itu.... aku tahu surga dan neraka itu keadaan_jangan sembarangan bicara, aku paham, sangat paham. Aku tidak bodoh. Tidah se-naif itu.......... Manusia naif lebih baik dari manusia munafik, jangan keliru mengartikan.... jangan sembarangan mengartikan. Sudah dibilang perhatikan pola bahasa. Ini maksud dan tujuannya, untuk memperjelas, nah lo.... mau bicara apa lagi ?!?. Manusia naif itu cuma polos dan lugu, dan sedikit bodoh, tapi tidak munafik..... Munafik itu tahu setengah-setengah tapi seperti tahu semuanya. Kalau itu namanya sok tahu...... bukan munafik, munafik itu sama sekali tidak tahu tapi berkhutbah layaknya ahli......... Sama saja hanya berbeda bahasa dan takaran contoh.... Tidak bisa, tadi diajarkan masalah tata bahasa, sekarang tidak mau dikoreksi. Bagaimana ini ?!? Ini juga namanya munafik, sudah salah tidak mau dikoreksi. Jangan seperti para pembohong yang tega membohongi kita dengan cerita kebijaksanaan, padahal dia yang membunuh semua dinasti Muhammad........ Jangan bawa-bawa satu sejarah Agama, jangan hanya karena memeluk semuanya jadi bebas membicarakan, ingat aku tidak peduli, aku lahir dari batu jadi tidak berTuhan.....................................................................................................................

Semua manusia punya Tuhan, bagaimana bisa bernafas kalau tidak ditiupkan ruh oleh Tuhan ????? Bagaimana penjelasan tentang teori irasional alam semesta, jangan hanya mempertimbangkan teori Stephen Hawking......... Kalau kenyataan itu memang benar adanya jangan ditampik. Dahulu ada teori pembuatan dengan tanah disusul dengan tiupan di ubun-ubun itu, karena mereka belum secanggih saat ini, dan mungkin saat itu seorang Stephen Hawking belum menjadi apa-apa.........Dia tidak berteori tentang kelahiran, tapi tentang jagat raya. Aku bertanya tentang kelahiran......................................................................................

Katanya ahli tata bahasa, kenapa harus ada penjelasan ulang tentang kalimat tanya ?!?............. Huh............... kalau sudah begini diam................Tidak bisa menjawab dengan lancar, dasar.... sudah kubilang kau bodoh_jangan menampik, akui saja................................................................

Kelahiran terjadi karena adanya penetrasi antara dua gender yang berbeda. Aku bukannya tidak tahu, memang kaurasakan itu dalam perut buncitmu itu kalau ada sesuatu yang meniup ubun-ubun jabang bayi itu................ tidak.............. aku tahu jawabannya tidak......Lalu manusia pertama yang melakukan penetrasi itu siapa ????.........................................................................

Adam and Eve, dengan begitu benarlah teoriku kalau ubun-ubun itu ditiup.... Bukan_Bukan,,,, nenek moyang kita primata.... bacalah teori Darwin, walau salah satu Agamamu itu menyebutnya manusia terkutuk.... Iya aku tahu. Membacanya dengan jelas, ketika salah satu teman menyatakan Darwin bentuk dari titisan Dajjal.... tapi tangan siapa yang menciptakan primata raksasa itu pertama kali, siapa makhluk yang berpenetrasi untuk pertama kali lalu lahirlah makhluk-makhluk lain yang akhirnya mengikuti para terdahulu ???????????????????????????????????????

Kini kau diam............lagi_lagi............... Hening, menatapku seolah aku seonggok daging yang siap dilahap, namun terlalu alot............................... kenapa, apa ? Aku menatapmu dengan angkuh, tertawa diatas pertanyaan yang tak mungkin kau jawab.......... kemenangan atas teori keTuhanan yang aku anut dengan sepenuh hati. Atheis bodoh yang menyedihkan.......... kini aku yang menatapmu bagai seonggok daging segar yang siap dimutilasi untuk akhirnya berada di mangkuk sup.

Masih diam....................... kini lebih sunyi, senyap, kudus..................................

Mengapa ada kekudusan disini, ketika kulihat kau terpejam dan merasakan nafasmu berhembus dari hidung bangir yang membuatku tergila-gila...................................................................................................................

Kenapa diam, ayo jawab !!!! Aku ingin kalimat yang membuatku bertekuk lutut kembali terucap, aku ingin perdebatan sengit yang selalu membakar gairah itu datang lagi.... mana suaramu, mana pikiranmu, mana brainstorming-mu, mana..... mana lelakiku ???....................................................

Namun kau tetap terpejam, enggan membuka kedua matamu, dan aku mulai mencium setiap inchi harum tubuhmu, setidaknya bukalah matamu..... aku bisa menemukan jawaban dalam matamu...............................

Tidak semua jawaban kau temukan dalam mataku, hanya pernyataan cinta yang kau temukan. Pernyataan macam tadi didalam otakku, tidak tersalurkan dalam pancaran mata...... nah kau bangun dari kesunyian, kemana sajakah_rindu kudengar suara itu, suara bantahan dari mulutmu.....................................................................................................................

Kenapa kau diam ?????? Lagi-lagi diam........ssssssshhhhhhhhhh.....................

Diamlah !!!!!! Apa................ kenapa menyuruhku tutup mulut, aku ingin kita bicara lagi, ayolah !!!!! sssssssshhhhh.............................................................

aku sedang merasakan kekalahanku dan berpindah haluan,,,,,

Diamlah..... tidak aku ingin bicara..... aku benci sepi dan diam. Kau membenci sesuatu yang kau anut, mana bisa ? kalau begitu kini kau Atheis bodoh yang malang..................................................................................................

Aku bukan Atheis_aku berTuhan, kau tahu itu kan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kalau begitu diamlah.... Diamlah—maka kau akan temukan Tuhan........... Sepi—kali ini kudus terasa pekat,,, ya y a ya aku merasakan...merasakan apa... Tuhan__yang mana........ mana_mana Tuhanku, bahkan ditengah kesunyian ini aku tidak bisa merasakannya...Lalu kulihat ia tetap terpejam dengan ketenangan yang amat halus, dan aku..............aaaaaaaaahhhhhhh !!!

sial................................................................................................................................

Kemana kau Tuhan, aku hambamu yang tak pernah menyangkal kehadiranMu__tapi kau malah bertemu dengannya, dengan seseorang yang lahir dari batu, dengan makhluk yang selalu menghujat karena kedengkiannya pada superior yang kau miliki....... Bosankah kau melihat rupaku yang melas minta tenaga dan rezeki ?? Ternyata aku memang munafik bodoh yang malang, dia bahkan bisa menemukan Tuhan dalam 5 menit !!!!!!!!!!!!!............................................................................................................

K O M A [ karena kalimatnya belum selesai ]

Karena saat kau dekat aku akhirnya jauh

Karena saat kau ingat aku akhirnya lupa

Karena saat kau cinta aku akhirnya benci

Karena saat kau datang aku akhirnya pergi,,,

Karena saat kau tulis titik aku berakhir dengan koma

Karena kalimatnya belum selesai—sampai sekarang

Aku berkutat membaca penggalan puisi Hardjawinata Kartha Winangun, sambil sesekali menguap karena kelelahan, tak lama Ibu mengetuk pintu kamarku lalu menawarkan segelas susu dan 1 tangkup roti isi keju, hari ini sama beratnya dengan hari kemarin—begitu ia selalu berbicara padaku, entah untuk apa mungkin untuk mengingatkan betapa perut yang terisi cukup akan membuat harimu sedikit lebih ringan. Dan seperti biasa aku memakan sarapan trademark ibu dengan berjalan terburu-buru ke arah kendaraan kesayanganku—volkswagen tua berwarna hijau hasil jerih payahku.

Namaku Bintang, anak tunggal dari seorang ibu yang sudah 25 tahun melajang. Ayahku hanya orang biasa, begitu ibu selalu bilang, karena seumur hidup aku hanya mengenalnya dari photo usang yang terselip di dompet ibu, mereka tidak pernah sempat menikah karena Ayah harus pergi menghadap yang Kuasa lebih cepat dari siapapun di hidup kami.

Ibu wanita yang tegar—hanya dengan mengandalkan keahliannya dalam bidang menjahit ia bisa menghidupiku hingga sebesar ini. Namun terkadang kulihat gelayut sayu yang menghias paras ayunya, sering kali kulihat ibu menatap cermin dengan gemas—karena apapun yang ia sembunyikan padaku tertoreh jelas dengan tatapnya.

