<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888</id><updated>2012-02-17T02:16:47.129+07:00</updated><title type='text'>SERPIHAN SERPIHAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-8533596459485360786</id><published>2010-03-10T19:04:00.002+07:00</published><updated>2010-03-10T19:08:07.284+07:00</updated><title type='text'>I LOVE YOU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;padahal aku telah mengeja cinta&lt;br /&gt;dari selongsong hatimu yang merah*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kini dengarkan aku. Dengarkan aku walau cuma sekali. Dengarkan aku walau kau akui bahwa kini kau tuli—aku tak peduli. Iya sayang, aku tak peduli, bukan karena aku berhenti mencintai. Tidak tidak, tidak pernah sedikit pun terbersit di hatiku untuk berhenti mencintaimu. Tidak pernah sedikitpun aku berniat untuk berhenti mengagumi. Tidak sayang, jangan pernah bilang begitu...percayalah padaku, seperti sekian ratus kepercayaan yang kutanamkan dalam jiwamu.&lt;br /&gt;Ingatkah kau pertama kali dulu. Waktu aku belum mengerti bagaimana caranya untuk mencintai. Ketika aku masih seranum buah mangga, saat aku masih hijau sekali. Kalau kau lupa, mari mengingatlah. Ingatlah aku saat itu, di pertemuan kita kali pertama. Kala usiamu sudah beranjak 25 sedang aku hanya gadis muda...kala kau mengajariku mengeja, mengeja cinta yang kautulis dalam dada.&lt;br /&gt;Saat itu saat-saat yang indah bukan sayang. Kau mengajariku cara mengeja, tidak hanya mengeja kata-kata dalam rupa bahasa, kau juga mengajariku mengeja cinta yang rumit nan sederhana. Aku eja kalimat “i am student” setelah kau tulis kata-katanya di papan tulis hitam. Selanjutnya kueja kalimat “i love you” yang kaugunakan untuk merayu. Kau ajari aku mengeja cinta—aku belajar mengeja hatimu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan diam saja, belum cukupkah rangsangan yang kuberikan demi kembalinya semua memori itu?...baiklah kalau begitu, ini semua maumu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kumohon Marni...sadarlah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu menyadarkan aku, sayang. Kesadaran membuatku kembali bisu. Maka jika kau ingin aku segera berubah kembali membatu...ingatlah padaku. Berpalinglah sayang. Tatap aku lekat-lekat seperti dulu. Ingatlah aku saat itu, saat usiaku baru saja 15...dan itu sekitar 20 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 tahun yang lalu, kau tiba-tiba saja datang. Kau tiba sebagai seorang guru yang diperbantukan di desa. Pembawaanmu yang halus. Kacamata kotakmu yang menyempurnakan garis-garis rahang itu. Serta tutur bahasa yang teratur membuatku terpukau dengan guru bahasa Inggris baruku.&lt;br /&gt;Mulanya aku tak tahu bagaimana rupanya mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Mulanya pun aku belum kenal rasanya jatuh cinta. Maka kau mengajariku, lewat les sepulang sekolah untuk membiasakan lidahku mengucap kalimat “yes, i do”—kau ajari aku untuk bercumbu.&lt;br /&gt;Ingatkah kau sayang???Suatu petang kau datang ke bilik rumahku yang reyot, kau rayu bapak-ibuku untuk dapat mengajakku berjalan-jalan. Saat itu aku hanya gadis lugu. Gadis lugu yang tersipu malu. Dibelai rambutnya oleh pak guru, lalu merasakan lumatan nafsu dengan kaku.&lt;br /&gt;Rambutku yang panjang sebahu...habis kauhirup (seperti kini kuhirup tar dan nikotin masuk paru-paru).&lt;br /&gt;Pipiku yang sehalus bulir-bulir hujan di hari sabtu luluh kau ciumi.&lt;br /&gt;Saat itu hatiku masih abu-abu. Aku belum mengenal apa itu batasan cinta dan nafsu. Namun kau membimbingku melewati setapak jalan berbatu.&lt;br /&gt;Kau ingat kan, sayang?!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marni...ini aku...ingatlah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan...ya Bapaku...aku justru yang menginginkanmu mengingatku. Aku selalu mengingatmu, sayang. Betapa tidak...kau manusia pertama yang menjamahku, yang menodai kesucian air basuhanku. Kau datang di hidupku yang seharusnya berwarna merah, kuning, jingga, dan ungu. Kau datang dan merubah semua semarak warna menjadi lebih menyala. Kau membantuku sayang. Ingatkah?!?&lt;br /&gt;Kau membantuku menyelesaikan PR. Kau membantuku membawa ibu ke rumah sakit. Kau membantuku melunasi hutang Bapak. Kau membantuku membayar sekolah Marno dan Mirah. Kau bahkan membantu kami untuk tetap bisa makan nasi...kau memang sangat murah hati, untuk itu aku teramat sangat mencinta—mencitaimu!&lt;br /&gt;Cintamu mungkin sudah menggebu kala itu. Tapi cintaku ini ibarat bunga bermekaran. Berawal dari kuncup ketika pertama kau kecup halus pipiku. Lalu merekah ketika kau jamah buah dadaku. Hingga akhirnya mekar sempurna saat kau setubuhi aku.&lt;br /&gt;Ingatlah betapa menggebu kau lucuti pakaianku satu per satu. Ingatlah semua janji manismu. Ingatlah saat kau berkata...”Marni, aku hanya ingin kamu yang menemani, jangan perempuan lain, hanya kamu seorang, only you”.&lt;br /&gt;Ingatkah kau, sayang?...ayo ingatlah, ingat aku dalam tindihan beratmu yang ratusan kilo itu. Ingat aku yang merintih demi menahan rasa sakit sobekan selaput daraku. Ingatlah...kumohon ingatlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun begitu yakin kau mengingatnya...yakin sekali akan ingatanmu tentang itu&lt;br /&gt;Jadi sekarang kau bersedia kan? Bersedia mengingat setiap detik waktu yang kita habiskan. Ayolah sayang, jangan membuatku kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kukecup bibirmu sambil membelai lembut rambutmu!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marni...sudahlah, aku lelah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh sayang. Bagaimana mungkin kau jadi loyo begini. Setahuku 20 tahun yang lalu, kau adalah pria tangguh pencuri keseluruhan jiwaku. Kau curi keperawananku. Kau curi masa mudaku. Kau curi keyakinanku. Kau curi aku...iya...jangan menggeleng, kau memang mencuriku.&lt;br /&gt;Kenapa???&lt;br /&gt;Kau tidak sadar telah mencuriku.&lt;br /&gt;Kalau begitu biar kusegarkan ingatanmu.&lt;br /&gt;Setelah peristiwa malam itu, lalu malam malam selanjutnya, disusul malam malam berikutnya, aku pun mengandung. Usiaku 16 tahun saat itu. Setelah kehamilanku bertambah besar, mau tak mau kau pun harus menikahiku. Mau tak mau aku pun dinikahimu.&lt;br /&gt;Ya...aku memang dinikahimu. Dinikahi dengan pria yang usianya jauh diatasku. Mantan guru sekolah menengah pertamaku. Dengan keyakinan yang berlawanan denganku.&lt;br /&gt;Saat itu aku menerimamu. Seperti menerima dengan pasrah keinginanmu untuk memaksaku mengubah panggilan Tuhan. Seperti menerima keinginamu untuk membuatku berhenti mengumandangkan doa dalam bahasa yang tak kau kenal. Seperti menerima kenyataan bahwa kini aku hanya perlu duduk bersimpuh untuk bertemu Tuhan. Aku sangat menerimamu, menerima kehadiranmu dihidupku. Menerima tindihan berat badanmu diatas tubuhku. Menerima tindihan berat bebanmu diatas hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi berbaik hatilah barang sedikit. Ingatlah dan tataplah aku seperti dulu. Seperti ketika kau remas payudaraku dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marni...demi Tuhan, ampuni aku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan aku yang seharusnya mengampunimu. Aku bukan Tuhan, aku belum pantas jadi Tuhan. Aku ini hanya manusia lemah berusia 30 tahunan yang habis kau serap sarinya. Aku ini hanya ibu 4 anak yang sibuk mondar-mandir kamar dan dapur. Aku bukan Tuhan—dan tidak ingin jadi Tuhan.&lt;br /&gt;Akupun tak meminta pengampunanmu, sayang. Aku hanya meminta sedikit kesegaran ingatan. Ingatan indah tentang masa-masa kita yang silam. Masa-masa dimana kau merenggutku paksa. Masa-masa dimana akhirnya aku menyerahkan sepenuhnya tampuk kepemimpinan hidupku.&lt;br /&gt;Ingatkah....&lt;br /&gt;20 tahun yang lalu. Ketika kau nikahi aku. Bukan langgar dengan karpet hijau terhampar yang menjadi tempat kita bersumpah setia. Kau tuntun aku, bapak, ibu, serta Marno dan Mirah untuk duduk menghadap salib Tuhanmu.&lt;br /&gt;Air suci terpercik di kepalaku, sebuah janji ikatan kulafalkan dalam satu keyakinan yang tak kupercaya. Percaya tak percaya, aku harus percaya. Aku harus mempercayai semua ajarannya dan menghapus semua ingatanku akan keyakinan yang selama ini kupegang teguh. Ini demi kau...demi kau...bukan demi kita.&lt;br /&gt;Setelahnya kau bawa aku dalam rumah yang kausebut surga, sedang aku lebih suka menyebutnya neraka. Bagaimana tidak, di usiaku yang masih muda, aku harus mengurusmu juga ketiga adikmu yang beringas. Di usiaku yang sangat belia, aku sudah berperan ibarat ibu rumah tangga. Aku tersiksa saat itu, namun sudah kuhapus siksaan itu jauh-jauh dari hatiku. Itu semua karena aku mencintaimu.&lt;br /&gt;(kembali kukecup wajahmu)&lt;br /&gt;Lalu lahirlah bayi mungil itu. Bayi yang kauberi nama Wulandari. Wulandari yang manis itu lahir ketika bulan sedang bersolek dan bersinar penuh harapan. Wulandari harapan kita. Wulandari yang kupuja, Wulandari yang tak kau puja. Harapanmu seorang pria sejati keluar dari rahimku, sayang hanya seorang bayi ayu yang menangis kencang malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marni...apa yang kau katakan?!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kukatakan. Aku mengatakan semua hal untuk membangkitkan ingatan. Ingatanmu akan aku, dan semua putri-putrimu. Iya...mereka semua berjenis kelamin perempuan, dan kau membencinya. Kau ingin anak laki-laki kan? Dari dulu kau ingin anak laki-laki. Karena itu kau membenci mereka. Membenci kelima gadis pujaanku. Ingatkah kau akan kebencian itu—satu demi satu???...jangan gelengkan kepalamu, jangan sanggah tuduhanku. Aku tahu kebenaran setiap fakta yang meluncur hari ini. Jadi mengapa harus mengelak. Mengapa kau membenci buah cinta kita? Mengapa???&lt;br /&gt;Kau membencinya. Kau membenci anak-anak kita. Aku ingat betul pada malam kelahiran Setyorini—putri kedua kita. Kau bahkan enggan menatapnya. Romanmu berubah ketika ibu bidan menyerahkannya padamu. Lagi-lagi perempuan, bukan laki-laki seperti yang kau harapkan. Kau kecewa, kecewa akan kemampuanku beranak-pinak, kecewa akan pemberian bidadari-bidadari lucu itu. Kau bahkan kecewa karena mereka perempuan....kenapa sayang?. Padahal aku pun perempuan, tapi tapi kau memujaku. Ingatkah betapa kau memujaku, kau memujaku bagai cawan suci...cawan suci tempatmu menuang anggur perjamuan, anggur yang kaureguk habis tak bersisa. Lalu kenapa, kenapa kau membenci anak-anak kita???&lt;br /&gt;Tapi semuanya belum usai, pertanyaanku masih akan sangat panjang. Bagaimana dengan Arumsari, bayi selanjutnya yang kulahirkan. Kau yang memintanya untuk ada. Tuhan mengabulkannya walau bukan dalam wujud pria. Aku pun berdoa, berdoa dengan cara yang kau ajarkan. Berlutut di bawah patung suci Bunda, memintanya untuk mengabulkan harapan suami tercinta...tapi tidak ada, tidak ada tangis bayi jantan dirumah kita. Ketiga anakku semuanya wanita.&lt;br /&gt;Belum lelah mencoba, kau pun membuatku kembali mengisi perut. Tidak aku tidak lelah, walau jarak anak-anak kita hanya setahun. Walau aku harus membuncit tiap tahunnya dan menjerit kesakitan pada bulan ke-sembilan.&lt;br /&gt;Kehamilanku yang keempat sedikit berbeda, mungkin karena sikapmu yang juga berbeda, atau karena tubuhku yang sudah jauh berbeda, ah sudahlah...yang penting saat itu begitu berbeda. Kau mengurangi rutinitas malam kita. Kau pun lebih sering mengeluh ini dan itu. Aku lebih sering mengharu biru...sampai Martini lahir. Iya...anak perempuan kita yang keempat, anak yang mati menahan beban karena tak tahan melihatmu begitu berambisi. Anak yang meninggal kelelahan karena aku tak sanggup membendung airmata, ia mati di usia dini—tujuh bulan.&lt;br /&gt;Bagaimana sayang...ingatkah kau pada mereka sekarang?&lt;br /&gt;Kenapa???...kenapa kau begitu tega, kau bahkan membiarkanku naik becak sendirian ketika harus kulahirkan Kesumah. Kenapa sayang???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marni...kau sudah gila”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(teriakanmu kuredam dengan ciuman sayang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak gila. Aku belum gila. Dan aku takkan gila.&lt;br /&gt;Aku sangat waras. Sewaras ketika pertama kali kau lumat habis bibirku. Bibir yang kupakai untuk melafalkan ayat-ayat suci firman Tuhanku. Aku masih sadar. Sesadar ketika pertama kali kulihat kau melucuti pakaian Mirah. Iya aku tahu itu semua. Memangnya kenapa?. Kau heran kenapa sekian lama ini aku membisu. Tidakkah kau mengerti, aku ini hanya gadis desa tamatan SMP dengan empat anak yang harus diberi makan. Aku pula yang harus menanggung beban kebutuhan Bapak juga Ibuku. Kalau sampai kejadian yang terjadi antara kau dan Mirah sampai muncul ke permukaan, selain kau coreng mukaku, aku pun kehilangan satu-satunya sumber nafkah keluarga.&lt;br /&gt;Aku belum mampu menghidupiku, menghidupi anak-anakku, menghidupi orangtuaku. Jadi aku diam seribu bahasa, meski aku tahu dengan jelas setiap bekas kerokan itu mengisyaratkan hubungan kalian yang terlarang&lt;br /&gt;Jadi bagaimana, sayang? Ingatkah kau akan semua cerita ini. Cerita yang dengan sulit kurangkai dalam susunan kalimat tanpa terbata-bata. Luncuran kata-kata yang lugas keluar dari dalam dada. Ah aku lega...aku tak pernah bisa selancang ini padamu. Aku bungkam mulutku demi sebuah harga keutuhan keluarga.&lt;br /&gt;Tapi sudahlah...aku malas untuk tetap mencinta dengan kepalsuan sempurna. Kau khianati aku dengan darah dagingku. Kau tolak jamahanku. Kau buat hatiku ngilu.&lt;br /&gt;Dan sekarang aku hanya meminta kau mengingat. Mengingat setiap sentuhan, lenguhan, dan buaian yang kauberikan 20 tahun silam. Kembalikan semua milikku.&lt;br /&gt;Ayo kembalikan memori tentangku.&lt;br /&gt;Tentang paras ayu yang membuatmu memuja. Tentang rambut legam yang membuatmu terpana. Tentang wangi parfum murahan yang membuatmu terajam asmara. Tentang semuanya tentangku. Kembalikan padaku.&lt;br /&gt;Jangan paksa aku berbuat keji padamu.&lt;br /&gt;Ayolah sayang...cobalah, cobalah mengingat semua kenangan manis itu. Cobalah kembali berpaling padaku... coba terus meskipun kau harus kelelahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;(Di luar sana terdengar teriakan dimana-dimana. Ada kebakaran mereka bilang, kau pun sama paniknya, sama takutnya, sama histerisnya melihat api yang tadinya hanya secercah dian. Tidakkah kau lihat wujud hatiku, sayang? Hampir mirip dengan api yang tersulut. Mulanya kau nyalakan redup, kini cahayanya justru membuatmu takut!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“maafkan aku sayang, aku memintamu mengingat akan aku.”.&lt;br /&gt;“Marni...kau bicara apa?aku suamimu...aku mencintaimu, sudah pasti aku mengingatmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kupeluk tubuhmu yang sudah tak lagi kencang. Kubaui tengkukmu. Kusentuh jari-jemarimu yang mulai membiru. Ternyata aku masih sangat mencintaimu. Walau kau nodai ranjang pengatinku dengan darah perawan Mirah. Walau kau tolak aku ratusan kali untuk kembali mereguk nikmat. Walau kau tak lagi ada. Seperti ketenangan yang telah pergi begitu  lama dari hidupku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku merindukanmu.”.&lt;br /&gt;“Marni...kita harus pergi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seharusnya aku memang sudah pergi lama dari rumah ini. Bertindak egois dengan meninggalkanmu, anak-anak, juga ayah-ibu. Tapi tetap saja aku tak mau. Tak mau untuk meninggalkanmu. Tak mau untuk berhenti mengurus bidadari-bidadariku. Tak mau untuk menyakiti ayah-ibu. Aku tak mau...tak mau pula aku menyerahkanmu begitu saja pada adikku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apakah kamu benar-benar ingin pergi?”.&lt;br /&gt;“kita memang harus pergi, lari bahkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Iya...kau benar. Aku seharusnya memang lari. Lari sejauh mungkin. Lari sekuat mungkin. Lari secepat mungkin. Semestinya dari dulu, dulu dulu sekali. Tapi aku bukan pelari yang tangguh, paling-paling baru sampai setengah pelarian, aku sudah tak tahan dan berputar arah kembali ke garis awal—mana bisa begitu!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sudahlah, kita dirumah saja. Kita tunggu Wulandari, Setyorini, Arumsari, juga Kesumah pulang study tur dari Borobudur”.&lt;br /&gt;“Marrr...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kalimatmu terputus, seperti jalinan nadi kita yang juga terputus. Aku melayang lepas di udara sambil terus berusaha sekuat tenaga menggenggam jari-jemarimu yang terbujur kaku. Diluar sana kudengar orang-orang berteriak2, rumah kita memerah, api yang kusulut membara dan membungihanguskan bangunan laknat itu. Kini kau ingat kan sayang, betapa indah sekian kenangan kau pugar untukku. Kini kau kenang kan sayang, betapa menggembirakan sekian ratus cerita kurangkai untukmu. Kini kau percaya kan sayang, betapa aku mencintaimu sampai detik terakhir kita bernafas. Ini cintaku, ini hidupku, ini matiku!!!).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lihat itu, sayang. Dibawah sana para tetangga bahu-membahu menggotong kita. Mirah menjerit-jerit seperti orang gila, bedebah kecil itu cukup tahu diri untuk teriak-teriak seperti pesakitan. Aku sudah tidak percaya lagi dengannya. Dan ini semua karenamu, aku kehilangan kasih sayangku karena sebegitu memujanya hatiku pada dirimu. Aku bahkan kehilangan kendali hidup saat kau bilang cintamu kini untuk adik bangsatku. Lebih baik kita melayang-layang tak tentu arah seperti ini. Lebih baik aku bawa kabur hatimu pergi jauh dari bumi. Lebih baik kita berdua bergenggaman erat sampai mati. Lebih baik begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah kalimat pertama yang kau ajarkan padaku, sayang? (aku tersenyum). Aku yakin kau mengingatnya. Kata-kata dalam bahasa asing itu. Kata-kata yang membuat lidahku kelu. Kata yang kueja satu per satu dengan bantuanmu. Kau ingat???...duh senangnya, akhirnya kau mengangguk, anggukan tanda setuju yang 10 tahun mangkir dari hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini&lt;br /&gt;ejalah lagi&lt;br /&gt;kini*&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;***totally inspired by “aku mengeja cinta, kau mengeja ragu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken with permission (later) from Remy Soetansyah’s Poetry; “aku mengeja cinta, kau mengeja ragu”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-8533596459485360786?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/8533596459485360786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=8533596459485360786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/8533596459485360786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/8533596459485360786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2010/03/i-love-you.html' title='I LOVE YOU'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-5739603801240506198</id><published>2010-03-10T18:20:00.004+07:00</published><updated>2010-03-10T18:28:14.154+07:00</updated><title type='text'>grootegracht</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Saya ingat sekali dulu pernah bertemu dengan dia. Dulu sekali, tapi entah kapan, tapi saya yakin bahwa saya memang pernah bertemu dengan sosok itu. Saya masih ingat detail tubuhnya, saya bahkan masih ingat harum tubuhnya. Dan kini ketika saya berpapasan dengannya dalam sebuah pertemuan tak sengaja, sayapun kembali melontarkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu sekali pernah membuatnya berdesir, terkulai, terlena, terajam panah asmara. Tatapan mata yang sebelumnya saya mintakan pada Eros untuk menghadiahkannya pada suatu petang di Kalibesar. Ya itu dulu...dulu sekali, tapi saya masih menyimpannya, menyimpannya untuk saat-saat seperti ini. Saat dimana saya kembali dipertemukan oleh nasib dengannya. Saat dimana saya kembali dibayang-bayangi oleh kecantikannnya. Saat ini...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dia kembali hadir dalam hidup saya dengan sempurna. Dia berjalan dengan anggun, dengan pakaian kantor yang elegan, serta sepatu berhak tinggi yang membuat tungkai jenjangnya semakin terlihat menawan. Tubuhnya masih semampai. Matanya masih menyiratkan keinginan yang tertahan dengan malu-malu, dan aih aih bibirnya...bibir itu masih gempal dan menantang untuk segera dilumat. Serta jangan biarkan saya khilaf dengan tidak menyebutkan betapa ramping pinggangnya membuat saya berteriak kegirangan dalam hati.&lt;br /&gt;Sudah sekian lama saya menunggu saat ini. Pertemuan yang kembali terulang di Kalibesar. Saat dimana saya akan kembali terobsesi. Saya hampir lupa sudah berapa lama. Entah dalam hitungan jari, entah ratusan hari, atau bahkan puluhan tahun, yang jelas saya setia menanti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setia menanti kedatangannya. Kedatangannya kembali ke dunia ini—dunia saya sendiri. Seperti separuh umat bumi yang menyakini kembalinya sang Putra Allah turun ke bumi. Maka saya ikrarkan jiwa untuk meyakini kedatangannya yang juga (pasti) kembali kedalam pusara hidup saya. Terkadang memang saya letih untuk berkeyakinan. Karena keyakinan memerlukan banyak sekali kepingan harap yang sulit sekali diproduksi. Tapi iming-iming hati akan kebahagiaan dan euphoria akan kedatangannya, membuat otak saya berhenti mengeluh. Meski seringpula hati saya mangkel dengan penantian tak berujung pangkal ini. Tokh hati adalah organ tersabar yang saya miliki. Saya pun kembali mencintainya. Cinta yang sudah ratusan kali jatuh di hati saya yang sabar ini. Cinta untuknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta untuknya saya berikan pertama kali di pertemuan kami yang pertama. Saya ingat jelas saat itu. Dia berjalan dengan lemah gemulai dalam balutan pakaian yang aduhai membuat hati tuan segera bertanya-tanya siapa nama gerangan. Senyumnya malu-malu, bibirnya yang tebal dipulas gincu merah, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Dia berjalan keluar dari toko obat dengan sedikit berjalan cepat, mungkin sesuatu membuatnya harus buru-buru sampai dirumah, mungkin juga salah satu anggota keluarganya membutuhkan ramuan obat yang ia beli barusan. Tidaklah penting perihal kepentingan nona manis itu, yang penting detik pertama saya melihatnya, detik itu pula saya berikan hati saya sepenuhnya pada nona tak bernama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nona tak bernama itu ternyata memiliki nama yang indah... Giok Hwan namanya, anak kedua dari babah penjual tembakau di daerah Glodok. Cerita lengkap mengenai Giok Hwan saya dapatkan dari kacung toko obat cina yang tempo hari ia kunjungi. Kacung itu bilang, Giok Hwan rutin 2 minggu sekali datang ke toko majikannya untuk menebus obat, obat yang dipakai Mami-nya untuk bertahan hidup. Kasihan nona manis itu, masih muda sudah harus menghadapi terik siang demi ibunya yang tak kalah menderita, andai saya dapat membantunya mengantar obat itu ke Glodok... saya rela sekali, selain saya dapat bertemu dengan pujaan hati, saya pun dapat mengurangi beban hidup kekasih tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih tercinta yang akhirnya jatuh ke pelukan. Betapa girang hati dibuatnya, tak percuma saya lantunkan do’a diam-diam, berharap Dewi Asmara segera menitah sang putra untuk segera menancapkan panah cinta tepat di dadanya. Di dadanya yang menyembulkan buah ajaib kesayangan Tuhan. Setelah ratusan kali saya layangkan jurus pandangan mata, pada suatu malam nona Giok Hwan menyatakan kesediaanya untuk bersanding bersama. Kebahagiaan saya tak terlukiskan, saya ajak Giok Hwan menikmati kota naik becak, saya manjakan dia dengan es Italia Ragusa bersaudara. Begitu bungah hati saya dibuatnya, melayang lepas ke udara bebas. Di tengah sengatan terik panas Jakarta pada Nopember 1964, saya mantapkan hati dalam sebuah keberuntungan. Keberuntungan yang terpatri kuat dalam ingatan akan kebahagiaan saya yang tidak bertahan lama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bertahan lama seperti yang saya impikan sebelumnya. Sebelumnya sudah saya makhtubkan dalam hati untuk segera meminangnya menjadi pendamping. Usia saya sudah cukup mapan saat itu, lagipula usaha saya pun berkembang dengan pesat, tak ada alasan untuk menghalangi saya membangun mahligai rumah tangga bersama kekasih pujaan. Lagipula setiap kali melihat Giok Hwan, sisi kelaki-lakian saya mensyaratkan berahi tak tertahan, sementara di sisi lain saya ingin menjadi lelaki sejati yang mereguknya setelah ia berhasil saya peristri. Duh nona Giok Hwan, kenapa mereka tega memisahkan cinta kita yang tulus dan tak bercela ini. Saya tidak pernah tahu kenapa toko yang dibangun dinasti keluarga saya dengan jujur harus pula dibakar si jago merah. Mereka menyeret saya keluar dari toko, memukuli kepala saya, memukuli kepala orang-orang di sekeliling saya. Padahal saya tidak pernah berbuat jahat pada mereka yang memukuli saya, saya bahkan tidak membenci mereka, saya tidak mengenal mereka. Apa salah Papa dan Mama saya, atau bahkan apa salah saya sendiri. Kami hanya warga keturunan biasa seperti pula keluarga tionghoa yang lain. Saya bingung Giok Hwan, saya bingung kenapa semuanya terjadi begitu cepat, yang saya ingat hanya selebaran bergambar palu dan arit yang dibakar bersamaan dengan hangusnya toko kami. Sungguh hati saya tidak bermaksud mendustaimu, atau bahkan mengingkari janji suci kita. Saya masih akan selalu menanti nona, menantikan bunyi letusan petasan berkali-kali tanda kita melangkahkan kaki ke kehidupan baru...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan baru yang akhirnya terpaksa saya jalani tanpa kamu. Setelah peristiwa nahas itu, saya hanya berharap seekor merpati dapat menyampaikan khabar kepergian saya dengan lembut. Supaya kamu tidak terlalu kalut menghadapi kehilangan saya. Maafkan saya Giok Hwan, bukan niat hati tuan meninggalkan nona sendirian dirundung duka. Jikalau tuan mampu, ingin tuan mengajak nona serta, sayang kini tuan berada jauh dari dunia.&lt;br /&gt;Saya masih menyesali perbuatan saya. Saya menyesali kenapa tidak langsung meminangnya ketika ada kesempatan, kenapa harus terencana dan disusun matang. Namun saya percaya, akan ada kehidupan selanjutnya dimana saya dapat kembali bersua dengan nona pujaan hati. Nona saya yang mungkin nanti menjelma menjadi sesuatu yang tak mungkin. Tapi mungkin akan segera saya kenali sosoknya sebagai Giok Hwan... &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Giok Hwan, itu dia Giok Hwan...saya tidak mungkin salah, dia adalah Giok Hwan yang sama dengan Giok Hwan yang dulu hendak saya pinang. Saya yang membantunya kembali hadir di alam fana. Akhirnya do’a saya terkabulkan sang Maha Kuasa. Giok Hwan lahir dengan sempurna, dia lahir seperti seharusnya, tidak ada satu pun cacat saya temukan. Kali ini saya tidak boleh terlambat lagi, namun tidak mungkin meminangnya saat ini, dia baru saja menjelma bayi manusia berusia 5 menit. Saya tetap harus menantinya, menantinya tumbuh besar menjadi manusia dewasa. Walau beda usia kami kini terpaut 25 tahun, dan saya sudah beranak dua, sudah saya bulatkan tekad untuk menikahinya kelak. Giok Hwan yang malang, takkan kubiarkan kamu kembali sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bu bidan, anak saya sehat?”, tanya ibu Giok Hwan yang mukanya pucat.&lt;br /&gt;“sehat”, jawab saya yang masih mengagumi kekasih saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah jawaban saya ucapkan, perempuan yang mengantarkan kembali Giok Hwan ke pangkuan saya, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saya tahu ini pertanda jodoh bagi kami. Perempuan itu datang sendirian ke rumah saya, kandungannya yang besar sudah membuat ketubannya pecah, dia sudah pembukaan 3 waktu itu. Saya tanpa basa-basi menolongnya. Saya mengenal perempuan itu sebagai buruh cuci yang tinggal berhimpit di kampung belakang. Suaminya baru saja meninggal akibat tabrak lari, sedang anak-anaknya yang lain...entahlah, mungkin sudah dititipkan ke sanak famili mereka. Yang jelas dan saya tahu pasti, kini Giok Hwan tidak akan jauh-jauh dari saya lagi. (Seharusnya) dia tetap disini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seharusnya) dia tetap disini. Tapi tidak...Giok Hwan, kamu sepertinya masih marah karena kepergian saya dulu. Dia kini pergi mendahului saya, saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Apakah kemarahanmu yang teramat sangat dibawa ke kehidupannya yang baru, ataukah karena gizi yang kurang diberikan si buruh cuci itu semasa hamil. Apapun alasannya, kini Giok Hwan yang cantik harus diambil Tuhan pada usianya yang baru saja 5 bulan. Saya kembali menyesali keterlambatan saya. Seharusnya saya nikahi saja dia ketika pertama kali mendengar jerit tangisnya, tak perlu berlama-lama menunggunya hingga tumbuh menjadi pemuda matang.&lt;br /&gt;Duh Giok Hwan...kenapa, kenapakah sayang? kembali lagi nasib menanggalkan cinta kita di tengah jalan. Malang benar nasib ini dibuat Tuhan. Hendakkah kemalangan ini menjadi suatu kemujuran? Dan saya akan kembali berjumpa dengan nona pujaan hati saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nona pujaan hati saya kini bersemayam dalam tubuh rupawan bernama Gertrude. Ia tinggal di rumah besar berpagar emas. Giok Hwan... tahukah kamu bahwa kecantikanmu yang abadi membawa saya pada petualangan cinta tak berdimensi. Begitu dalam rasa cinta yang saya miliki hingga tak hiraukan nasihat empunya waktu. Sepertinya kamu tak merasa serupa . Kamu hanya memandang saya dari kejauhan untuk kemudian melengos—menjauh sejauh mungkin. Tapi saya tetap berbahagia nona, paling tidak Yang Kuasa memberikan kenikmatan dunia dengan pertemuan kembali ini. Giok Hwan yang manis... sekarang walaupun amarahmu tak juga kunjung reda, saya harap kamu masih mengenali cinta tulus suci milik hati nan sabar ini. Ah nona...maafkanlah keterbatasan tuan. Saya sungguh bodoh hingga belum juga mampu kembali mempersuntingmu. Apalah saya ini, sedang kau hidup dalam gelimang kemewahan, saya terpaksa hidup dari belas kasihan manusia-manusia sekitar. Kalaulah nona sudi berhenti ngambek dan bersanding dengan saya, majikan nona belum tentu mengijinkan anjing betina Pomeranian-nya (begitu saya dengar manusia-manusia itu menyebut jenismu) kawin dengan asu buduk penuh kudis macam saya. Maafkanlah saya nona, maafkan karena berbagai Kamma yang saya tumpuk masih melahirkan Dukha dalam semesta kita yang tak terpetakan. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat sekali dulu pernah bertemu dengan dia. Dulu sekali, tapi entah kapan, tapi saya yakin bahwa saya memang pernah bertemu dengan sosok itu. Saya masih ingat detail tubuhnya, saya bahkan masih ingat harum tubuhnya. Dan kini ketika saya kembali berpapasan dengannya dalam sebuah pertemuan tak sengaja, sayapun kembali melontarkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu sekali pernah membuatnya berdesir, terkulai, terlena, terajam panah asmara. Tatapan mata yang sebelumnya saya mintakan pada Eros untuk menghadiahkannya pada suatu petang di Kalibesar. Ya itu dulu...dulu sekali, tapi saya masih menyimpannya, menyimpannya untuk saat-saat seperti ini. Saat dimana saya kembali dipertemukan oleh nasib dengannya. Saat dimana saya kembali dibayang-bayangi oleh kecantikannnya. Saat ini...&lt;br /&gt;Saat ini saya mantapkan hati untuk segera memintamu menjadi istri, ibu dari anak-anak saya kelak. Kamulah Giok Hwan yang ratusan tahun sudah saya nanti, dalam ribuan kali kehidupan saya mencintai sosokmu yang kelewat sempurna. Kini Giok Hwan...kini sudikah kamu saya peristri, untuk memenuhi janji yang belum sempat-sempat saya tepati. Saya tidak ingin terlambat Giok Hwan, saya tidak ingin memenuhi kewajiban untuk kembali menanti. Nona... bersediakah kamu menikah dan menjadi pasangan hidup saya yang abadi, bersediakah?!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“heh mampus lu, dasar kecoak busuk!”.&lt;br /&gt;“udah mati belom?”.&lt;br /&gt;“udah, aku injek pake high heels”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Giok Hwan, nampaknya kamu memang masih marah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;*19’08’08&lt;br /&gt;aroma deja-vu kota tua dan tegangan skripsi&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-5739603801240506198?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/5739603801240506198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=5739603801240506198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/5739603801240506198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/5739603801240506198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2010/03/grootegracht.html' title='grootegracht'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-5773895711278463646</id><published>2007-05-25T02:13:00.000+07:00</published><updated>2007-05-25T02:19:35.472+07:00</updated><title type='text'>KOTAK KOSONG WARNA JINGGA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Orang bilang...Cinta seperti permen lolly yang manis kali pertama masuk mulut...rasa itu lama, lama sekali bahkan,tapi bekasnya...yah gigimu rapuh bolong-bolong, sekalipun ada sebuah lagu kebangsaan orang-orang sakit hati yang bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Kurasa lebih baik tak kuderita keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tapi pilihan hidup tak selamanya indah...&lt;i style=""&gt;says who&lt;/i&gt;???aku selalu percaya kebahagiaan juga pilihan, entah mengapa—mungkinkah karena aku lahir sebagai malaikat di tengah manusia, atau karena hidup yang menuntut untuk selalu sempurna. &lt;i style=""&gt;However it takes if we believe in ourselves...were believe in happiness, and i believe in my heart or people who have it.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Orang bilang...Cinta seperti, sebenarnya apa peduliku dengan orang dan pendapat mereka, tapi perempuan disebelahku ini memaksa untuk mengetahui arti cinta keluar dari mulutku. Dan ehm cinta seperti aliran air, beberapa orang terhanyut nyaman dalam alirannya yang syahdu serupa lantunan do’a, dan beberapa yang lain mengutuk segan karena alirannya kelewat deras—menghayutkan sisa jiwa yang mereka pertaruhkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kalau begitu ini semua seputar pilihan...&lt;i style=""&gt;says who&lt;/i&gt;???ini semua ketentuan alam, sekalipun kita berhak memilih, alam tetap penguasa semesta. Cinta buatku elemen dari nafas semesta alam, yang ritme hembus-tariknya tetap harus diatur...kita hanya partikel-partikel dengan izin coblos sekecil serpihan debu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Orang bilang...Cinta seperti kehidupan. Yang lahir atas ketulusan dan rasa percaya akan sesuatu yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tak semua cinta datang dengan tulus...&lt;i style=""&gt;says who&lt;/i&gt;???tidakkah kau lihat cinta dengan ragam yang dimilikinya, aku bukan cuma bilang tentang cinta yang datang dari 2 makhluk lain jenis, banyak bentuk, banyak lakon—tak pernah sama untuk kata cinta...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:18;"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; is for the way you look at me&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; is for the only one i see&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;V&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; is very very extraordinary&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; is even more than anyone that you adore&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;KRISTALL terpaku menatap wajah wanita di hadapannya, begitu cantik tak tercela. Siang ini hari begitu panas, cuaca tak pernah berkompromi dengan kegiatan yang dilakukan manusia. Dan bayangan kesejukan rumahnya akhirnya tinggal mimpi di siang bolong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“maaf tante cari siapa?”, tanyanya dengan nada halus, nada yang familiar dengan yang diajarkan bunda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ini benar rumah Bima?, jawab wanita itu—sebenarnya lebih tepat dikatakan balik bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Bima...”,terdiam sesaat...bertanya-tanya adakah yang bernama Bima di sekitar rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Sebastian Pandji Bimantara”, jelas wanita itu kembali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh...ya Bima...itu nama ayah, ya ya ya itu nama ayah saya...sudah lama tidak ada yang panggil ayah Bima, saya jadi...ehm silahkan masuk tante....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Wanita itu menerawang ke seluruh ruangan, seolah mencari celah-celah kesalahan atau mungkin sebenarnya sedikit pembenaran untuk dibawa pulang sebagai cerita tentang kunjungan siang hari yang kering tawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“siapa nama kamu?”, wanita itu membuyarkan pikiran Kristall.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Kristall, oh iya maaf saya lupa bertanya tante ini siapa...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“cuma Kristall?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ya...ehm maksudnya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“nama kamu cuma Kristall?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh tidak, saya punya nama lengkap tapi untuk apa?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“nama yang dingin...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh ya...bunda yang kasih saya nama itu, buat saya itu indah, seindah bunda..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Wanita itu tertegun mendengar jawabannya, jawaban yang selalu Kristall berikan kepada setiap orang yang pandang betapa dingin namanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ia tahu bukan hanya wanita itu yang merasa namanya terlalu kaku dan minim cinta, tapi apa pedulinya kalau itu sudah melekat kelewat lama di hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Gayatri...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“&lt;i style=""&gt;pardon&lt;/i&gt;?!?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“orang yang kamu sebut Bunda itu...Gayatri kan?!?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“orang yang saya sebut Bunda itu ibu kandung saya, yang melahirkan saya, orang yang membagi gen-nya kedalam tubuh saya, dan ia memang bernama Gayatri, sebenarnya tante ini siapa?”, ujarnya jengkel—terkadang dalam sepersekian detik hidup Kristall, ia selalu bertanya mengapa tak pernah menang adu kelembutan dengan Bunda-nya, emosinya terlalu mudah terpancing untuk urusan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“bilang saja kalau Bima datang...tadi Kalya datang berkunjung”, ujar wanita itu sambil berjalan keluar pintu, menghilang bersama deru mobil yang dikendarainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Orang aneh pikirnya, walau tak pernah ia lihat rupa sesempurna itu sebelumnya, hidung bangir dan kulit seputih kapas itu setahunya cuma ada di dongeng Putri Salju, belum lagi rambutnya yang hitam legam. Tapi tetap saja tak seindah bunda—ia selalu menganggap ibunya malaikat yang lebih indah dari rupa manusia manapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;KENANGAN itu bangkit lagi akhirnya, tepat disaat ia menginjakan kaki di kota ini—sekali lagi, ia membencinya, telah ia perjanjikan dengan yang Kuasa untuk tidak mengusiknya, tapi gadis itu belahan jiwa yang lama tertinggal, oleh kebodohan individualis yang melekat kuat di jiwanya...Kalya menatap lekat sobekan kertas yang baru kemarin diberikan Suga, rekan sekerjanya dulu, dulu sekali...waktu ia masih sesegar apel yang baru dipetik dari pohon. Kini semuanya sudah berubah, 21 tahun waktu yang cukup lama untuk lari dari tanggung jawab besarnya sebagai perempuan, tapi layakah ia menyebut dirinya perempuan, sedang melihat benih yang ditanamnya tumbuh pun ia enggan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;...Terik matahari di kota ini tak pernah bisa sedikit memberi sejuk untuk datang, aku berjalan lunglai ke arah perpustakaan yang letaknya di seberang gedung fakultas. Siang ini benar-benar parah, tugas yang menumpuk, pekerjaan sehari-hari yang sudah menanti riang, baju-baju kotor yang menunggu-nunggu giliran untuk dicuci bersih.Belum lagi...ya Tuhan mohonkan percepat hari ini 1 jam dari biasanya...setidaknya...bruuuuk...oh tidak, lagi-lagi, kenapa kebiasaan buruk berpikir atau apa lebih tepatnya memikirkan sesuatu tanpa otak, yah pokoknya itu lah...selalu merugikan kegiatan siang hari yang parah ini. Orang yang kutabrak dan membuat buku-buku keparat ini berjatuhan cuma menatap lekat lalu menunduk lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“aduh sorry ya, gak keliatan...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“gak apa-apa, lain kali bawa spion ya kalau mau jalan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“hah...eh yayaya”,balasku dengan terus tersenyum—aneh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Bima...”,ujarnya sambil mengulurkan tangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“eh...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“nama aku Bima, kamu siapa?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“saya ehm Kalya...”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kalya selalu mengingatnya, saat dimana ia bertemu dengan Bima yang tak pernah disangka merubah hidupnya. Pria bertubuh tegap yang selalu berjalan tertunduk itu, pantaskah disebut dengan nama salah satu Pandawa yang maskulinitasnya tinggi. Ia selalu menganggap Bima lebih identik dengan Yudhistira yang plin-plan, tak pantas seorang pria yang berat berkata tidak jadi seorang Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tak pernah dipungkiri ia selalu rindu dengan suasana dulu—berbagi dengan Bima yang tak pernah dikenalnya utuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;LELAH menjalar di seluruh urat syarafnya, sudah pukul lima lewat limabelas waktu akhirnya Pandji duduk dengan santai di sofa panjang rumahnya. Belum ada siapapun yang meladeninya hari ini. Gayatri istrinya kebetulan sedang sibuk &lt;i style=""&gt;“nyekar”&lt;/i&gt; ke makam leluhurnya di Imogiri, sedang Kristall putri pertamanya mungkin sedang asyik baca buku sambil mendengar musik di taman dekat rumahnya. Kristall tak pernah diijinkan mendengarkan musik di dalam rumah. Gayatri membencinya—ia tak kuasa membantahnya. Kebencian Gayatri akan musik mungkin terdengar tak logis namun untuk seorang perempuan dengan hati sekeras baja pun, ia cuma manusia biasa yang bisa nyeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Hampir 15 tahun rumah ini menjadi pelepas lelahnya, dengan jerih payah yang ia satukan bersama Gayatri, semuanya terbayar dengan rumah ini. Gayatri perempuan tangguh di hidupnya, tak pernah sekalipun ia mengeluh atau sekedar ingin jadi istri orang lain dalam sehari...begitu bangga ia menjadi Nyonya Pandji, menjadi Ibu dari anaknya. Gayatri yang tak akan mampu ia tampik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“yah...tadi ada cewek cantik loh kesini”, ucapan Kristall membuka kembali kesadarannya yang sempat hilang sesaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh ya...wah kenapa ayah pulangnya terlambat ya, lumayan kan gak ada Bunda”, sahut Pandji dengan leluconnya seperti biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ih ayah, aku serius nih, dia nyariin ayah...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ada cewek cantik nyariin ayah, anugerah apa musibah tuh nak?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“anugerah kalau ngasih duit tapi musibah kalau mau nagih utang...”, anak ini punya selera humor macam ibu...kandungnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ah tapi perasaan ayah gak ada urusan apa-apa gitu nak”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“dia bilang...bilang saja kalau Bima datang, tadi Kalya datang berkunjung...”,ujar Kristall sambil meniru ucapan wanita aneh yang siang tadi datang kerumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Pandji menatap lekat bola mata putri tunggalnya, berharap ia temukan secercah kebohongan di retina Kristall, tapi tidak mungkinkah ada yang memberitahu Kristall—mana mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Mana mungkin—ia datang kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ini hampir 21 tahun sejak kepergiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Sejak keputusan hebatnya untuk memberi kebebasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Band ini benar-benar menguras isi otakku sampai habis, kenapa pula manajer dungu itu pakai acara cinta lokasi dengan Dinnah—lead vokal kami, tidakkah ia tahu kalau perempuan itu punya bisa sehebat Medusa.Suaranya memang indah, dan siapapun yang mendengar pasti terbuai, sayang indahnya tertutup dengan kelakuannya yang mengesalkan, minggu lalu ia minta kenaikan upah yang cuma pantas untuk penyanyi sekelas January Christie. Dan kini kami yang harus pontang-panting cari pengganti, kalau tidak siapa yang mau bernyanyi, tak mungkin para tamu kuhibur dengan instrumen saja. Untungnya Suga bilang sudah dapat yang baru... perempuan, penampilan menarik, suaranya seksi, dan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Dan disanalah akhirnya ia datang sambil melempar senyum nakal yang selalu kulihat setiap saat ia berhasil menjatuhkan barang bawaannya tepat di depanku. Ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang datang dengan rok cokelat dan kemeja putih yang menyempurnakan keanggunannya, dan jangan sampai harus kusebut keindahan rambutnya yang ikal—Kalyana Maitri Paramitta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ayyyaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh.....”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ayah ini udah malem, bangun dong.....”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kristall...ya itu suara Kristall yang memanggilku dari jauh...itu pasti dia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“jam berapa ini nak?”, tanyaku setelah setengah tersadar dari mimpi singkat tentang Kalya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“jam 7 sih...ayah jaga rumah ya, aku mau ke gereja”, jawabnya kemudian. Kristall yang akan berusia 21 tahun sebentar lagi, ia sudah besar dan matang...walau belum sematang ibunya yang pergi dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“ehm yah Kalya tuh siapa sih? Temen Bunda ya yah?”, lanjutnya lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Kalya...ya temen ayah juga temen bunda juga”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“kok orangnya aneh sih yah tapi cantik? Aku kok gak pernah liat dia sebelumnya?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh...yah mungkin karena lama tinggal di luar negeri”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“&lt;i style=""&gt;really...awesome&lt;/i&gt;!”...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;KALYA tidak pernah merasa sebersalah ini hingga ia melihat betapa Kristall mewarisi kulitnya, matanya, bibirnya, bahkan tulang rahang yang nyaris serupa. Anak itu hampir berusia 21 tahun sekarang. Sebenarnya tak ingin ia usik ketenangan keluarga mereka, tapi salahkah jika ia ingin mencurahkan sesuatu yang tertunda selama 21 tahun lamanya. Ia pergi tanpa memandang Kristall, bahkan tanpa meninggalkan bayi mungil itu nama untuk dipanggil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Dua bulan lalu ia berhasil mengumpulkan potongan-potongan tentang keberadaan Bima, Kristall dan Gayatri tentunya. Suga banyak membantunya mengumpulkan serpihan-serpihan abu masa lalu itu. Awal tahun lalu ketika ia mampir ke Yogyakarta untuk urusan pekerjaan, ia bertemu dengan Suga...satu-satunya sumber informasi yang belum ia korek keterangannya. Darinya ia tahu kalau Bima sekarang pindah ke kotamadya dekat kotanya dulu, anaknya dibawa serta, tak pernah sekalipun ia buat anak semata wayangnya itu menderita, pun Gayatri mencintai dan merawatnya sangat baik. Benak Kalya bertanya akan kebenaran cinta Gayatri—mungkinkah anak itu tidak meninggalkan bekas genital yang diwarisinya. Mungkinkah Gayatri tidak membayar sakit hatinya pada satu-satunya darah daging yang tak kuasa ia bunuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku menatap wajahnya lekat-lekat, ketampanan yang kelewat menyilaukan di mataku, pria ini mungkin terlihat sangat membumi tapi bagiku ia ibarat Icarus yang sengaja datang untuk menyapa. Buatku pada awalnya semua kedekatan yang ter jalin sebatas kasih antara dua manusia yang kehilangan sosok ayah terlalu cepat...tak pernah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kuduga sebelumnya kalau rasa sakit bisa menimbulkan gejolak hasrat yang dashyat...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Bima begitu passionatte...tertawan aku dalam diam yang selalu ia tunjukan, hamparan kering yang sengaja ia suguhkan, membuat sepersekian detik pikiranku memaksa hati untuk menghiba sentuhan lembut, tatapan itu—penjara tak kasat mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“buat kamu...cinta itu apa?”,tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“cinta, dalam rangka apa?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“jawab aja...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“cinta itu seperti berjalan dia atas air...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku tersenyum, senyum yang sama dengan yang kuberikan setelah ciuman pertama kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Sayang ia bukan milikku, bisakah kumiliki dia, sebentar pun tak apa ya Allah, hanya untuk menjamahnya, hanya untuk meneguk anggur dari manis bibirnya...Walau beberapa detik kemudian kau buatku sadar kalau atas namamu manusia kini saling berpalingan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;GAYATRI membiarkan badannya rebah barang sejenak di ranjang besi tempat ia biasa mendengar cerita-cerita &lt;i style=""&gt;yang ti&lt;/i&gt; tentang segala macam &lt;i style=""&gt;dedemit&lt;/i&gt;, peri, atau bahkan hewan yang pandai bahasa manusia—si kancil yang nakal misalnya. Hampir 30 tahun &lt;i style=""&gt;yang ti&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;seda&lt;/i&gt;, selama itu pula waktu menoreh masa lalu yang panjang untuk hidupnya yang dituntut sempurna. Waktu itu ia cuma anak manis berusia 12 tahun, hampir dewasa karena sudah mau masuk SMP, ia selalu menikmati perjalanan ke Imogiri, karena itu satu-satunya tempat dimana ibu dan bapaknya berkumpul memanjakan ia, Tantri dan Bondan—adik-adiknya. Dan kini usia 45 tahun sudah ia rasakan, betapa segala ujian ia lewatkan dengan tabah tanpa berani membantah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku tak pernah memohon kebaikan Gusti Allah sampai sebegini memaksa, nyawa ibu dan bapakku ada di tanganmu ya Bapa..aku masih membutuhkan mereka, pun adikku, tidakkah kau lihat betapa keluarga kami saling bergantungan, kesatuan utuh yang saling membutuhkan, minggu lalu kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang membuat kedua manusia yang kautakdirkan menjadi penciptaku harus terbaring sekarat dirumah sakit, mengapa harus mereka ya Bapa...tak sanggupkah kau renggut aku sebagai gantinya, tak cukupkah deraan yang kami terima paska kepergiaan Bondan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kuatkan hati kami Bapa, berikan kami secercah cinta kasihmu...selamatkan nyawa kedua orangtuaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Airmata mengalir lambat di pipinya, tak kuasa ia mengingat setiap kata-kata yang keluar dengan tulus dihadapan Kristus yang selalu ia anggap kudus. Walau ternyata Tuhan menakdirkan kedua orangtuanya untuk pergi, meninggalkan ia dan Tantri berdua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kala itu usianya sudah 23 tahun, sudah mengenal Pandji yang merupakan cinta pertama di hidupnya. Pandji yang berbeda dari jenis pria yang selama ini ia kenal, Pandji yang melunturkan semua ketakutannya akan cinta, Pandji yang membuatnya lebih agung dari manusia manapun. Buatnya segala sisa-sisa cinta yang masih ia miliki adalah harta yang harus ia jaga sampai mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Pertemuannya dengan Pandji begitu indah untuk terus dikenang, Pandji yang punya segudang makna untuk digali, ia yang berusaha keras mendekati dirinya yang kelewat sulit membuka hati, yang akhirnya berhasil mengetuk pintu itu hingga terbuka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Hingga semuanya terbuka...hingga meresapi makna memiliki dan dimiliki...hingga seseorang yang datang dengan pesona yang belum pernah ada, bukan karena ia hebat, tapi karena ia lahir sebagai jalang...Pandji ternyata cuma pria biasa, manusia biasa yang jatuh hati dengan malaikat dan iblis yang menyimpan benihnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Gayatri selalu mengenang kenangan-kenangan itu satu persatu, tentang kedua kakek-neneknya, orangtuanya yang terlalu cepat pergi, adik yang menjadi tanggungannya, &lt;i style=""&gt;lik&lt;/i&gt; Rah, Pandji—malaikat hatinya, penguasa seluruh hidupnya, Kristall...yah bayi mungil itu, ah tidak kini ia sudah menjadi gadis, sudah dewasa bahkan, rupanya, cara bicaranya, seleranya yang kelewatan terhadap musik, dan kegemarannya membaca, yang begitu...pada akhirnya harus Gayatri akui, menuntunnya pada kenangan akan Kalya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;TERKADANG Kristall berpikir mengapa bunda begitu &lt;i style=""&gt;ngotot&lt;/i&gt; melarangnya bermusik, padahal Kristall begitu bergantung pada musik, sebagian jiwanya seperti telah dipersekutukan oleh musik, entah iblis macam apa yang rela menorehkan kecintaan yang terlarang bahkan dibenci oleh malaikat jiwanya—bunda yang tak mampu ditandingi siapapun. Bahkan ayah tak mampu meredam kebenciaan bunda akan musik, suatu kali pernah ia melihat bunda bertengkar dengan ayah karena masalah larangan ini, hebat sekali hingga ia melihat sisi lain dari malaikat yang selama ini menjaganya. Tak habis-habis bunda menuding ayah dan menyebut kata “ia”, entah ditujukan untuk siapa atau maksud apa, yang Kristall ingat setelah itu hanyalah bunda pergi tanpa pamit dengannya, tanpa meninggalkan sedikit pesan untuknya... Sesekali dalam hidupnya bunda memang terlihat seperti manusia biasa—bukan sesuatu yang agung, namun kebiasaannya lah yang membuat Kristall terkagum, mengucap syukur pada Tuhan atas berkah yang berwujud Bunda di hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Dering telepon membangunkan alam sadarnya yang sempat menerawang beberapa saat mengenang bunda yang sudah 2 minggu pergi, padahal hari ini ulangtahunnya yang ke 21 tahun, dan hanya rupa suci Bunda Maria yang tersenyum syahdu memandangnya dari bingkai kayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“hallo...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“can i talk with Bima, please”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;‘who is it?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“its Kalya...”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;perempuan itu lagi, sudah 1 minggu berlalu semenjak kedatangannya yang cukup ganjil kehidupnya, entah mengapa Kristall menganggap perempuan ini bukan tanpa maksud terpendam datang ke rumah keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ayah sedang keluar tante, ada pesan?”...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“saya bicara dengan siapa sekarang?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ini Kristall...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Kristall...&lt;i style=""&gt;can we meet&lt;/i&gt;?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Dia memang aneh, tapi sebagian keanehan yang dia miliki justru menuntun Kristall ke arah cahaya yang selama ini ia rindukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“&lt;i style=""&gt;of course...where&lt;/i&gt;?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“saya jemput kamu jam 4 sore ini,&lt;i style=""&gt;deal&lt;/i&gt;?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“&lt;i style=""&gt;with my pleasure&lt;/i&gt;...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ini ulangtahunnya dan satu-satunya manusia yang ia temui di tahun baru-nya justru orang asing yang aneh—tapi kenapa ini seperti dinantikan, inikah yang Kau namakan takdir ya Bapa—bathinnya, lalu ia tersenyum kepada Maria yang masih setia memandang lewat gambar dirinya yang tergantung di ruang keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ok tell me why you always said that word”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“which word?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“andai...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Bima cuma tersenyum sambil menatapku lekat, seakan dia ingin merengkuhku kembali dan membenamkan kami dalam ritual cinta yang tak habis hingga hari ini terang dan menyapa kami untuk sadar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“andai...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“tuh kan gak jawab, ayo dong jawab...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku tetap memaksanya menjawab, ia selalu mengucap kalimat itu selain kata maaf yang selalu keluar dari bibirnya yang menggemaskan...Ah anggap aku jalang, atau liar, tapi ia memang membuat perangkap hasrat ini untukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“andai adalah sisa misteri kekuatan hidup dari dunia yang hampir punah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku menatapnya selekat tatapannya, menyalurkan segala pesona yang kumiliki untuk memikatnya, menjatuhkan ia dalam perangkap yang tak pernah membuatnya terjerat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“andai...yang akan menghapus dosa umat manusia”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“andai...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“sekarang kamu mulai suka dengan kata itu kan?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Yah aku mulai menyukainya, kata itu membawa mimpiku terbang tinggi, membuat mimpi lari sejauh-jauhnya dari kejaran nyata yang selalu menang sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku merebahkan diriku diatasnya, telanjang—tanpa sehelai benang. Membiarkanya bermain di tengah dua buah kenikmatan dosa, ia menikmatinya, tanpa pernah berpikir kalau kenikmatan itu membuatnya berandai semakin jauh, aku merajainya, seperti kekuatan Btari Kali yang selalu ingin berdiri diatas semua lawan jenisnya di muka bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;KINI dihadapnya sudah duduk perempuan yang berasal dari buah dosa yang ia paksa Bima untuk memetiknya. Kalya tahu ini hari ulangtahun putri tunggalnya, tak kuasa ia pulang ke Belanda sebelum melihat anak ini tumbuh sedewasa dirinya dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“happy birthdays...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh how...thanks anyway but...how come?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“i just know it”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kristall perempuan yang pandai, mereka mengajarinya dengan baik, bahkan ia beragama dan tidak membenci pencipta-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ayah bilang...tante tinggal diluar negeri, dimana tan?