Sesekali aku rindu sosok Ayah, dan dengan hanya mendengar cerita ibu tentang begaimana tampan dan gagahnya Ayah, aku merasa sudah terpuaskan—dari segala hasrat dan kerinduan akan Ayah. Sama seperti ibu, hanya dengan memandang kenangan usang itu—segala kerinduan dan cintanya terpuaskan sudah.

Nek dimana lo, cptan ke kantor dong, si Jampang udh ngamuk2 nanyain kebrdaan lo. Emang tu kodok bikin mslh lg ya? Pokonya lo cptan dtg deh, alsn gw udh abs bt bhongin tu kutu. Oia hr ini lo jd wawancara lsg Pak. Hardja, dandanan lo oke kan???

Sender : +628569329333

07:25:40

14/09/03

Namaku Bintang dan aku seorang jurnalis di salah satu majalah yang biasa mengulas tentang situasi penting berikut tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, dan hari ini bukan merupakan senin terberat dalam hidupku—hanya entah mengapa semangatku terlalu menggebu-gebu dalam reportase kali ini... Hardjawinata Kartha Winangun, nama tokoh yang siang ini akan aku wawancara, ia seorang penulis sekaligus pelukis, saat rezim orde baru, Pak Hardja merupakan salah satu penulis yang berlangganan tetap dengan hotel Prodeo karena kehebatan tulisannya. Ia mungkin tidak sematang dan sepedas Pramoedya Ananta Toer, namun justru karena kehalusannyalah ia patut keluar masuk penjara—tipikal mahasiswa muda yang geram karena akhirnya orde baru cuma momok yang lebih menakutkan dibanding orde lama. Tidak banyak fakta yang kutahu dari seorang Hardjawinata Kartha Winangun; selain kenyataan bahwa jalan halus yang dikamuflasekan olehnya ternyata masih tercium tajam oleh para badut-badut keparat itu, yang kutahu hanyalah bahwa ia tinggal sementara di kediaman adiknya bersama dengan 2 kucing dan satu great dane peliharaannya.

Iya... gw masih di jln, bntr lg jg nyampe. Blg sm si Jampang, gw lsg k rmh P. Hardja, tu org ptg st plg bnci sm tkg ngret... thanks yow !!!

Sender : +62818805880

07:45:55

14/09/03

Dan disinilah aku, didepan pagar besi model tua yang cat putihnya sewarna tulang, disambut oleh gonggongan great dane dan senyum ramah seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu pagar untukku lalu mempersilahkanku masuk kedalam rumah sedang bercat senada dengan pagarnya yang dikelilingi halaman yang tidak terlalu luas namun terlihat nyaman.

“Bapak sedang mandi Neng... Neng ini yang kemarin lusa datang kemari kan?”, tanya perempuan itu sambil menyuguhkan secangkir teh hangat dalam gelas porselen bergambar kincir angin.

“Iya bu.”, jawabku singkat.

“Bapak pesan sama saya supaya Neng disuruh menunggu sementara bapak mandi, Neng datangnya tepat sekali sih tidak seperti wartawati yang lain...”, balasnya.

“Bapak tidak suka menunggu, saya kira semua orang benci menunggu, tapi Bapak lebih saklek kalau sudah tidak suka... bisa-bisa beliau tidak mau tatap muka seumur hidup”, lanjut perempuan itu sambil tersenyum. Dan aku-pun membalasnya dengan senyuman, karena kemampuan berbasa-basiku sangat minim.

“Neng asalnya darimana?”, tanya perempuan itu kemudian ditengah-tengah hening yang tak sengaja kuciptakan.

“Saya lahir disini, tapi ibu saya dari Boyolali, kalau bapak saya dari Solo”, jawabku seadanya.

“wah sama dengan saya ya.... Saya sama Bapak aslinya dari Solo juga, Neng... tapi semenjak Bapak kuliah, kita imigrasi kesini, saya ikut Bapak soalnya saya kepingin pinter juga, sayang saya cuma mampu masuk sekolah keputrian... otak saya tidak sepinter Bapak kalau urusan sekolah tapi kalau urusan beres-beres saya jagonya”, tukas perempuan itu mencoba berkelakar, dan aku mengulas sedikit senyum ceria untuk menghargainya.

“Oh ya nama Neng siapa, daritadi ngobrol saya belum tahu namanya siapa?”, kembali ia bertanya kepadaku—pertanyaan tipikal khas keramahan orang Indonesia.

“Bintang... panggil saya Bintang saja bu”, jawabku seraya menyeruput teh hangat yang disuguhkan untukku, tenggorokanku terasa kering selama masa penantian ini.

Tak lama Pak Hardja datang dengan gaya santainya, kaus swan berikut celana pendek selutut sambil memegang rokok kretek di tangan kanannya.

“Nduk... kamu ngobrol dengan siapa?”, tanya Pak Hardja sambil melihat ke arahku.

“Ini loh Mas, wartawati yang mau wawancara Mas Win, daritadi sudah nungguin, tepat waktunya kelewatan sih Mas”, jawab perempuan yang akhirnya kutahu bernama Hapsari—adik kandung satu-satunya Pak Hardja.

Beliau hanya mengangguk sambil mengulurkan tangannya kearahku, “Hardjawinata Kartha Winangun, senang berkenalan dengan anda, bibit muda yang—semoga anda memiliki idealisasi dalam bentuk apapun”, memperkenalkan dirinya yang sudah kelewat tenar dimata semua orang.

“Bintang Artha, saya lebih senang akhirnya bisa mewawancarai Bapak”, jawabku singkat.

“Bintang Artha... nama anak Bintang Artha”, tanya Pak Hardja sambil bertatapan dengan Bu Hapsari yang juga mengernyit kebingungan.

“iya nama saya Bintang Artha, tapi panggil saya Bintang saja, Pak”, balasku keheranan, dan jawaban atas keherananku hanya dijawab oleh ulasan senyum mereka sambil menunjukan lukisan perempuan ayu yang terpampang di ruang tengah yang letaknya berseberangan dengan ruang kerja Pak Hardja.

+ + +

Nama wanita dalam lukisan itu adalah Bintang Artha, gadis penari yang terkenal di era akhir tahun 60 sampai 70-an. Parasnya ayu selalu mengulas senyuman khas penari—menggoda namun sulit diraih. Ia selalu menari di Pasar Seni 1 bulan 2 kali dalam beberapa pementasan terkenal, tak pelak membuatnya sangat tenar saat itu. Sayang ketenaran penari yang juga merupakan seorang penghibur berbeda dengan seorang aktor, aktris, atau bahkan penyanyi. Bintang Artha yang ayu membuat seorang Hardjawinata Kartha Winangun terpikat dalam sebuah pementasan yang menceritakan tentang kasih terlarang... saat itu sabtu malam ditengah udara sejuk pada pertengahan tahun 1975, Indonesia sudah berada dalam rezim baru—ujar Pak Hardja sambil sesekali menghisap rokok kreteknya, saat itu beliau merupakan mahasiswa kritis yang juga merasa perlu untuk berteriak-teriak atas nama kebebasan yang makin kencang dikekang saat orde baru oleh kekuasaan kaum militer, luapan-luapan kemarahan khas jiwa mudanya ia torehkan dalam puisi, cerita pendek, bahkan dalam lukisan—salah satu lukisannya bahkan sengaja ia bakar ditengah-tengah pusat keramaian sebagai salah satu aksi protes. Dan ditengah malam dingin di sabtu malam, setelah berhasil menjual salah satu karya seninya, Pak Hardja mampir ke Pasar Seni untuk sekedar mencari hiburan, dan disanalah ia bertemu dengan Bintang Artha, gadis ayu bermata bulat dan berkulit halus berwarna kuning langsat khas perempuan Indonesia, gemulai tariannya membuat Pak Hardja terpikat.

“Nama saya Hardjawinata Kartha Winangun, kalau boleh tahu nama Nona siapa?”, ujarku setelah melihat pementasannya 3 kali, saat itu kuberanikan diriku untuk bertanya kepada gadis ayu bak sedap malam itu.

“Bintang Artha, panggil saya Bintang saja, tuan baik sekali mau sungkan bertanya kepada saya”, jawabnya sambil menggenggam tanganku, tangannya yang halus membuatku mulai jatuh masuk perangkap.

“Saya pengagum anda, dan panggil saya Win... orang-orang biasa memanggil saya Win”, tukasku.

“Mas Win ini pengagum saya, aduh Mas Win ini bisa saja, saya ini cuma penari amatir, mosok punya penggemar...”, balasnya dengan intonasi suara yang halus namum alami.

Tak mungkin kau penari amatir—pikirku, kalau kau hanya seorang amatir mengapa kehalusan setiap lekuk gerakan tarianmu semakin membuatku jatuh kedalam imajinasi yang selama ini tak pernah kurasakan, mungkin kau Dewi atau Bidadari tapi kau sembunyi dibalik jubah ragawi manusia biasa; sama sepertiku, bedanya aku benar-benar hanya manusia biasa, manusia yang tak mungkin bisa memikat manusia lain hanya dengan olah gerak.

“Bintang... ehm... kalau saya boleh tahu, adik tinggal dimana?”, tanyaku gugup karena melihat sinar matanya silau berbinar, menyentuh halus sudut hatiku yang mencoba masuk.

“tanya rumah saja kok susah Mas Win, saya tinggal nggak jauh dari sini, cuma 2 blok kalau jalan....”, jawabnya lalu mengambil sobekan karcisku dan menuliskan sebuah alamat di dalamnya, “ini alamat saya kalau-kalau mas Win sudi mampir untuk sekedar membahas hal menarik, lukisan juga boleh...”, lanjutnya sambil menyerahkan kertas tersebut.

“kau suka lukisan juga, how interesting person...”, tanyaku.

“kemarin dulu Mas Win bikin pagelaran kecil-kecilan di kampus kan?!? Kebetulan saya ada perlu dengan teman di kampus Mas Win, jadi sekalian mampir sekedar melihat kepiawaian seorang Hardjawinata Kartha Winangun yang hobby melukis juga demonstrasi”, jawabnya manis sekali, sayang percakapan ini tidak berlangsung lama, Bintang harus pergi karena pamannya sudah menunggu diluar untuk menjemputnya pulang. Tetapi hanya percakapan ini yang usai, sedang hubungan antara kami baru saja dimulai.

Pak Hardja masih menghisap rokok kreteknya sambil sesekali mengusap peluh di dahinya, kini kami duduk di beranda samping yang asri, beberapa kali kucuri pandang ke arahnya yang sedang memberi makan ikan-ikan koi yang tumbuh sehat di kolam segar berukuran sedang diseberang kami. Tak lama waktu berselang Bu Hapsari datang seraya membawa beberapa kudapan buatannya sendiri.

“dimakan Nak Bintang, berbincang dengan Mas Win itu memakan waktu lama, jadi perut harus terisi kenyang, jangan sungkan dengan saya...”, ucap Bu Hapsari dengan senyum hangatnya.

“adik saya ini memang ramah sekali dengan orang lain, kemarin dulu ia menawari seorang banci yang sedang ngamen untuk makan siang disini”, sahut Pak Hardja.

Bu Hapsari kembali tersenyum hangat menanggapi perkataan kakaknya, Bu Hapsari memang perempuan paruh baya yang amat ramah, perawakannya yang kecil dan sedikit tambun membuatku mengingat tokoh bu Teko yang baik hati di cerita dongeng si Cantik dan si Buruk Rupa.

Tak sengaja kulihat hiasan disamping sayap kanan dan kiri pintu, lukisan horizontal cat minyak yang menggambarkan dua gerak tarian, pada lukisan di samping sayap kiri pintu, perempuan yang sedang menari itu memegang bokor di tangan kanannya, sedangkan di sayap kanan ia memegang bokor di tangan kirinya—segera saja Bu Hapsari melihat ketertarikanku akan lukisan itu.

“itu lukisan Mas Win untuk Eyang Putri, Eyang Putri seorang gadis Bali yang juga penari, lukisan itu dibuat saat Eyang Putri berulangtahun yang ke-70 tahun”, ujar Bu Hapsari menanggapi rasa tertarikku.

“mungkin itu pula yang membuat saya tertarik dengan Bintang Artha, saya sangat dekat dengan Eyang Putri, sedari kecil Ibu saya sibuk dengan bisnis kateringnya, jadi Eyang Putri bisa dibilang Nanny saya, beliau sering menari untuk saya, gemulai halusnya membuat saya terpana...dan Bintang Artha adalah perempuan kedua yang membuat saya diam menancap karena indahnya”, sambung Pak Hardja seraya melahap kudapan yang tersedia di meja marmer model tua.

Sudah hampir satu bulan semenjak perkenalan kami di Pasar Seni, bukannya aku enggan atau akhirnya merasa cukup puas hanya dengan mengetahui namanya. Namun hujan deras turun setiap malam sehingga pertunjukkan tari terpaksa dipersingkat menjadi sebulan sekali karena sepinya peminat. Sayangnya saat malam pementasan Bintang Artha, aku tidak bisa hadir karena harus disidang semalam suntuk oleh dewan senat yang kontraversi atas aksi bakar lukisan yang kulakukan dipusat keramaian tanpa restu mereka.

Maka kuputuskan malam ini untuk menemuinya di rumah, dengan bermodalkan skuter pinjaman dari Bang Sahal—editorku, aku nekat bertandang kerumahnya... rumah a’la Belanda yang bercat putih pucat dengan 2 anjing kitamani sebagai pengganti satpam. Lama kutimbang-timbang apakah sudah selayaknya aku singgah ke rumahnya, dan pada akhirnya tekadku bulat sudah untuk membunyikan bel rumahnya. Tak lama Bintang datang dengan rambut yang penuh roll dan daster abu-abu panjang; membuatnya seperti perempuan biasa dihadapanku.

Ia tinggal bersama Paman dan Bibinya dari pihak Ibu, kedua orangtuanya sudah lama mangkat, dan mewariskan rumah ini untuk Bintang dan adiknya—bocah laki-laki berwajah tirus yang saat aku datang sedang membuat pekerjaan sekolah.

Kedua orangtuanya meninggal saat Bintang berusia 15 tahun, keinginannya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah terpaksa ditunda karena adiknya lebih membutuhkan pendidikan saat ini. Kepiawaiannya menari ia gunakan untuk membunuh jenuh dan menambah tabungannya untuk meneruskan pendidikan, dan didalam rumah yang penuh dengan kenangan orangtuanya ini, Bintang mencoba mengolah satu demi satu masa depannya.

“menjadi gadis penari itu lebih sulit dari artist manapun Mas Win...”, ujarnya disela-sela obrolan kami yang menarik tentang tarian.

“selalu saja ada pikiran-pikiran usil yang berkutat di kepala sebagian pria-pria yang melihat saya... menganggap olah tubuh yang saya pentaskan sebagai ajang pembangkit birahi”, lanjutnya seraya menatap lekat mata saya...”bagaimana dengan Mas Win???”, tanyanya padaku.

“aku... aku mengagumi tarianmu”, jawabku singkat.

“bukan itu yang kumaksud, apakah Mas Win berpikiran serupa saat melihat saya mentas?”, tanyanya kemudian.

“aku... tidak !!!”, jawabku lalu menunduk karena tak kuasa menatap sinar matanya lebih lekat lagi... Yah aku tidak melihat pementasannya sebagai ajang bangkit birahi, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihatnya menari—diam tak bergeming seperti orang kudus yang sedang syahdu melatunkan do’a untuk Tuhannya yang kelewat sibuk.

Perbincangan tentang kehidupan Pak Hardja kembali berlanjut dimeja makan saat makan siang berlangsung, hanya obrolan ringan yang tak terlalu berat, tentang bagaimana akhirnya ia sempat dipenjara karena salah satu cerita pendeknya yang mengulas kisah nyata salah seorang sahabat yang hilang diculik oleh penguasa saat itu; Kucing Garong judul cerita pendek kontraversi yang diterbitkan oleh salah satu koran ternama kala itu. Kalau hanya fiksi belaka mungkin tidak akan mengundangnya masuk bui, namun nama Pak Harto yang diganti dengan Pak Darto digambarkan persis serupa beserta detail pangkat dan kehidupan pibadinya yang lain, cerita pendek ini bahkan banyak digubah ke dalam beberapa pementasan drama bawah tanah yang juga muak dengan sistem militer. Karena ketenarannya inilah, sang penulis berhak masuk Hotel Prodeo dengan alasan menghina Presiden; ya Presiden yang juga membuat hidup kami hina selama seperempat abad.