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Nederland, hidup disana menyenangkan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“kan kotor disana tan? &lt;i style=""&gt;too much sinner&lt;/i&gt;...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“well...im the part of that”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kristall bahkan dikreasikan untuk tidak sepertinya oleh Gayatri, pandangannya akan hidup sebagai perempuan yang menjadi makhluk dengan dosa asal yang melekat, sengaja untuk menghina keberadaannya yang selalu Gayatri anggap himpunan dosa manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“tante aneh...apa tante juga benci musik seperti bunda?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“oh i loved music, you dont?!?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“aku suka tapi bunda enggak, ia selalu jadi orang asing kalo udah marah masalah kesukaanku yang satu ini...aku cuma boleh nyanyi di gereja dan dengerin musik cuma halal disana, diluar itu semua bunda anggap itu nista, lucu ya tan, padahal ayahku kan jago main piano dan dulunya pemain band...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;For God sake &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Gayatri...sampai sejauh itukah ia mencoba menjauhkannya dari jangkauanku—bathinnya, ia tahu bahwa Gayatri tidak pernah tertarik akan musik seperti ia juga Bima, juga pengkambinghitaman Gayatri akan musik yang dengan biadabnya menjodohkan mereka yang terlarang untuk bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tapi untuk melarang buah hatinya bermusik, itu sama saja membunuh sisa-sisa kenangan akannya dalam tubuh Kristall.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku memandangnya berulang kali mungkin hanya sesekali berkedip, dalam senyap tidurnya, diselimuti kain abu-abu yang hanya jadi penutup badannya yang telanjang. Kenikmatan ini selalu ada di benakku, tak pernah sekalipun kuberniat untuk mewujudkannya ke dalam nyata. Namun ia terlalu hebat menebar pesona.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kaki-kaki telanjang yang mungil bermain dengan hasrat yang lama kupendam,lekuk-lekuk tubuhnya dan halus kulitnya yang seputih susu menghanyutkanku dalam aliran kemauan tertahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku menginginkannya sangat—tapi kami bukan sejoli yang dicipta untuk bersama. Tuhan takkan rela merestui kami, iblis yang akan bahagia melihat kami satu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Lekuk itu kembali menawanku, ketika Kalya membalikan tubuhnya dan membiarkan sedikit bagian tubuhnya terlihat dari sela-sela kain, membiarkanku melanglangbuana dalam khayal yang mendominasi kemasuk akalanku malam ini, oh dia menggoda, walau tanpa maksud buatku tergoda...kenapa tak ia buka seluruhnya, kenapa ia biarkan aku mengintipnya diam-diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Dagu itu...cuping telinga kiri yang mencoba memaksaku untuk berbisik lirih...dan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku menciumnya perlahan dan lembut, ia tetap terpejam walau merasa, tak pernah ia membalas ciumanku di pagi hari, ia biarkan aku mengontrol ritme cumbuan ini sesuka hati..membiarkan jari-jari ini menjamah seluruh tubuhnya, merelakan aku untuk merasa kelembutan akan nafsu yang menyaru dalam kasih, membuatku kembali jatuh dalam lingga dan yoni yang bersatu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;ya Bapa inikah dosa yang hendak kau tebus dengan bilur-bilurmu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;PANDJI memandang mereka dari kejauhan, berkelebat sejenak bayangan akan Kalya 21 tahun silam, Kalya yang hampir membuatnya tersungkur dalam mimpi buruk, ah tidak ia belum sempat jadi mimpi buruk walau selalu memaksanya untuk terlibat dalam serentetan mimpi buruk di hidup Pandji. Hari ini tepat 21 tahun kepergian Kalya yang tanpa pesan, ia tahu dengan jelas selama 21 tahun pula kebahagiaan itu terenggut dari hidup mereka bertiga, tapi apa daya manusia jika taruhan dosa lah yang menghadang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Sore tadi ia terima pesan singkat di telepon genggamnya, dari Kristall tentang hari spesialnya yang akan dirayakan dengan teman ayahnya yang ayu—tante Kalya ia sebut nama wanita itu, ia mengundangnya serta untuk makan malam di Kafe Morien. Biasanya mereka memang merayakan ulangtahun Kristall di kafe itu, Kristall menyukai tiramisu yang dijual disana, sedang ia dan Gayatri memang punya sejarah dengan tempat itu. Sayangnya hampir 3 tahun belakangan ini, Gayatri seperti melihat sosok Kalya dalam diri putrinya—begitu pekat kemiripan mereka, hingga buat hatinya miris setiap melihat Kristall tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;IA menatap nanar foto keluarga yang tergantung indah di &lt;i style=""&gt;dashboard&lt;/i&gt; mobilnya, ini tahun ke 21 bagi putri orang yang paling dibencinya sekaligus pria yang dipujanya sangat, hampir 3 tahun ini ia menghidari dirinya untuk menjadi bagian dari perayaan, berbagai cara yang ia tempuh untuk menutupi semua kebenciannya pada Kalya, tapi sosok itu lagi-lagi selalu muncul setiap melihat Kristall tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Awalnya semua berjalan begitu indah, bayi mungil yang ia renggut dengan kerelaan hati perempuan yang mengandungnya, mengobati luka hatinya sebagai perempuan yang tak mungkin menjadi ibu. Gayatri terlalu lemah untuk dapat merawat benih dalam kandungannya, anugerah Tuhan untuknya hanya pantas untuk jadi pajangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Sudah hampir pagi waktu akhirnya tangis bayi membuyarkan semua kemarahan yang ia pendam setahun belakangan. 4 Agustus 1985, pagi itu dingin terasa memusuhinya, matahari di timur seperti hendak minta bulan mengganti fungsinya, ia sendiri menggigil minta kekuatan. Pandji di dalam sana, memegang erat tangan Kalya yang merintih kesakitan, bahkan ditengah tangisnya yang menyayat, ia tetap berpikir perempuan itu iblis dalam jubah keanggunan, jijik ia melihat rupa wanita yang merenggut hal berharga dari hidupnya. Kebencian itu membuncah 4 bulan kemarin, tepat satu minggu setelah pemberkatan yang khusyuk di gereja tempat ia dan Pandji akhirnya bersatu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Satu minggu ini begitu membahagiakan hatiku, sampai sesak dadaku dipenuhi sukacita, tak henti-hentinya pujian kulimpahkan atas kebaikan Tuhan untukku. Seperti berada di awang-awang waktu akhirnya mendapati Pandji selalu disampingku. Pria yang kuperjuangkan, mungkin satu-satunya hal berharga yang takkan rela tercuri orang lain dariku. Tak kubiarkan apapun memisahkan kami, aku sudah cukup mengerat perih untuk kepergian manusia-manusia tercinta di hidupku, dan Bima lah yang membuatku sadar akan pentingnya memperjuangkan sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“ga bisa nduk...kenapa ga bilang dari kemaren, ini masalah gak kecil...”, suara Bima terdengar setengah berbisik tapi menahan sesuatu yang seharusnya keluar deras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku mendengarnya dari kejauhan, dari sini tak jelas dengan siapa Bima bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Mas...aku harus pergi ke Belanda, dan aku gak bisa pergi dengan keadaan begini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Suara itu begitu familiar di kupingku, mengapa perempuan itu kembali lagi ke kehidupan kami—baru saja kain ini kurajut dengan benang cinta, dan ia pasti datang untuk merobeknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kakiku berat melangkah ke arah mereka, aku hanya diam terpaku pada akhirnya, menatap dua sejoli yang terpisah atas nama Tuhan di hadapanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“nduk...jangan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“kamu egois ya...aku gak mungkin bawa ini semua ke negara orang, aku mau...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tapi entah darimana segala kekuatan itu datang, seperti digerakkan tenaga seribu kuda, aku mendekat kearah mereka...ternganga melihat perut Kalya yang membesar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“kamu mau apa?”, tanyaku menahan hati yang hampir pecah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Mereka pasti kaget melihat kedatangannku, sedari tadi aku memang pergi untuk menemani Tantri berjalan-jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“Gayatri...”, suara wanita itu kembali menyelimuti kabut amarahku, tak rela bahkan kudengar ia memanggil namaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“kamu mau apa lagi Kalya?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“aborsi”, ujarnya lirih tanpa memandangku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Bima cuma tertegun melihat keberaniannya, tak pernah kuduga bahwa perbuatan terkutuk mereka membuahkan benih dosa, dan dengan hebatnya perusak ini datang minta restu untuk membunuh...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Niat itu tak pernah terwujud, Gayatri tidak merelakan perbuatan keji itu dilakukan, bagaimana pun ia wanita yang menomor satukan hukum Tuhan, tak kuasa ia membangkang hal yang dikutuk oleh Causa Prima-Nya. Walau harus ia tanggung beban kebencian seumur hidupnya, ia tulus meminta jabang bayi itu sebagai hukuman kebejatan dua manusia yang memberinya kado terlaknat di hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Bayi itu ia beri nama Kristall, dengan hati beku dan amarah yang ia peti es kan, diambilnya Kristall dari suster yang membersihkannya dari darah perempuan kotor yang menyimpannya 9 bulan, meninggalkan Kalya yang masih lemah dan tertidur karena lelahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;MEREKA saling menatap, seperti sekian waktu dihabiskan untuk memendam rasa yang lama pergi—terkubur dalam naungan hati yang begitu pintar bersembunyi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;ia mencuri hatiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;berhari-hari kucari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;aku yakin ia mencuri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;KALYA menatap pria dihadapannya dengan segenap hati yang hilang hampir 21 tahun lamanya—pencuri hatinya yang ia biarkan bebas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;tidak cantik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;tak kuasa kucuri hatimu yang merah muda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;kadang ungu kalau tersentuh cemburu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;aku menyimpannya rapat—bukan di hatiku tapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;aku tak berani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;PRIA itu pun menatapnya tak kalah lekat, dipandanginya setiap detail yang terlewat selama 21 tahun, perkembangan perempuan yang membuat hidupnya tak lagi sama seperti ia yang dulu ada... Telah ia simpan rapat rasa itu dalam sudut hatinya yang tak mungkin ditemukan siapapun—sampai dengan hari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;maaf jelita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;hatimu kusimpan hati-hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;dalam kotak kosong warna jingga...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;kalau kau tak suka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;akan kuberi kuncinya agar terbuka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tak pernah ia lihat tatapan dialamatkan pada siapapun kecuali ia dan bundanya. Ayah terlampau dingin untuk seorang pria berhati hangat, tapi tatapannya yang tajam untuk perempuan yang duduk disebelahku...mungkinkah pernah terjadi sesuatu yang dalam dengan mereka, salahkah aku mengundangnya hadir dalam pesta sederhana tahun baruku, ya Bapa bagaiman perasaan bunda jika ia tahu—bathin Kristall kembali berkecamuk tanya. Tapi nyeri hati hampir 3 tahun karena tingkah bunda yang aneh menjelang ulang tahunnya menyeimbangkan kembali suasana hatinya. Berada diantara dua manusia berbeda ini mencipta gelora yang ia pun tak mengerti atas apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tante Kalya yang baru dikenalnya satu minggu...perempuan yang kini sering tak sengaja mengantar bahkan menjemputnya berangkat kuliah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ayah...ia pria hebat, dengan sejuta cinta yang ia punya, kharisma yang terlihat jelas dalam sejuk senyumnya. Orang yang tak pernah lupa mengecup pipinya sebelum tidur, menatap wajahnya begitu dalam—menyimpan rindu yang kini tumpah di depan matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Rasa sakit kembali menusuk hatinya, ayah kini menatap wajahnya dan mengucapkan selamat ulang tahun beserta harapan-harapan yang ia tanam untuk putri yang selalu ia banggakan. Ritual ini selalu dibencinya 3 tahun belakangan, ia membencinya sangat, ia mengutuk dirinya sendiri untuk dibakar dalam api terpanas di neraka. Terasa asinnya airmata di ujung bibir tipisnya, kenistaan itu merambat lemah dari mata hingga ke dagunya yang mungil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ini dosaku ya Bapa...jangan timpali kepada mereka yang menyayangiku...tak kubiarkan mereka remuk karena cintaku yang terlalu dalam untuk mereka—ayah dan bundaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Berusaha kuat Kristall menyeka airmatanya, tapi aliran itu tak terbendung. Mereka pikir mungkin karena ia terharu atas hadiah cinta yang membuat ruang hatinya bertambah sempit. Oh tidak tahukah mereka tentang derita seorang pendusta yang menutup rapat rahasia busuknya, tidakkah mereka sadar akan wajah kebohongan yang terlihat jelas dimatanya...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Teriakan dan tangis bayi yang diangkat malaikat ke surga kembali terngiang diruang kedap suara jiwaku. Wajah minta kasih dan sayang karena telah rela bertandang menyelimuti pandanganku yang kabur karena airmata. Ingin rasanya kubasuh cinta mereka dengan kasih yang kupunya, segenap rasa yang membuatku begitu kejam dan terluka karenanya...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ya Bapa biarkan aku tenggelam bersama dosa tapi jangan biarkan mereka luluh lantak karena kubunuh sebagian jiwaku...