“Mas Win ini memang unik Nak Bintang... dia itu punya hobby masuk bui kata Bapak”, ujar Bu Hapsari berkelakar.

“iya, saya ingat Bapak pernah sekali berkata demikian kepada saya... kamu itu hobby masuk bui Win, bikin susah orangtua saja !!! Bapak saya itu kepala sekolah SMA, jadi ya pegawai negeri... golongan orang-orang pasrah yang mau saja disuruh coblos partai kuning karena takut dituduh PKI”, tukas Pak Hardja kemudian.

Kali keberapa ia masuk bui ialah saat membuat cerita pendek berjudul Partai Kuning, partai yang berkuasa penuh saat kepemimpinan Pak Harto, Partai yang berwarna dasar kuning itu digambarkan oleh Pak Hardja sebagai kumpulan kotoran manusia yang menyaru bersih dan mengotori negara. Saat cerpen itu akhirnya terbit di salah satu majalah, Pak Hardja harus merasakan bagaimana sakitnya dipukul senjata tumpul dan diguyur kotoran manusia satu ember penuh dilorong menuju rumah Bintang Artha. Kala itu hubungan Pak Hardja dengan Bintang Artha sudah semakin dekat dan serius, aku tidak bisa membayangkan kalau Kites, kekasihku—harus merasakan perlakuan serupa dengannya, bisa-bisa aku mencak-mencak tak keruan sepanjang minggu.

+ + +

Obrolan kami lanjutkan didalam studio milik Pak Hardja, dahulu ruangan itu merupakan ruang kerja milik almarhum suami Bu Hapsari. Kini ruangan tersebut diubah menjadi studio lukisan—tempat dimana Pak Hardja menyelesaikan lukisannya. Dari studio ini bisa kulihat seberapa besar rasa kagum dan kecintaannya terhadap Bintang Artha, juga entah mengapa selalu datang perasaan berdesir saat kulihat lukisan itu—lukisan yang selalu menggambarkan objeknya dari samping. Sedari tadi kupikirkan, mengapa nama kami dapat serupa... Bintang Artha, apakah ibuku salah satu pengagumnya atau mungkin ia teman terdekat ibu, setahuku ibu menamakanku Bintang Artha karena kedekatannya dengan arti nama tersebut—tak pernah sekalipun ia jelaskan arti nama itu sendiri... Sementara aku melihat lukisan-lukisan Bintang Artha, Pak Hardja berkutat membuat campuran cat minyak untuk sebuah lukisan yang sedang ia kerjakan, terkadang aku melihatnya sebagai sosok yang selama ini aku rindukan—entah mengapa, lagi-lagi imajinasi yang sebelumnya kutahan hadir memaksa masuk, lagi-lagi kenangan akan ibu yang semakin merajah tubuhku mendobrak masuk kedalam otakku yang sudah terlalu penuh dihuni oleh seribu pikiran tidak masuk akal.

Bintang Artha... yah namaku Bintang Artha, dan nama yang perempuan yang membuat Pak Hardja jatuh hati juga Bintang Artha, gadis penari yang ia gambarkan bagai Dewi, beruntungkah ia dapat dicintai oleh pria yang begitu populis atau meranakah ia karena harus menerima deraan terus-menerus karena kekritisan kekasihnya, namun dibalik semua pertanyaan itu, hanya satu yang mengganjal pikiranku, dimanakah ia sekarang ?.

Siang ini terik matahari menyapa lagi, dengan berjalan lunglai aku menghampiri Bintang Artha yang sedari tadi menungguku di taman depan perpustakaan kampus. Dua tahun sudah hubungan kami terjalin, dan kebahagiaan seakan tak habis diberikan Tuhan oleh kami. Bahkan keberhasilan Bintang Artha dalam hampir seluruh pementasannya tak urung membuat kami merasa bertambah bahagia, tak pernah sekalipun dalam hidupku, kurasakan kekaguman dan kecintaan yang begitu menyatu dan melebur dalam suatu romansa yang kelewat indah.

“Mas Win... ada yang ingin kusampaikan padamu”, ujarnya saat kuraba halus jemarinya.

“ada apa, katakan saja...”.

“aku... sudah lama ingin kukatakan ini padamu, sudah lama ingin kusampaikan semua perihal hidupku, dan sudah lama pula aku ingin meminta bantuanmu, tetapi...”.

“tapi apa, kau kekasihku, aku patut untuk tahu”.

Bintang Artha terdiam dan menggulirkan setetes airmata di pipinya. Aku mungkin bintang, tapi bukan bintang yang tak pernah dijamah seperti bintang-bintang lain di angkasa—ucapnya tercekat. Latar belakangku hitam, sudah beratus-ratus kali kutampik, namun tak bisa kuelakkan bahwa aku sudah tidak memiliki harta yang dijaga oleh seluruh perempuan di muka bumi ini. Malam itu tanggal 2 Oktober tahun 1965, mungkin semua orang tahu persis apa yang terjadi pada hari itu di daerah Jawa Tengah, dan aku salah satunya. Ibuku juga seorang penari; penari yang tergabung dalam Gerwani, aku dan adikku bangga memiliki darah seorang wanita pejuang, sayang mereka berpikir kalau Gerwani cuma organisasi yang berisi perempuan-perempuan penari telanjang yang menari sambil diiringi Genjer-Genjer. Dan malam itu, bapak dan ibuku diambil—kami diambil, malam dimana aku memohon dengan sangat untuk ikut ditembak dengan kedua orangtuaku, daripada harus berada di atas himpitan seorang perwira hidung belang yang juga masih kerabat dekat Bapak. Selama 2 tahun aku dan adik terlunta-lunta, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, meringkuk kedinginan di atas truk tentara ditengah malam yang dingin mencekam, sampai akhirnya Paman dari pihak ibu yang juga anggota tentara mengambilku dan adik, mengurus kami yang trauma setengah mati saat memasuki rumah asing, yang kuakui sebagai rumah pribadi yang diwariskan padaku.

“sungguh ingin kukubur semuanya, tertimbun rapat dan hampa udara...”.

“tapi untuk apa???”.

“aku ingin sepertimu... manusia biasa”.

“yang mencoba menjadi luar biasa”.

+ + +

“Dimana Bintang Artha sekarang, Bapak?”, tanyaku mencoba memberanikan diri mengajukan isi otakku.

“Entahlah, aku tidak pernah bertemu dengannya semenjak... semenjak kami berpisah.”.

Pada akhir tahun 1977, Pak Hardja dan kekasih yang paling dicintainya berpisah, mereka berpisah tepat di depan Gedung Pasar Seni, yang juga tempat dimana mereka dipertemukan oleh keajaiban. Saat itu situasi kehidupan Pak Hardja tambah tak keruan, menyusul dampak dari hasil karangannya yang berjudul Partai Kuning, Pak Hardja harus merasakan bagaimana hidup ditengah keterasingan. Saat itu Bapak Negara kita bukan hanya dengan mudah mengubah kehidupan ekonomi dan pendidikan bagi warganya—tapi juga dengan mudah menyingkirkan orang-orang yang mengancam imperium tak kasat yang ia bangun. Pada sore yang hangat di bulan Desember, seorang teman seperjuangan memperingatinya bahwa ia akan kembali masuk bui karena selebaran yang tersebar di seluruh penjuru kota tentang Partai Kuning yang ia buat. Dan penangkapan kali ini tidak akan membuat hidupnya merasakan matahari dari dua sisi lagi, atas dukungan para sahabat—Pak Hardja diminta mengasingkan diri.

“Kala itu, kalau tidak mati yang disiksa sampai ingin mati”,ujar Pak Hardja sambil terus melukis. Dan Bintang Artha tak dapat menahan haru namun juga tak kuasa menahan kekasihnya lebih lama tinggal di Indonesia.

“Saya bilang saya harus pergi padanya, ia menangis—seperti biasa namun tangisnya hening tak bersuara, ia cuma diam... diam dan hanya mengucap satu kata”, tukas Pak Hardja sambil membenarkan letak kacamatanya.

“Aku harus pergi, situasi mulai tidak kondusif disini.”ucapku.

“ya aku tahu Mas”.

“katakan sesuatu, katakan sesuatu untuk menenangkanku...”

“katakan sesuatu sebelum aku pergi...”