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Tak pantas kuminta ampunMu, atau bahkan sedikit iba untuk aku yang tak menjaga karuniaMu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Ya Bapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kubebani diriku hingga nanti malaikat maut cabut jiwaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Kubawa serta cinta yang tertunda untuk jiwa suci yang harusnya ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Meski kutahu ia tidak akan disana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“&lt;i style=""&gt;are you OK, dear&lt;/i&gt;?”, suara milik ayah membangunkan ia dari kesedihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“iya yah, aku cuma...”, jawabnya terbata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;“&lt;i style=""&gt;you’re gonna be fine&lt;/i&gt;”, kini sentuhan halus tante Kalya dan suara seraknya yang menyemangati Kristall untuk kembali bahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku rasa aku takkan pernah baik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:11;"&gt;Aku pembunuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-size:11;" lang="IN" &gt;*&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-size:8;" lang="IN" &gt;L.O.V.E &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;by Nat King Cole &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(taken with no permission—he’s already die!)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-5773895711278463646?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/5773895711278463646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=5773895711278463646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/5773895711278463646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/5773895711278463646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2007/05/kotak-kosong-warna-jingga.html' title='KOTAK KOSONG WARNA JINGGA'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-5894582156798994376</id><published>2007-05-25T02:11:00.000+07:00</published><updated>2007-05-26T21:42:43.936+07:00</updated><title type='text'>DALAM DARAHKU TIDAK ADA IBU</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pikiranku merayap cepat saat menyaksikan salah satu tayangan televisi tentang melodi duka lara atas nama kebesaran Tuhan. Diceritakannya bagaimana perempuan buta itu pasrah tak berdaya melihat suaminya memaki kasar karena si istri sudah tidak dapat melayani, tak bisa memuaskan birahi si suami, tak bisa membahagiakannya, dan serupa dengan si istri, tak bisa kusalahkan suami itu bila akhirnya ia tidur dengan wanita lain, dengan lacur yang cuma menguras hartanya—tokh dalam agama yang kuanut, wanita hanya mesin pemuas pria (begitu salah satu artist menggambarkan pola kehidupan yang mengenaskan bagi seorang wanita). Tontonan ini—yang selama ini membuat perutku mulas, akhirnya membuatku sadar bahwa dalam darahku tidak setetes-pun &lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang mengalir dari darah ibu, bahkan aku skeptis kalau ia pernah rela meneteskan darahnya padaku.... Namun bagaimana aku ada, bila telurku pun enggan menampung sperma Ayah ???, aku mungkin seorang wanita yang tangguh, tapi aku tidak mungkin seorang wanita tanpa ibu.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 255, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Dengarlah barang sejenak raungan dinding yang terpasung asa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Merapat ke dalam abslepsia yang cekat tenaga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: left; font-weight: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" lang="IN" &gt;Aku hanya ingin satu detik pelukan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h2 style="text-align: left; font-weight: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" lang="IN" &gt;Aku hanya ingin satu menit ciuman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="text-align: left; font-weight: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" lang="IN" &gt;Aku hanya ingin satu jam kehangatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Aku hanya ingin satu hari kebersamaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: left; font-family: arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-weight: normal; color: rgb(255, 255, 204);font-size:85%;" lang="IN" &gt;Lalu kau pergi lagi tinggalkan fana tandangi maya&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kamu itu nggak ada gunanya jadi istri, masa bikin nasi goreng aja rasanya hambar?”, teriakan Ayah kembali menggema di seluruh ruangan luas dalam rumah dengan arsitektur victoria yang kami tempati. Rumah ini menjadi hunian kami selama 5 tahun terakhir, semenjak Ayah dipromosikan sebagai manajer di Bank tempatnya mencari nafkah. Aku dan adikku begitu bahagia saat itu—kalau tidak salah kami masih duduk di bangku sekolah dasar, aku di kelas 6 sedang adik di kelas 5, kali pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku—sampai detik ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“jawab aku Hanni, kamu bisanya apa??? Ngurus anak cuma dua aja kamu nggak becus, kamu bisa apa... masih muda sudah ndak bisa melayani suami”, suara Ayah yang sedang bersemangat memaki ibu masih terdengar di telinga kami, walau sudah kupaksakan kupingku dan adik untuk tuli temporari dengan menutupnya pakai bantal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Yah, aku minta maaf, nggak enak Yah didenger tetangga...”, akhirnya kudengar suara ibu yang sedari tadi bisu menenangkan amarah Ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“tetangga kamu bilang, emang tetangga ngerasain apa yang aku rasain, emang tetangga kita semuanya punya bini bego kaya kamu, enggak Hanni, cuma kamu yang bikin semua laki-laki senewen...”, kembali Ayah meluapkan marahnya, menyemburkan semua murka yang memang sudah seharusnya keluar di pagi hari cerah ditengah udara pagi bulan November. Dan ibu—yah lagi-lagi ibu mendekati Ayah yang kalut dan menyentuh lembut punggungnya, sabar dan penuh kasih, tanpa setitik pun airmata—walau belaian cintanya dibalas dengan satu tamparan manis pembuka hari minggu ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ayah pergi dan kudengar sayup deru kendaraannya melesat keluar garasi, Ibu hanya tertunduk menyapu bersih pecahan piring yang tadi dialamatkan Ayah untuk memecahkan kepalanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku dan adik menghampirinya, memeluknya haru, mencium keningnya dan mengambil sapu juga das bin yang dipegangnya erat di atas kursi roda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Namaku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Roshita Ariadna, orang-orang biasa memanggilku Oshi, hanya keluargaku yang memanggilku Shita, dan semenjak di bangku SMA aku memutuskan untuk menyebut diriku Oshi dihadapan teman-teman. Oshi yang hebat, Oshi yang pintar, Oshi yang cantik, Oshi yang palsu dihadapan cermin bola mataku. Andai dosa itu tak pernah ada, andai keluargaku dapat kutukar semau hati, mungkin aku bukan Oshi yang sekarang, Oshi yang harus membuka kedoknya setiap malam di hadapan cermin usang peninggalan ibunya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Mum... ibu itu kasian banget yah, masa suaminya minta cerai tiba-tiba dia nggak marah...”, ujar putri tunggalku Heidi menanggapi sinetron duka lara ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Namanya juga film. Pasti ngada-ngada, nggak mungkin ada orang sabarnya kayak gitu...”, jawabku—kalaupun memang ada kesabaran sampai tak berbatas; bisa – bisa kedudukan Tuhan diganti olehnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku tinggal dalam homestay nyaman di salah satu kotamadya dekat salah satu gugusan pantai terindah se-Indonesia (menurut salah satu majalah pariwisata,-), kebetulan suamiku yang WNA menjadi salah satu tenaga ahli di industri terbesar besi baja. Kehidupan nyaman dengan harta bergelimang ini kunikmati hampir 15 tahun lamanya, rekor yang cukup lama—mengingat biasanya para pria asing itu hanya mengawini wanita pribumi dengan sistem kontrak selama 5 sampai 10 tahun, namun suamiku Oscar memang pria yang baik, atau lebih tepat disebut pria yang lemah !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jakarta, 5 Mei’89 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku bekerja sebagai sekretaris di salah satu Law Firm yang juga P.P.A.T di Jakarta, ternyata ijazah D3-ku berguna sebagai penyambung nyawa keluarga kami semenjak kematian Ayah 2 tahun silam. Aku datang ke Jakarta 3 tahun yang lalu, tinggal bersama saudara sepupuku yang kebetulan sudah mapan di Jakarta, sengaja aku tidak indekost karena biaya di pendidikan disana sudah hampir membuat keluargaku pailit. Untuk study saja, Ayah harus merelakan rumah mewah kami hasil jerih payahnya—padahal sudah hampir tuli kuping kami mendengar keluh kesahnya bila harus menjual rumah “hebat” versinya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan setelah 3 tahun memerih uang saku, aku lulus dari pendidikan D3 sekretaris dengan indeks prestasi yang memuaskan. Sayang Indonesia kental dengan budaya koneksi, sehingga angka 3,23 yang menghias ijazahku tidak juga membuatku mendapatkan pekerjaan di perusahaan bonafide. Sampai suatu hari saudara sepupuku mengenalkanku pada Ibu Sri Ambarwati—salah satu notaris terkemuka di Jakarta, yang membutuhkan sekretaris pribadi yang handal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari itu, hari dimana aku bertemu dengan seseorang yang menjungkirbalikkan kehidupanku, seseorang yang mengangkatku dari jurang keperihan, pengiritan, juga rasa sakit. Pria usia 28 tahun itu bukan pria asing yang tampan macam Brad Pitt, atau bertumbuh kekar macam Stallone... ia hanya pria asing bertubuh jangkung dengan rambut coklat dan mata almond berkacamata, Oscar Robertinno Lowrency. Tapi panggil saja dia Oscar, pria campuran Perancis-Italia yang warganegara Inggris, Oscar tinggal di Inggris semenjak ibunya yang juga penyanyi Opera di Italia, meninggal dunia karena kanker—entah kanker apa, karena setiap membahas Mamma-nya ia berubah lebih sayu. Sedang Daddy-nya yang keturunan Perancis tapi numpang lahir di Britania Raya, menduda sampai ajalnya tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oscar datang ke tempat kerjaku untuk mengurus salah satu propertinya di Jakarta yang akan dijual ke salah satu rekan bisnisnya, sedang ia sendiri harus pindah ke kotamadya Cilegon untuk menjadi tenaga ahli disana. Perkenalan kami berjalan lancar, dan kami memang cocok satu sama lain. Hubungan kami yang hanya berjalan selama 6 bulan, tenyata telah memantapkan hati Oscar untuk meminangku, saat itu pula Oscar datang ke kota masa kecilku untuk melamar kepada ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Bangun pagi dengan libido yang sudah diujung kepala memang lazim dialami oleh wanita bersuami—mungkin lebih tepatnya wanita dewasa, tapi hal ini menjadi tidak lazim manakala suami yang kau goda habis-habisan hanya mendengkur tenang sambil memunggungi. Tapi aku harus mencobanya lagi. Oscar tetap khusyuk dengan dengkurnya. Mungkin harus dimulai dengan pijatan halus di daerah paha. Tidak bereaksi, hanya sedikit bersuara uh. Harus naik ketahap meremas penis. Dia tetap diam, seakan yang kupegang hanya benda plastik buatan pabrik. Kucoba dengan meremasnya sambil mencium tengkuk Oscar. Ia bereaksi. Cihuy... Aku memberanikan diri membuka celananya, walau benda buatan Tuhan itu belum juga keras. Memasukannya ke mulut dan meremasnya halus. Pelan. Pelan. Pelan. Sedikit kencang. Sedikit jilatan. Kencang dengan gigitan. Mengeras. Bertambah keras. Ouch... Oscar berteriak sambil menjambak rambutku yang terjuntai di perutnya. Dan aku... yah sayangnya tak kusadari dari awal, kalau suamiku hanya berhasil membuahkan seorang Heidi Hortancia Lowrency di dalam rahimku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selebihnya sperma itu harus berakhir sebelum aku klimaks atau yang 2 tahun belakangan ini terjadi—di ujung lidah. Luar biasa menurut sebagian orang. Bertahan dengan blow job tanpa having sex selama 2 tahun terakhir. What an amazing ???. Tapi hal luar biasa bisa jadi biasa kalau rutin. Dan dari tekhnologi penis mainan aku beralih ke penis sungguhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Semua orang di komplek ini tahu, tetangga-tetangga kami lebih dulu tahu tentang keberadaan Ayah yang menghilang hampir 2 bulan. Dan kali terakhir ia datang, ia hanya mengambil baju dalam jumlah banyak, sambil pergi memaki ibu—yang tidak menangis.Mereka tahu. Yah orang-orang diluar sana tahu. Kalau ayah sekarang tinggal dengan tante Avy, yang juga tetangga beda blok dengan kami. Tante Avy, si janda cantik nan kaya. Tante Avy yang hanya tinggal dengan pembantu dan kucing angora kesayangannya. Tante Avy yang kesepian katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ia teman ibu, dan seperti kehidupan setiap gadis cantik, persaingan menjadi syarat mutlak dalam pergaulan—entah kasat atau tak kasat. Persaingan ibuku dengan tante Avy bukan tanpa kesadaran, ibuku sepenuhnya sadar kalau mereka adalah dua gadis sempurna di zamannya, begitu juga tante Avy. Dari segala perebutan hal sepele sampai rebutan gelar, itu hal yang lumrah. Hanya satu yang membuatku heran, kenapa ibu dan tante Avy selalu menggilai pria yang sama. Ayahku—Surya Prana contonya, ia hanya pria biasa, pintar, dan sedikit tampan. Untuk ukuran ibu, Ayah mungkin sepadan, tapi bagi seorang Avy, apalah gunanya Ayah... ia bisa mendapatkan pria anak pejabat apa...bila ia mau, kekayaan tante Avy adalah hal yang tak mungkin dimenangkan ibuku seumur hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan hari dimana Ayah meninggalkan rumah, mencoreng nama keluarga kami karena ia hanya pindah 3 blok dari rumah kami, merupakan hari paling berkesan sekaligus merubah kami—anaknya, menjadi wanita yang harus lebih tangguh dari wanita yang duduk di kursi roda diseberang kami, yang hanya diam mendengar gurauan tetangga tentang rumah tangga kamii yang dramatis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ta, lo lagi ngapain?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lagi renang sih, ada apaan Shif?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gua pengen ke rumah lo, tapi ada Oscar nggak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gak lah, ini hari rabu, dia kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anak lo?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Heidi sekolah ampe sore.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lo mau pergi nggak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Shif, lo aneh amat, mau kesini ya kesini aja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gua serius Ta, gua butuh lo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ya udah kesini aja, gua tunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Makasih ya Ta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Telepon-pun ditutup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Shiffa menelponku tiba-tiba di hari rabu yang panas ini, tapi Cilegon memang selalu panas tak terkontrol, seakan neraka-pun tak bisa memenangkan kepanasannya. Isak tangisnya sedikit menggangu kegiatan berenang sambil berjemurku dengan Davan, segera saja kusuruhnya berpakaian dan pulang, tak lupa kuselipkan 100 dollar di dalam celana panjangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Shiffa—adikku, tinggal di Tangerang bersama dengan suaminya Isman, Pak Isman aku biasa memanggilnya, karena usia suami Shiffa lebih tua dari kami bertiga—aku, suamiku, ataupun Shiffa sendiri. Usia pernikahan mereka sudah berjalan 8 tahun, tapi selama itu pula mereka tidak membuahi satu anak-pun. Sama sepertiku atau sedikit lebih perih dariku, Shiffa harus berjuang dan bersahabat dekat dengan keprihatinan, dan karena itu pulalah ia memutuskan untuk menerima pinangan Isman, yang juga merupakan teman pamanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“dia mau maduin gua Ta...”, ucap Shiffa yang datang 45 menit setelah meneleponku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“dia bilang perusahaannya butuh diwarisin, dan harus dengan anak biologis”, sambung Shiffa masih terus menangis. Kutawari ia segelas limun dingin buatan si bibi, tapi ia begitu sedih hingga limun segar itupun tidak membuatnya berselera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“lo minta dia medical check-up nggak?”, tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“udah Ta, tapi dia bilang dia sehat, dia nggak papa, buktinya bininya yang dulu bisa hamil, sayang nggak kuat jadi keburu mampus”, jawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Shif lo jelasin dong kalo dia tuh udah 49 tahun, udah tua, beda dong sama dulu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“cape gua ngomongnya Ta”, jawab Shiffa putus asa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“siapa madunya?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lenny, cliche kan, dia mau maduin gua sama sekretarisnya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Shiffa berhenti bicara sampai disitu, dia adikku—adikku yang tidak butuh belaian, tidak butuh pelukan hangat kakaknya, tidak butuh nasehat yang membuatnya makin senewen, ataupun support dalam bentuk apapun, hanya satu yang ia butuhkan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“lu masih suka nyimeng kan Ta !!!”, ujarnya mantap sambil terus mencampur tembakau dari rokok putih dengan kanabis yang diberikan Davan sebelum pergi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Satu tahun setelah acara kabur-kaburan Ayah yang sensasional, Ayah kembali lagi kerumah diantar supir tante Avy.Keadaan Ayahku lengkap dengan kopor yang dibawanya pergi juga jaket kulit yang dikenakannya di malam ia membuat segalanya sempurna.Hanya saja, ia terlihat lemah, serangan jantung yang menyerangnya kemarin minggu membuat separuh tubuhnya seakan lumpuh. Dan tante Avy yang sudah—sebenarnya ia kurang puas dengan servis Ayah, mencicipi Ayahku, meninabobokannya dalam payudara silikon terbesar yang pertama kali kulihat dengan mata kepalaku, juga berteman sangat dekat dengannya selama satu tahun terakhir... hanya memandang iba ke arah ibuku yang langsung menyambut Ayah sembari mencium keningnya, kuingat jelas kalimat terakhir tante Avy sampai Shiffa memukul pipinya keras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Hanni, Hanni, keadaan kamu nggak pernah berubah. Kamu mungkin dapetin Surya, ngurus dia kayak babu, tapi dia tetap milikku...milikku yang patut kunikmati, sayang dia sekarang sampah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari itu aku sebenarnya lebih memilih Ayah tidak kembali ke rumah, tidak kembali ke kehidupan kami yang hampir nyaman walau morat-marit. Penyakit yang dideritanya hanya menambah daftar panjang keprihatinan kami. Hanya sedikit lebih ringan dengan dana pensiun dini milik Ayah, namun uang segar tidak selamanya segar, uang itu harus habis karena Ayah tidak sudi menjual rumah kami—demi mempertahankan gengsinya.Imbasnya adalah aku dan Shiffa, mau tidak mau kami harus merelakan masa SMA kami dengan bekerja paruh waktu, usiaku dan Shiffa hanya terpaut satu tahun sehingga kami lebih mirip teman baik ketimbang kakak-adik, apalagi Shiffa dan aku memang akur semenjak ibu kecelakaan dan akhirnya lumpuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara para belia di muka bumi asyik pacaran, kongkow, ke disko... kami, yah... kami disini sekolah sampai pukul 3 sore, kerja di toko Ua Asan—kakak ipar Ayah, pulang kerumah lewat jam 8 malam, kadang melepas lelah dengan sembunyi-sembunyi merokok kanabis, yah saat itu kanabis sudah merajalela dan membentuk sebuah animo mutakhir dalam remaja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Aku ingat drama di televisi yang kusaksikan kemarin lusa, tentang bagaimana si isteri dengan senang hati menyambut sang suami yang lumpuh tak berdaya karena stroke, dikembalikan dengan kepuasan mutlak oleh pelacur yang menguras hartanya, sedikit berbeda memang dengan Ayahku—karena tante Avy alih-alih menguras uang Ayah melainkan tenaga kelaki-lakiannya hingga disfungsi ereksi, saat Ayah kembali dulu... bathinku berkecamuk, mempertanyakan apa yang dilakukan wanita kelewat hebat itu pada Ayah, hingga ia terserang jantung karena konsumsi viagra yang berlebihan, untuk masaku dulu viagra hanya berupa jamu kuat yang memang masih orisinil bukannya jamu campur zat kimia berbahaya, lagipun efeknya tidak semenakjubkan obat-obatan kimia di pasaran sekarang. Jadi dalam kasus Ayah yang tidak jauh berbeda dengan sapi perahan, viagra yang ia gunakan mungkin jamu campur zat kimia pertama yang ada di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun cerita itu begitu merefleksikan Ibu, ia juga menangis haru saat Ayah datang, mencium tangan dan keningnya sama seperti ketika ia memohon Ayah untuk berhenti berteriak dan kembali kagum pada pesona Ibu... bodoh, yah itu hal pertama yang selalu kusesali dari menjadi anak Ibu, aku lahir dari perjuangan wanita bodoh yang bahkan tidak bisa memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, dan bukan hanya aku yang menatap jijik ke arah Ibu saat itu, adikku tak kalah geram, bahkan dengan frontal ia menunjukan kemuakannya akan romantisme antar Ibu dan Ayah. Semenjak saat itu, kami berubah—sekali lagi di sela-sela napas kami yang hampir lega hidup memaksa berubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Shif kamu harus ngerti dong, Ayah kan sakit, jadi dia mesti dibantu, mesti dikasih dukungan biar cepet sembuh”, ujar Ibu di suatu sore kepada adikku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“siapa yang pengen dia sembuh??? Cuma Ibu doang, aku nggak Bu, aku pengen dia mati”, jawabnya lantang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibu cuma diam, tidak memukul seperti ibu-ibu yang lainnya atau menyuruh Shiffa diam, justru ia yang memerintah dirinya untuk diam dan mundur, menggerakkan kursi rodanya ke arah kamar, kembali berkutat mengurusi Ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ibu kenapa sih? Ibu tau nggak kalo Ibu juga sakit, Ibu juga repot ngerawat orang lain di atas kursi roda...”, lanjut Shiffa menyusul Ibu ke kamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ibu denger&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aku nggak, aku nggak butuh dia sembuh, aku butuh Ibu yang sembuh, IBU...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi sekali lagi Ibu cuma diam, menatap Ayah masih dengan penuh kekaguman, masih dengan penuh keyakinan, masih dengan penuh kasih. Walau seberapa kalipun Ibu menatapnya, Ayah tetap Ayahku... Ayah yang meninggalkan kami disaat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kami butuh, Ayah yang membuang jauh kasih Ibu untuk perempuan lain, Ayah yang sudi mengotori dirinya hingga lemah tak berdaya. Ayah yang murah, hingga cintanya dapat terbeli hanya dengan kesintalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara Ayah, ia tercekat ditengah-tengah teriakan adikku, tak kuasa melawan segala keinginannya—yang ingin Ayah pergi untuk selamanya, terbakar api terpanas di Neraka, merasakan pahit yang kami tanggung setelah kepergiannya, setelah petualangannya yang sensasional melambungkan kedramatisan keluarga kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kalo Tuhan nggak mau kabulin permintaan gua supaya dia mati, biar gua aja yang bikin dia mampus...”, ujar adikku lirih dengan napas tersenggal, menghampiriku yang sibuk membersihkan rumput.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ta, kok lo daritadi diem aja, lu udah bisu apa Ta?”, tanyanya sewot.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kalo mau bunuh, ya tinggal bunuh, nggak usah cerita ma gua, ntar gue jadi saksi kunci”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“geblek lu Ta...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“lu yang gila, masa ortu sendiri mau lu matiin.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“muak gua ngeliatnya...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“biar aja dia gitu, ntar juga dia mati sendiri”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“iya kalo mati, kalo enggak ?!?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“bagus...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“hah ???.....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“mati enggak, hidup enggak”, jawabku sambil masuk rumah, menaruh gunting rumput di lemari perkakas yang letaknya di dapur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Shiffa tetap diam di pekarangan, memandangi tetangga seberang rumah yang sedang sibuk mempersiapkan panggangan untuk sate, kemarin lusa adalah hari Raya Idul Adha, hari dimana para sapi dan kambing harus menerima kiamat mereka, hari dimana para karnivora berpesta dengan restu yang Kuasa... dan seperti kebanyakan manusia yang menikmati Qurban, para binatang itu selalu saja berakhir menjadi daging potong dadu yang ditusuk lalu dibakar. Aku sudah biasa melihat tetangga-tetangga kami berkumpul di pekarangan mereka masing-masing, tertawa dan tertawa bersama keluarga, sedang kami—bahkan Hari Raya Lebaran hanya kami lewati dengan sungkem pada Ibu, dan tetap mengutuk Ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Suamiku sudah pulang sejak pukul 4 sore, sementara aku tidak ada di rumah, aku harus menemani Davan berbelanja ke Plaza Indonesia, namanya juga anak muda, harus berpenampilan menarik supaya agency-agency itu menerima lamarannya, meloloskan castingnya, memberinya peran dalam sinetron, iklan, atau bahkan film. Tapi ia merajuk, ia bilang, kalau tidak ada uang pelicin, ia takkan bisa tenar seumur hidup, walaupun rupanya yang tampan, dan badannya yang tinggi sempurna, tidak pula menjamin keselamatannya untuk menjadi populer dan kaya. Aku bisa saja menuruti permintaanya, tapi aku harus minta persetujuan Oscar untuk menurutinya, segala pengeluaran di balik punggungnya berakibat fatal—bisa-bisa tambang emasku itu ngambek dan pulang ke negaranya, membawa Heidy dan meninggalkanku terlunta-lunta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oscar sedang makan malam dengan Heidy waktu aku datang, Heidy tahu aku pergi dengan Davan, Heidy gadis pintar yang tak akan mengadu pada Daddy-nya, ia takkan rela hidup berdua dengan Oscar tanpaku, ia takkan sanggup menelan mentah-mentah kenyataan hidupnya yang akan berubah mengenaskan bila semua itu terungkap. Selama ini kehidupan keluargaku sempurna, semua orang tahu kalau aku istri yang berbakti, yang mendampingi suaminya, mengurus anaknya dengan baik, dan Davan—kedoknya tidak akan terbuka, selama seluruh manusia yang tak perlu tahu itu menganggapnya keponakanku, anak dari saudara jauhku di Sukabumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah makan malam, Heidy pergi ke toko buku yang letaknya di pusat kota, tempat tinggal kami hampir berada di ujung kota, di bukit sejuk yang bernuansa perumahan a’la Amerika. Dan Oscar, ia menghampiriku yang sedang berkutat di meja rias setelah membersihkan—wajib dilakukan karena permainan nakalku baru saja kulakukan di pinggir tol. Ia mencium tengkukku dan memijat pundakku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“are u tired?”, tanyanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“enggak, kenapa?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“i want to spend this night with you”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“tiap malem juga gitu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“more romance”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“whha... “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“shall we?!?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ia langsung menggedongku dan merebahkan tubuhku di sofa, sofa empuk tempatku biasa menikmati Davan di siang hari dan memuaskan Oscar di malam hari—yang hanya satu bulan sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari ini sepertinya ia ingin memanjakanku, ia membelai lembut seluruh tubuhku, membuatku menikmati suguhan kenikmatan yang selama ini postphone dari kehidupan rumah tangga kami, aku tidak membathin macam-macam, tokh sekalipun kemanjaan yang ia berikan malam ini hanya kamuflase dari tindak menyimpangnya, aku tidak keberatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oscar patut menikmati kesegaran yang lain selain aku, walau mukaku kencang, payudaraku cup C, bokongku indah, dan tubuhku sintal... tidak bisa kututupi bahwa aku hanyalah wanita berusia 38 tahun yang bolak-balik ahli kecantikan demi satu kata—seksi ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Biarlah... aku hanya bertugas menikmati dan dinikmati, aku tidak punya tanggung jawab moril apapun untuk kebahagiaan, bukankah kebahagiaanku sudah kupugar sejak lama. Heidy memiliki kehidupan yang sejahtera, Oscar dengan reputasi yang baik, dan aku yang tanpa kekurangan. Itu kebahagiaanku. Itu inginku. Aku bukan Ibu. Bukan Ibu yang bahagia dengan obsesi untuk memiliki Ayah. Bukan Ibu yang takut dosa dan menyerah menderita. Bukan Ibu yang rela membuat kedua anaknya muak. Bukan Ibu yang sudi menjual harga dirinya demi reputasi istri solihah. Bukan... Aku Roshita Ariadna, aku anaknya, tapi aku membuat kebahagiaanku sendiri, menyaru dalam gelimang kepuasan yang tak bosan-bosannya bertandang, dan aku tidak ingin satu tetes-pun dari sifat manutnya menulariku, menulari Shiffa, bahkan menulari Heidy. Kami berhak semena-semena, kami berhak menjadi yang pertama, kami berhak bahagia—dihujani harta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="line-height: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam yang indah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="line-height: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bulan meruak tawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="line-height: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bintang melantun do’a&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="line-height: normal; color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memohon para pendosa diberi kekal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-5894582156798994376?