Saat ini waktuku terbatas, waktuku sangat terbatas ketika menggenggam tangannya, penerbangan menuju pengasinganku tinggal satu jam lagi, dan Bintang Artha masih tetap diam—menggantung sayu dalam pelukanku. Selang berapa waktu, Bang Sahal yang akan mengantarku sampai ke Belanda, memanggilku karena memang aku sudah harus berangkat. Tetapi hatiku berat, karena Bintang Artha masih tak bergeming.

“aku harus pergi...”

“aku,,,,”

“sampai jumpa.”

“Dan Bintang Artha tidak berkata apapun sampai akhir keberangkatan saya, hanya kata itu, aku... menggantung berarti namun tak dapat kutangkap artinya”.ujar Pak Hardja

“Anda tidak tahu?”, tanyaku penasaran.

“kamu pernah membaca novel saya yang berjudul Biru?”, balas Pak Hardja bertanya.

“ya, sebelum berangkat kerumah Bapak hari ini”.

“Karena saat kau dekat aku akhirnya jauh...Karena saat kau ingat aku akhirnya lupa...Karena saat kau cinta aku akhirnya benci…Karena saat kau datang aku akhirnya pergi,,,”.

“Karena saat kau tulis titik aku berakhir dengan koma...Karena kalimatnya belum selesai—sampai sekarang...”

“kalimatnya belum ia selesaikan Bapak”, lanjutku.

“itu bukan puisi saya, itu puisinya dalam surat pertama dan terakhir yang ia berikan pada saya pada tanggal 30 Juli 1978, puisi yang saya sisipkan dalam sebuah novel untuknya”.

+ + +

Citrawati menatap lekat photo pria bertubuh tegap dan berkulit cerah itu—entah untuk yang keberapa kali dalam sehari ini. Pesonanya yang hampir 25 tahun dicobanya untuk dikubur hidup-hidup, tetap meninggalkan sisa-sisa kejayaan sampai sekarang. Berulang kali ia mencoba menghapus ingatan akan pria itu, namun hasil kasih mereka begitu mengingatkannya dengan parasnya sewaktu muda dulu, dan wataknya begitu mirip kau Mas—bathin Citrawati, kali ini tanpa tangis yang biasa. Pikirannya menerawang ke masa ia masih muda dulu, tubuhnya yang begitu gempal dan tariannya yang begitu halus, mengundang banyak peminat yang memang saat itu sedang makmur namun sengsara pada kenyataaanya. Dan pria yang disimpannya erat di sudut hatinya yang paling dalam adalah satu-satunya peminat yang berhasil memikat hati Citrawati, seorang pelukis yang juga gemar menulis dan protes dengan sistem yang berlaku, aku begitu mencintainya, begitu mengaguminya, begitu bangga padanya, walau saat dunia nyata mengetuk pagi hari hidup kami, ketakutan selalu menjalar cepat dalam aliran darahku. Tak kuasa kulepas malam indah yang meninabobokan kami dalam buaian mimpi, pergi begitu saja saat sang Dewa Surya harus kembali bertahta. Aku tahu hari itu akan datang, hari dimana ia harus kulepas pergi untuk menyelamatkan nyawanya, untuk menyelamatkan nyawa kami—untuk yang kesekian kalinya, aku harus berpisah dengan pelipur laraku demi hidupku. Saat itu sebenarnya aku sedang mengandung, tapi Bang Sahal melarangku untuk memberitahunya, khawatir ia akan menolak rencana untuk tinggal di Belanda sementara waktu, sedangkan jika penolakan itu dilakukannya, nyawanya terancam—hidupnya dan hidupku juga hidup jabang bayi ini terancam. Maka kukunci rapat perihal ini darinya, menggantung kata aku saat kepergiannya.

Kebahagiaan itu tak semuanya hilang begitu saja di depan mataku, 9 bulan setelah kepergiannya, putri pertama kami lahir, lahir dengan sehat dan sempurna. Lahir di malam sejuk pada tanggal 29 Juli yang penuh bintang pukul 22.30 di kediaman paman dan bibiku. Tak kuasa aku menahan haru, tak kuasa aku berteriak memanggil namanya, berharap kencangnya suara yang kukeluarkan menembus dinding keratonmu Tuhan, mewujudkan mimpiku untuk kembali bersamanya. Namun sampai detik dimana Bintang Artha kubuatkan akte kelahiran, ia tak juga kunjung muncul dan menjadi Ayah dari putri mungil kami. Perihalmu sangat ingin kuceritakan padanya, Mas—bathinku lagi, namun lagi-lagi penguasa-pengusa bangsat itu memaksaku mengurungkan niatku, aku khawatir Bintang Artha menderita, lahir dari seorang ibu yang anak dari keluarga PKI dan Ayah yang buronan politik. Ia tak mungkin berhasil seperti sekarang apabila identitasnya tak kupalsukan—identitasku tak kupalsukan. Setahun setelah kepergianmu, Bang Sahal dan Hapsari membantuku memalsukan identitas diriku supaya aku bisa memiliki KTP dan membuatkan Bintang Artha akte kelahiran, walau didalamnya namamu tak dapat kucantumkan. Dan aku.... yah aku tetap Bintang Artha yang dulu, hanya kuganti namaku menjadi Citrawati, dan aku-pun berhenti menari. Aku tak kuasa memendam kenangan itu setiap kali melihat dan beraktifitas di Pasar Seni, segala memori itu berawal dan berakhir disana, disana kau datang dan disana pula kau pergi meningalkanku.

Citrawati menghela napasnya dalam, berharap saat akhirnya napas itu berhenti, kekasihnya ada disampingnya untuk membantunya mengucap kalimat syahadat, berharap di akhir hidupnya ia bisa melihat keluarganya berkumpul, berharap Bintang akhirnya menemukan seseorang yang seharusnya ia panggil Ayah. Namun sekali lagi, impian itu harus musnah dari akal sehatnya, ia tak mungkin dapat menemukan kekasihnya, kemungkin besar ia telah meninggal duniat atau identitasnya-pun diganti, walau ia tahu kekasihnya tidak sepengecut dirinya. Dipenghujung rasa sakit dan deritanya malam ini—ditaruhnya photo usang itu dalam tempat semula—Novel Biru karangan kekasihnya yang memang diperuntukkan olehnya.

+ + +

Aku diam kudus menabur bunga di pusara ibu, ia tak pernah berkata apapun perihal Hepatitis yang di deritanya, ia bahkan tak pernah mengeluh kesakitan padaku. Andai aku tahu, kesehatannya memburuk semenjak kelahiranku, aku mungkin berharap untuk mati dalam perutnya. Perempuan tangguh ini akhirnya harus menghembuskan napas terakhirnya sendirian, aku menyesal saat dimana aku seharusnya menggenggam jemari ibu dan mengecup keningnya untuk kehangatan terakhir sebelum ia mangkat—aku berada di tempat lain, sibuk mengerjakan proyek penerbitan buku novel Hardjawinata Kartha Winangun yang terbaru. Aku tak pernah tahu keinginan seorang Citrawati—keinginan ibu, segalanya tersembunyi di matanya, dan mata itu disembunyikannya erat-erat dari pandanganku. Hanya secarik kertas ini peninggalannya untukku, segalanya yang belum sempat ia kemukakan padaku, hanya dibingkainya dalam puisi singkat yang ditaruhnya di meja komputer di ruang tengah—tempat dimana aku menghabiskan malamku mengerjakan tugas kantor.

Biarlah yang gelap menjadi gelap

Karena inginku yang selalu meringkuk pekat

Biarlah dosa ini menjadi dosa

Karena mauku sesal ini seumur hidup

Biarlah yang palsu tetap palsu

Karena harusku menyaru dalam nama baru

Dan Biarlah yang menjadi rahasia tetap rahasia

Karena takdirku diam tercekat bersembunyi.

Kembali aku mengusap batu nisan di pusara ibu, disana tertoreh jelas namanya—Citrawati Husein binti Abdul Husein, 25 Desember 1955-30 Juli 2005. Iya... ini bahkan lebih dramatis dari sinetron manapun yang ditayangkan di televisi. Kenapa kau begitu murah hati menjemput ibuku pergi, tepat 1 hari setelah hari jadiku, tepat satu hari setelah ia mencium kening dan pipiku lalu memelukku erat di malam 29 Juli. Apakah Kau tidak miris atau bahkan mungkin puas dengan semuanya, dengan lakon sempurna ini, sekali lagi !!!

Wednesday, May 23, 2007

L E B U R


Secarik kertas kutemukan dalam lipatan pakaian dalamku di lemari, entah tulisan siapa? Atau kiriman siapa?, tapi siapa yang berani menaruh secarik kertas dalam pakaian dalam yang terlipat rapih oleh si bibi.... mana mungkin si bibi iseng mengirimkan penggalan kalimat itu kepadaku dalam balutan pakaian dalam. Ah... aku bingung, benar-benar bingung... lalu mulai menggumamkan kata perkata dalam kalimat tersebut, karena matahari takkan bersinar selamanya—kenapa kalimat ini begitu familiar di telingaku, seakan telah berulang kali kudengar seseorang berbisik di telingaku, tapi siapa? Mengapa bisa aku terbangun pagi ini lalu lupa, lupa akan apa? Akan segalanya yang terjadi semalam.

Malam ini begitu gelap, dan bulan temaram bertengger indah dalam langit yang hanya didominasi satu warna,,, biru pekat !!! Begitu senyap dan sunyi, seperti hari kemarin, aku hanya termangu menatap bulan yang tak bosan bosannya berganti shift jaga dengan matahari. Tepat jam 9 malam, kutemukan sesuatu dalam keremangan lampu taman, ia bernyawa dan berputar tanpa henti, raut wajahnya mengulas senyum nyaman yang selalu kuinginkan, lebur tariannya merajah hingga hatiku terasa sesak akan bahagia yang terlalu meluap-luap, seakan tak pernah lagi aku hidup dan merasakan segala kebodohan lakon duniawi yang disutradarai-Nya jauh dari sana. Kuhampiri ia yang kini menghimpitkan seluruh permukaan tubuhnya ke badanku. Kami menari bersama, tarian indah yang bahkan tak pernah kusadari keberadaannya, dalam temaram cahaya bulan kulihat wajahnya yang begitu kudus menjiwai tarian kami, himpitan tubuhnya semakin lekat hingga bisa kuhirup harum aroma tubuhnya, pheromon yang kuat darinya membangkitkan birahi yang telah kian lama kupendam, kurabarasakan seluruh sentuhan yang membuatku kian jatuh tak bernyawa, diam dan rasakanlah—bisiknya lembut, hanya itu yang ingin aku dapatkan darimu malam ini—lanjutnya, mengapa hanya satu malam—tanyaku gusar, jangan bodoh aku datang setiap malam—jawabnya, tapi tak pernah kautemukan karena kau selalu menampik kehadiran sesuatu yang lain selain dirimu—lanjutnya seraya menempelkan bibirnya yang lembut ke bibirku, menciumnya kuat dan bernafsu, nafasku dan nafasnya melebur dalam satu tarian yang tak ingin kuselesaikan. Birahi ini tak ingin kuselesaikan, aku ingin terus melakukannya, bersamanya, lenguhan kami seakan melodi indah yang selama ini ingin kualunkan dalam hidupku. Himpitan tubuhnya semakin kurasakan, dan ketika kami akhirnya menjadi benar-benar satu, ia lenyap, masuk kedalam tubuhku, menggeliat geli. MELEBUR !!!




Kalimat itu kini datang lagi setelah sekian kenangan yang hampir musnah satu persatu dalam hidupku. Setiap malam yang kulewati seakan seperti... bahkan hembusan angin pun dapat kurasakan kehadirannya. Kini kalimat itu hadir dalam buku catatan kuliahku, terselip diantara sejumlah teori-teori busuk akan pembenaran kejahatan, yang sesungguhnya hanya salah satu dari bentuk terkikisnya humanisme seorang manusia. Dan aku salah satu dari mereka , mereka yang membenarkan teori pembenaran akan segala sesuatu yang absurd di dunia. Kubaca lagi kalimat tersebut, rasa penasaran seakan kembali membuncah dalam otakku kini. Ingin kuhiraukan saja, tapi ia selalu berhasil datang kala proses pencucian otak ini berhasil. Namun kalimat itu beriku sejuta harapan yang selama ini aku cari, entah mengapa, ia seperti menggelitik sudut hatiku yang tertutup rapat akan keajaiban, mungkinkah ini pertanda usainya penderitaanku selama ini, tapi mana mungkin Tuhan beriku signal, Ia tidak hanya mengurusi satu mahluk, terlalu banyak justru—sehingga aku hanya satu dari sekian kutu busuk yang diperalat untuk mewujudkan ide kreatif-Nya setiap hari.

Dalam kesenyapan heningku di ruangan tertutup tempat dimana para manusia biasa menguras segala sampah hasil olah tubuhnya, kutemukan kembali ia yang selalu hadir ditengah segala kekuduskan yang aku alami. Kini ia berada diseberangku, tepat dihadapan cermin yang kutatap, wajahnya yang terkena pancaran lampu menyiratkan sejuta makna yang hendak kutanyakan namun tertahan di ujung lidah—riskan untuk terucap. Dalam alunan yang kami ciptakan, ia kembali mengajakku menikmati melodi lara yang selama ini mengungkungku atas segala hasrat, menuntunku melepas semua kenangan akan ketakutan yang tertoreh jelas dalam alur tubuhku. Lepaskan—kembali kunikmati suaranya. Apa yang harus terlepas, biarlah lepas—ujarnya kembali. Aku tidak perlu melepaskan apapun—jawabku angkuh. Aku Matahari_aku dibutuhkan alih-alih membutuhkan—lanjutku. Namun ia terdiam dan menyenandungkan kata atas sepenggal kalimat yang selalu terngiang dalam sepanjang hariku. Karena Matahari takkan bersinar selamanya... gumamnya lirih tetapi membangkitkan gairahku. Siapakah engkau, dengan segenap hasrat penantian, hadirmu seakan selalu kuimpikan, tapi mengapa hanya kau satu-satunya yang beriku kebebasan dan pemenuhan kebutuhan, bukankah aku Matahari_lalu mengapa aku membutuhkanmu. Kau tak mungkin Lucifer, atau Brahman, kau hanya seseorang yang selalu kunantikan. Manusia yang bantuku lepas semua beban di pundakku. Bantu aku, tarik aku dari segala angkuh yang selama ini merajaiku...........................

Tawa sekumpulan junior dalam bilik toilet membangunkanku dari... apa yang tadi kulakukan, aku seakan kehilangan satu jam waktu dalam hidupku. Ingin kupaksakan otak dan segenap organ dalam tubuhku untuk mengingatkan kemana perginya waktu selama satu jam. Namun mereka seakan enggan, dan hanya berkata biarlah yang hilang seperti hilang, tak perlu kucemaskan kemana perginya waktu, kala ia tidak mengijinkan untuk diketahui. Namun dalam genggamanku kembali kutemukan secarik kertas penggalan kalimat itu, kini tepat dalam genggamanku, kertas putih lusuh bertoreh tinta hitam. Sepenggal kalimat yang selalu datang secara mistrerius dalam hidupku. Kenapa? Apa yang terjadi denganku? Mungkinkah aku sudah gila? Seperti yang selalu dikatakan Ayah... aku mewarisi darah ibuku—darah seorang pesakitan.



Ya bawa aku, siapapun yang telah sudi menuliskan penggalan kalimat ini, dan memberikan padaku—bawalah aku, sebelum aku jenuh dan berakhir beku, mati pengap minta udara segar. Selama ini himpitan kesengsaraan seakan menjegalku, menghantam setiap sudut tubuhku kala aku ingin berbaring sejenak—lepas dari semua superior yang kumiliki. Namun siapa, siapa yang sudi terima permohonanku,,, siapa yang sudi beriku mimpi lalu suguhkan nyata—bahkan ia yang menjadi Ayahku selalu menatap enggan ke arahku.

“Maaf... tadi disini ada yang lain gak selain kita”, tanyaku kepada salah satu junior yang kini sedang merapihkan rambutnya yang terkucir.

“perasaan cuma ada kita-kita sama situ, gak ada yang lain kok !”, jawabnya singkat.

“makasih yah”, balasku sambil lalu.

Benarkah hanya ada aku dan mereka, tapi aku melihatnya, aku merasakannya, senyata kertas yang kuremas dalam genggamanku saat ini, tapi mengapa mereka berkata ia tak ada... ataukah ia hanya bayanganku saja, My other imagination !!!

Apakah aku seperti mimpi saat kaubiarkan tubuhku menyatu denganmu—ujarnya berbisik ditengah riuhnya suara orang-orang yang berlalu-lalang sepanjang koridor fakultas, tidak_kau senyata jari jemariku—jawabku tanpa memandangnya, lalu kenapa kau ragukan keberadaanku, I’ve no doubt about you—ujarnya sekali lagi sambil membelai ujung rambutku, aku... aku bingung akan kalimat itu—jawabku sungkan, tak perlu kau risaukan_resapilah seperti air meresapi setiap gulir yang dibuatnya—katanya lalu mengecup leherku dan pergi lagi, entah kemana, aku menghiraukannya.

Aku tersadar ketika seseorang dari arah yang berlawanan, menjatuhkan semua buku-buku yang kubawa. Ia begitu rupawan—kecantikan dan ketampanan menjadi satu, melebur kedalam wajah penuh keteduhan, tersadar bahwa ia adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang pernah jatuh gila memelas sedikit kasih dariku... dari seorang Matahari !!! aku meneruskan langkahku, namun terhenti sejenak memandang kesejukan tatapan yang menyaru dalam kehitaman pekat bola matanya.

same old shit Matahari huh ?!?”, ujarnya memandangku tanpa arti yang dapat kuruak.

who the hell are you thinkin’ ???”, jawabku lunak namun keras.

better person, but I might be wrong... U’ll never chance—nooit licht !!!”, ucapnya kali ini sambil berlalu.

Ingin kukerahkan segala tenaga untuk menutup usai semua keangkuhan yang hampir merajam setiap inchi napas dan kata-kata yang keluar dan mengalir dari lubang kehidupan. Namun semua kemampuan yang kupugar hanya bertahan sebentar hingga akhirnya jatuh runtuh di hadapan otak kananku. I’am Same Old Shit Matahari, never chance !!! karena takkan adalah sumpah mati seumur hidup.

+ + +


Ayolah bangun... bangun dari kematian akan tidur panjang. Sudah terlalu lama kupendam segala hasrat untuk lepaskan yang harus terlepaskan. Kendati segala ilmu yang kupunya kukerahkan, alih-alih membuatku kuat, hanya berbalik tertawa atas kebodohan yang kubangun di hadapan istanaku sendiri. Darimana datangnya secarik kertas dengan kalimat penggugah semangat ini, darimana jika bukan dari tangan suci seseorang yang rela membantu melepaskan beban dalam vena tubuhku. Benarkah kau malaikat pelindungku ???? Atau bahkan jika kau hanya iblis malam yang dengan senang hati menginginkan jiwaku, akan kujual dengan penawaran terendah yang pernah ada. Lalu kemana perginya bayanganmu setiap kali kubutuhkan kali ini, mungkinkah malam-malam yang kita lewatkan bersama hanya salah satu dari angan konyol yang selama ini menuntunku menjadi seorang pemimpi yang taat. Aku ingin kau datang, memeluk erat tubuh usang yang selalu melas minta tenaga. Aku ingin kau datang, mencium setiap harum aroma tubuh yang keluar lewat semua panca indera yang kupunya. Aku ingin kau datang, mengambil apa yang hendak kaumiliki. Aku ingin kau datang,,,,, Ain’t You heard my scream !!!. Datanglah padaku kali ini bayangan, datanglah menjelang dahaga yang tercekat untuk kesekian kalinya.............
Cukup... bahkan langit ketujuh terusik karena teriakanmu—kini kau datang dengan datar, kemana kau pergi ?—tanyaku, kedalam sukmamu—jawabnya diam namun terlintas dari mata yang menohok ulu hatiku, bohong !!!—ucapku mendekat dan menyetuh ujung jemarinya, kalau ada dalam sukma, kau bisa kukendalikan seperti yang lain, pikirku. I’am over controlled_kerena hendakmu bukan inginku—ucapnya seakan membaca lubuk hatiku, kau tahu apa yang tak terucap—tanyaku, karena aku adalah kamu_karena kita adalah satu... satu takkan terbelah walau mungkin terpecah—jawabnya disusul dengan keheningan dan rasa kehilangan yang semakin meraja. Ia pergi lagi, masuk kedalam entah darimana, entah lewat celah yang mana, bahkan aku awam dengan anatomi tubuhku.

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku – *

Jiwaku seakan tahu apa yang diharapkan oleh tuannya, tanpa sadar jari jemariku menulisi seluruh dinding kamarku dengan syair lantunan Al-Hallaj, sampai letih membekukan otot bisep dan trisepku. Seluruh dinding kini tertutup oleh kata-kata indah, refleksi do’a yang belum sempat kukatakan pada-Nya.

“Gadis gila !!! Apa yang kaulakukan dalam rumahku ???”, Ayahku datang disaat yang tak pernah sanggup kunantikan.

“Ini rumahku juga, rumah peninggalan ibuku, rumahku karena ini rumahmu, rumah Ayah !!!”, seruku lantang.

“Kau gila, pesakitan seperti Ibumu, aku tahu semenjak kutemukan kau dalam inkubator, kau pasti gila, kau mewarisi darahnya. Darah seorang pesakitan !!!”, Ayah membalas seruanku dengan kencang hampir membuat telingaku pecah.

“Tapi aku mewarisimu, aku mewarisi legam rambutmu, aku anakmu, anak yang entah mengapa enggan kausentuh... Aku Matahari Ayah, Matahari yang akan bersinar selamanya !!!”, kukatakan ini dengan tegas seraya beringsut pergi meninggalkan Ayah dalam gamang, sunyi meliputi seluruh bangunan indah yang kusebut rumah selama 24 tahun, sepi... disini sepi, aku pengap Tuhan, aku sudah tak tahan, ambil aku sebelum membujur dalam balutan kemewahan semu yang kuelakkan.

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

Do’a itu kembali kulantunkan, ditengan sergapan seluruh bodyguard Ayah, yang kini menyeretku menuju mobil putih yang berpendar-pendar pada bagian atasnya, tak dapat kuingat apa yang kulakukan, mereka datang lalu memberiku suntikan hingga ku terasa ringan, terbang menuju keabadian sementara, tempatku singgah menuju hidup yang sempurna. Lalu kau datang lagi dengan senyum sejuk disebelahku, membisikkan sedikit kata cinta untuk selanjutnya mengecup keningku. Aku lelah, aku minta udara, aku susah aku merana !!! Kemana Matahari yang dulu ada, kemana diriku pergi ???




Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutku yang selalu tercekat... kau bilang aku akan pergi, dibawa jauh dimana tak seorang-pun mengenalku. Berhenti bersinar untuk rasakan sinar dari dua sisi dunia. Benarkah ?!? aku skeptis ada yang sanggup bawaku pergi dari dunia yang selalu menguras seluruh kalor yang kumiliki,,, tidak... takkan ada yang berdusta dengan Matahari, tidak jika mereka masih membutuhkanku dan belum menemukan penggantiku.

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

Pandanganku kabur, kakiku lemas seakan sudah berjam-jam aku berdiri disini, di jalan setapak sepi yang tak ada seorangpun beraktifitas disini. Kepalaku pusing bukan kepalang, degup jantungku berirama tak beraturan, sepertinya sepersekian detik kemudian jantungku lepas dan luluh lantak di tanah merah yang kuinjak. Lalu kulihat suara deru kendaraan dari kejauhan, kulihat seorang wanita diantara 3 pria bertubuh kekar, mereka seperti sedang bernegosiasi, kuhampiri namun mereka acuh, menghiraukan kata-kataku yang musnah tertelan debu dan udara. Wanita itu memohon, minta diberi kesempatan sekali lagi, pria-pria besar tertawa—hampir kaget aku dibuatnya, tawa mereka penuh laknat dunia. Wanita itu kembali memohon, memohon untuk diberi kesempatan kedua kali, pria-pria besar itu kembali tertawa, namun salah satu dari pria besar yang wajahnya bermandikan peluh menghampiri lalu memukul wanita itu.

“Lu pikir ini dunia punya engkong lu, bisa diputer balik seenak udel lu hah ?!!”, ujar sang pria besar penuh peluh dengan suara kencang.

“Bang... gue janji, gue gak bakal lari lagi Bang, tapi jangan siksa gue Bang, gue janji, gue gak bakal lari lagi...”, wanita itu kembali memelas.

“Lu kagak tau diutung, udah kita kasih makan dari orok, lu malah bikin malu kita, bikin malu keluarga, dasar betina !!!”, kali ini pria besar dengan wajah yang dipenuhi bulu janggut kasar menjambak wanita itu sambil memukulnya sekali lagi.

“Bang... maapin gue Bang, gue khilaf Bang... maapin gue Bang !!!”, wanita itu memohon sambil memegangi lutut pria besar dengan janggut kasar, tetapi ditendangnya perut wanita itu hingga jatuh terpelanting.

“Betina bunting... lu udah cacat !!! Kagak bakal bisa diapa-apain lagi...”, pria penuh peluh kembali berteriak.

Sedari tadi pria besar dengan jambang panjang dan wajah yang kelihatan selalu berseri hanya terdiam menatap kedua orang dihadapannya memukul dan menendang wanita itu. Aku meronta untuk menolong wanita tersebut, namun aku seakan tak kasat, aku bahkan tak bisa merasakan kulitnya, apakah aku sudah tiada, lalu siapa aku dan mengapa aku disini ??? Pikiran itu berkecamuk, namun kucoba hentikan untuk berkonsentrasi membantu wanita itu—walau hasilnya selalu nihil. Pria besar dengan jambang panjang yang hanya sumbang suara tawa itu sepertinya kukenal, ia tertawa diatas miris yang pekat kurasa.

“Bang Oddy... tolong gue Bang... tolong maapin gue, tolong kasih gue kesempatan...”, wanita itu meronta ke arah pria besar dengan jambang panjang, sayup-sayup kudengar ia memanggil lelaki itu dengan nama yang familiar di telingaku... Oddy... yah Oddy—nama Ayah !!!

Tapi mengapa ada Ayah disini, dan ia begitu tampak muda, tubuhnya yang gempal, kulitnya yang kuning cerah tak pernah kulihat sejak aku pertama kali melihat manusia di bumi ini, tidak pernah kulihat semenjak aku untuk pertama kalinya memanggilnya Ayah, walau satu kali-pun aku tidak pernah mendengar keinginannya untuk dipanggil Ayah.

“Lu minta tolong ama Bang Oddy juga percuma, ato lu mau minta tolong ama Tuhan sekalipun percuma Matahari... kagak bakal ada yang bisa nolong lu sekarang, kesalahan lu fatal, lu bunting dan lu kagak bakal bisa dijual sekarang....”, suara serak milik pria berjanggut membangunkanku dari lamunan selintas.

“Sekarang bilang sama gua Matahari... siapa yang bikin lu bunting, kagak mungkin pelanggan, kagak mungkin karna tiap kali lo selesai lo selalu minum jamu yang Bang Wira kasih, jadi siapa yang bikin lu bunting !??”, kali ini suara Ayah yang tampak marah terdengar, suaranya sangat tegas, suara pertama yang terdengar ketika aku pertama kali bisa mendengar.

“Kagak tau Bang, gue kagak tau siapa namanya... sumpah bang... gue kagak tau !!!”, jawab wanita itu sambil tersedu.

“Lu tuh tolol apa dongo... mana ada orang hamil tapi kagak tau siapa yang bikin. Siti Maryam aja tau kalo dia dibuntingin ama Tuhan !!! Masa lu kagak ?!?”, kali ini pria besar penuh peluh kembali geram dan meludahi wajah wanita itu.

Tiba-tiba Bang Oddy yang sedari tadi hanya berpangku tangan mendekat ke arah wanita itu dan memukulnya keras, sangat keras sehingga aku seakan merasakan kesakitan yang dialaminya, pukulan itu membuat wanita itu terhuyung dan jatuh terbujur penuh darah, merintih minta sedikit tenaga pada Tuhan, namun Ia sedang sibuk entah dengan siapa, karna sampai detik semua penglihatanku mengabur, rasa sakit dan pilu wanita yang bernama sama denganku itu tetap menyesakkan dadaku.

Untuk pertama kalinya Matahari dengarkanlah aku, dengarkanlah ceritaku... tentang asal usulmu yang selalu kelabu. Mungkin sudah lama ingin kautanyakan padaku tapi kau sama seperti ibumu, memilih diam daripada harus menelan pil pahit deraan yang akan kuberikan. Aku—seperti yang selalu kuteriakkan padamu, bukanlah Ayah, bukan Ayah yang selama ini selalu kaupanggil Ayah, bukan Ayah yang spermanya menjadikanmu seorang manusia, bukan Ayah yang mencintai ibumu lalu melebur dan menjadikanmu. Aku pamanmu, kakak tiri ibumu... ibumu seperti juga ibuku dan kau adalah wanita pendiam, mungkin sebenarnya bukan keinginan mereka atau kau untuk menjadi diam, tapi kalian memilih diam untuk bertahan hidup. Ayahku seorang juragan cabai terkaya di desaku, kehidupanku dan kedua adikku bahagia sampai ibumu lahir di usiaku yang ke-25, terlahir saat usia Bapakku yang berusia 50 tahun sudah tidak mampu berereksi dan ibuku yang masih segar di usia 40 tahun, cantik, bertubuh gempal, berkulit halus sehalus kulitmu kini—ia yang seorang mantan penari ronggeng masih diminati oleh banyak pria, bahkan ketika ia sudah beranak tiga. Seluruh keluarga bingung, Bapakku yang impoten dan tak punya muka semenjak penyakit itu dideritanya—hanya menatap haru ke arah ibumu, bayi mungil berkulit bersih dan berhidung bangir, hingga akhir hayatnya setelah kematian ibuku yang berjuang keras melahirkan ibumu tanpa bantuan siapapun termasuk para babu, Bapak tidak pernah berbicara_tidak sepenggal kalimat-pun untuk menjelaskan kepadaku perihal ibumu. Cerita tentang ibumu yang lahir bukan sebagai darah daging Bapakku, kuketahui dari buku catatan ibuku—ibumu bukan anak siapapun, bukan dari lelaki manapun... ibumu dan kau entah anak dari pria mana. Bahkan ketika test DNA sudah kulakukan kepadamu, dalam darahmu sama seperti dalam darah ibumu, hanya mengandung satu darah... darah seorang anak tanpa Ayah.




Tiba-tiba kudengar suara-suara kecil mengumandangkan kalimat itu, kalimat yang selama ini menemaniku habisi hari-hari terakhir masa penantianku. Suara Ayah yang tadi sekan meninabobokanku dalam impian dan seluruh rasa keingintahuan yang mulai menguasai hidupku, kini serasa menjauh dan menyatu dengan suara udara yang terdengar riuh. Apakah tadi hanya mimpi dan dimanakah aku sekarang, mengapa aku ada disini... berada didalam ruang kosong bertembok putih dengan hanya satu ranjang dan meja disebelahnya, jendela kecil disudut ruangan pancarkan sedikit sinar dan hembuskan udara walau hanya sisa dari udara lain diluar sana. Pintu besar yang terbuat dari besi, berdiri kokoh dihadapanku, kucoba membukanya namun pintu itu tertutup rapat seakan menutup usai seluruh hubunganku dengan alam diluar sana. Ingin aku berteriak, berharap seseorang akan membukanya dan melepaskanku pergi, tetapi sekali lagi, kata-kata itu selalu tercekat dan tertahan diujung lidah. Aku takkan mampu keluar dari sini, dan biarlah kunikmati keterkekangan ini sekali lagi. Melantunkan do’a demi do’a, berharap tebalnya tembok kekang ini menembus langit tingkat ketujuh...

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –

Kumohon maafkan aku Matahari—bayangan kembali datang dan mengecup keningku. Maaf ?!? atas apa ???—tanyaku. Karena hanya sampai disini aku ada—jawabnya kaku tanpa menoleh padaku. Mengapa—kini aku berubah tegang dan takut. Karena ia sudah kutitipkan padamu—katanya lembut. Siapa ???—tanyaku lagi. Kau akan tahu karena ia bagian dari dirimu—jawabannya kini halus dan penuh makna. Aku ingin kembali bertanya, tetapi otakku seakan ingin menutup usai semuanya, dan biarlah—hatiku menyerah... biar semua yang gelap tetap gelap, biar semua yang harus ada kini terlahir dan tetap ada. Keinginan mungkin ingin selalu merubah apa yang telah tertoreh jelas dalam garis tangan yang kita miliki, namun biarlah... biar kunikmati lakon ini sekali lagi, karena aku sudah menyerah, walau tak kalah, aku sudah lelah, walau tak pernah ingin rebah. Karena Matahari takkan bersinar selamanya. Karena takkan,,, sekali lagiadalah janji dengan Tuhan sampai nanti !!!!

+ + +

too many knots are tied
too many lips have lied
too many times I've tried
too many voices inside



*Sumnun, Al-Hallaj