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/5894582156798994376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=5894582156798994376' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/5894582156798994376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/5894582156798994376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2007/05/dalam-darahku-tidak-ada-ibu.html' title='DALAM DARAHKU TIDAK ADA IBU'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-748378921275554896</id><published>2007-05-25T02:07:00.000+07:00</published><updated>2007-05-25T02:21:26.978+07:00</updated><title type='text'>BINCANG DALAM RANJANG</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;………………………………………………………………………………..............………………………………………………………………………...…………...……………………………………………………………………..……………………………………………………………………………….........????????????????????? Mau apa—mau tulis apa ?!?.....................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;enggak tahu, belum punya ide, tapi aku mau_aku mau tulis semua yang ada disini. Every detail. Tanpa terkecuali, bisa? Pasti bisa. Aku bisa menulis, bahkan mengarang. Apa saja_cinta, kebodohan, sisi lain, atau kebencian dalam bungkus cinta. Semua orang bisa. Semua orang bisa cerita, dari segala cerita-cerita tentang tetangga, sampai segala macam hidup dalam ranjang , yang sama sekali tidak menarik.... Eeehh tunggu, cerita di ranjang selalu menarik bukan ? seperti menonton pertunjukan tabu yang katanya porno_padahal yang bicara para freudian pecundang yang takut istri. Ach... tapi apa peduli, biar mereka dengan bakat absurd dari lahir yang masih lekat sampai mati_kasihan !!!! Dibilang apa peduli... kenapa masih marah-marah dengan para pesakitan itu, nah nah... sekarang kenapa jadi sarkas dengan menyebut pesakitan. Mana bisa kita judge orang lain sembarangan. Mereka juga punya private right loh. Mana mau di-judge mengidap sakit jiwa. Biar saja... mereka kira kita juga gila, aneh, absurd, sok idealis, claustrophobia, anti kemapanan.... anti kemapanan bagaimana_lah kita juga kerja dari jam 8 sampai 5, jadi budak kapitalis_tapi suka juga. Kita enggak perlu pusing pikir-pikir dapat uang darimana ???? Berarti kita memang absurd, memang bodoh, memang sok idealis, tapi kita tidak anti kemapanan, soalnya masih cinta melacur. Masih cinta bos-bos gendut—yang irit hambur-hambur uang dengan teori kapitalis.... bagus... bagus.... sekarang pindah topik ke direktur pelit yang nolak kasih kenaikan salary. Padahal dari dulu banting tulang, iya banting tulang. Senyum-senyum manis yang dibuat-buat setiap mereka mondar-mandir_mengkontrol katanya !!!. Padahal cuma mau lihat paha para karyawati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mulus-mulus itu. Bangun pagi-pagi buat berangkat ke kantor on time__kalau terlambat potongan gaji yang datang............................ Wiiiiiiiiiiiiihhhhhh, tenang kenapa sih.... kenapa mesti pusing pikir-pikir tentang gaji sekarang. Katanya mau writing. Mau bikin masterpiece biar terkenal. Biar bisa masuk majalah karena dinilai brilliant... pendatang baru dengan bakat mengagumkan... iya kan ?!? itu yang diinginkan, yang dicita-citakan, yang jadi impian setiap malam,,,, dasar gila ketenaran... narsis. Katanya enggan memeluk Agama, kok malah jadi penganut narsisme yang saleh. Yang absurd itu kamu. Kamu yang buat semua jadi absurd. Orang lain cuma ikut numpang keren saja. Loh... jangan marah. Jangan marah sama idelisasi, biar jadi narsis, asal konsisten. Memang tidak mau memeluk, tapi bukan berarti tidak mau memeluk apapun. Salah itu.................................................................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;mau memeluk semuanya. Semua paham, yang diketahui pastinya. Yang dimau, yang diinginkan, yang ibadahnya gampang. Kalau begitu jangan bilang enggan... tapi... tapi apa ???? Peduli apa sama kosa kata. Biar berantakan. Asal tahu apa yang diucapkan. Mengerti dengan jelas, dan rela menaggung resiko... heh_dipikir kalimat itu tidak berpengaruh !!! Siapa yang ajar, yang ajar itu cuma murid bodoh yang cari pembenaran dengan membenarkan opininya sendiri... jangan mau dibodohi sama orang bodoh.... kata itu penting ditelaah... dasar dungu_bagaimana mau jadi penulis terkenal kalau kalimatnya berantakan,,,, memangnya mengarang berantakan itu amazing apa ????? Idiotta..............................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Siapa yang goblok. Biar mereka pikir berantakan. Aku pikir ini sesuai. Sesuai dengan apa yang aku mau. Sesuai dengan pikiranku. Enggak perlu bohong, jangan ada proses editing. Editing itu cuma merusak karya..............&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Jadinya seperti memutarbalikkan fakta. Jadi tidak orisinil, tidak natural, tidak jujur..... jangan mau baca karangan-karangan yang isinya kebohongan. Kita sudah cukup kenyang membaca sejarah negara yang tiap hari direvisi. Jangan mau dibuat pusing dengan bacaan yang isinya menjebak, yang palsu itu.... Siapa bilang palsu... siapa bilang mau memalsu.... Cuma menyaring yang salah, kenapa sekarang jadi paranoid. Anggap semua orang hendak merusak, padahal mau ditambah__untuk apa... jangan ditambah, kalau sudah dicetak, artinya sudah bagus... makanya dibilang memalsu. Jadi tidak orisinil. Jangan tambah bumbu-bumbu yang tidak perlu. Jangan rusak karyaku..... dasar keras kepala, dibilang mau membenarkan..... lalu kapan mau maju kalau tidak mau mendengar............ Diamlah, atau lidahmu akan membuatmu tuli...................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;siapa yang bilang ???? Tumben kalimatnya tidak berantakan. Pepatah Indian... masa tidak tahu ?!? dasar bodoh, wawasan sempit, jangan khutbah tentang kalimat bagus, sok tahu......................................................... sok pintar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Siapa yang sok pintar............................. aku memang pintar, aku ahli bahasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Masa kamu belum tahu. Satu pepatah Indian kuno tidak akan membuatmu tolol seumur hidup. Jangan buat judgement dari satu sisi. Tidak baik. Itu egocentris namanya........ Memang.... memang egocentris, tapi aku lebih baik dari yang lain karena aku mengakui.... mengaku apa, itu bukan pengakuan. Itu namanya sudah tertangkap tangan. Mana bisa mengelak, jalan satu-satunya mengaku. Maling tertangkap basah, kalau lari yah berujung di penyiksaan masyarakat. Masa yang seperti itu masih harus diajari............... jadi siapa yang sok pintar sekarang................ Tidak ada, karena tadi sudah ditetapkan hukum untuk tidak men-judgement tanpa mempertimbangkan sisi yang lain..........................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Bisa-bisanya bicara begitu sekarang. Tadi bicara lain... mulai seperti munafik yang tergila-gila masuk surga.... Padahal surga itu tidak punya kolam susu, tidak ada bidadari dengan pakaian tipis, tidak ada restoran cepat saji yang pakai telepati........ iya neraka juga tidak ada..... tidak punya malaikat tanpa nafsu yang tega memotong lidah, terus tumbuh lagi, potong lagi, tumbuh lagi, terus, terus, terus. Tidak ada perempuan yang bunting lalu mendidih dalam api.... bahkan Lucifer-pun tidak ada, karena Lucifer hidup di surganya sendiri, dalam kerajaan kekalnya sendiri........... Kenapa tega mendeskripsikan aku seperti itu.... aku tahu surga dan neraka itu keadaan_jangan sembarangan bicara, aku paham, sangat paham. Aku tidak bodoh. Tidah se-naif itu.......... Manusia naif lebih baik dari manusia munafik, jangan keliru mengartikan.... jangan sembarangan mengartikan. Sudah dibilang perhatikan pola bahasa. Ini maksud dan tujuannya, untuk memperjelas, nah lo.... mau bicara apa lagi ?!?. Manusia naif itu cuma polos dan lugu, dan sedikit bodoh, tapi tidak munafik..... Munafik itu tahu setengah-setengah tapi seperti tahu semuanya. Kalau itu namanya sok tahu...... bukan munafik, munafik itu sama sekali tidak tahu tapi berkhutbah layaknya ahli......... Sama saja hanya berbeda bahasa dan takaran contoh.... Tidak bisa, tadi diajarkan masalah tata bahasa, sekarang tidak mau dikoreksi. Bagaimana ini ?!? Ini juga namanya munafik, sudah salah tidak mau dikoreksi. Jangan seperti para pembohong yang tega membohongi kita dengan cerita kebijaksanaan, padahal dia yang membunuh semua dinasti Muhammad........ Jangan bawa-bawa satu sejarah Agama, jangan hanya karena memeluk semuanya jadi bebas membicarakan, ingat aku tidak peduli, aku lahir dari batu jadi tidak berTuhan..................................................................................................................... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Semua manusia punya Tuhan, bagaimana bisa bernafas kalau tidak ditiupkan ruh oleh Tuhan ????? Bagaimana penjelasan tentang teori irasional alam semesta, jangan hanya mempertimbangkan teori Stephen Hawking......... Kalau kenyataan itu memang benar adanya jangan ditampik. Dahulu ada teori pembuatan dengan tanah disusul dengan tiupan di ubun-ubun itu, karena mereka belum secanggih saat ini, dan mungkin saat itu seorang Stephen Hawking belum menjadi apa-apa.........Dia tidak berteori tentang kelahiran, tapi tentang jagat raya. Aku bertanya tentang kelahiran......................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Katanya ahli tata bahasa, kenapa harus ada penjelasan ulang tentang kalimat tanya ?!?............. Huh............... kalau sudah begini diam................Tidak bisa menjawab dengan lancar, dasar.... sudah kubilang kau bodoh_jangan menampik, akui saja................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Kelahiran terjadi karena adanya penetrasi antara dua gender yang berbeda. Aku bukannya tidak tahu, memang kaurasakan itu dalam perut buncitmu itu kalau ada sesuatu yang meniup ubun-ubun jabang bayi itu................ tidak.............. aku tahu jawabannya tidak......Lalu manusia pertama yang melakukan penetrasi itu siapa ????.........................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Adam and Eve, dengan begitu benarlah teoriku kalau ubun-ubun itu ditiup.... Bukan_Bukan,,,, nenek moyang kita primata.... bacalah teori Darwin, walau salah satu Agamamu itu menyebutnya manusia terkutuk.... Iya aku tahu. Membacanya dengan jelas, ketika salah satu teman menyatakan Darwin bentuk dari titisan Dajjal.... tapi tangan siapa yang menciptakan primata raksasa itu pertama kali, siapa makhluk yang berpenetrasi untuk pertama kali lalu lahirlah makhluk-makhluk lain yang akhirnya mengikuti para terdahulu ???????????????????????????????????????&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Kini kau diam............lagi_lagi............... Hening, menatapku seolah aku seonggok daging yang siap dilahap, namun terlalu alot............................... kenapa, apa ? Aku menatapmu dengan angkuh, tertawa diatas pertanyaan yang tak mungkin kau jawab.......... kemenangan atas teori keTuhanan yang aku anut dengan sepenuh hati. Atheis bodoh yang menyedihkan.......... kini aku yang menatapmu bagai seonggok daging segar yang siap dimutilasi untuk akhirnya berada di mangkuk sup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Masih diam....................... kini lebih sunyi, senyap, kudus..................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Mengapa ada kekudusan disini, ketika kulihat kau terpejam dan merasakan nafasmu berhembus dari hidung bangir yang membuatku tergila-gila...................................................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Kenapa diam, ayo jawab !!!! Aku ingin kalimat yang membuatku bertekuk lutut kembali terucap, aku ingin perdebatan sengit yang selalu membakar gairah itu datang lagi.... mana suaramu, mana pikiranmu, mana brainstorming-mu, mana..... mana lelakiku ???....................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Namun kau tetap terpejam, enggan membuka kedua matamu, dan aku mulai mencium setiap inchi harum tubuhmu, setidaknya bukalah matamu..... aku bisa menemukan jawaban dalam matamu...............................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Tidak semua jawaban kau temukan dalam mataku, hanya pernyataan cinta yang kau temukan. Pernyataan macam tadi didalam otakku, tidak tersalurkan dalam pancaran mata...... nah kau bangun dari kesunyian, kemana sajakah_rindu kudengar suara itu, suara bantahan dari mulutmu.....................................................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Kenapa kau diam ?????? Lagi-lagi diam........ssssssshhhhhhhhhh.....................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Diamlah !!!!!! Apa................ kenapa menyuruhku tutup mulut, aku ingin kita bicara lagi, ayolah !!!!! sssssssshhhhh.............................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;aku sedang merasakan kekalahanku dan berpindah haluan,,,,, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Diamlah..... tidak aku ingin bicara..... aku benci sepi dan diam. Kau membenci sesuatu yang kau anut, mana bisa ? kalau begitu kini kau Atheis bodoh yang malang..................................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Aku bukan Atheis_aku berTuhan, kau tahu itu kan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;Kalau begitu diamlah.... Diamlah—maka kau akan temukan Tuhan........... Sepi—kali ini kudus terasa pekat,,, ya y a ya aku merasakan...merasakan apa... Tuhan__yang mana........ mana_mana Tuhanku, bahkan ditengah kesunyian ini aku tidak bisa merasakannya...Lalu kulihat ia tetap terpejam dengan ketenangan yang amat halus, dan aku..............aaaaaaaaahhhhhhh !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IN" &gt;sial................................................................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;span style="font-family: arial;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Kemana kau Tuhan, aku hambamu yang tak pernah menyangkal kehadiranMu__tapi kau malah bertemu dengannya, dengan seseorang yang lahir dari batu, dengan makhluk yang selalu menghujat karena kedengkiannya pada superior yang kau miliki....... Bosankah kau melihat rupaku yang melas minta tenaga dan rezeki ?? Ternyata aku memang munafik bodoh yang malang, dia bahkan bisa menemukan Tuhan dalam 5 menit !!!!!!!!!!!!!............................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-748378921275554896?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/748378921275554896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=748378921275554896' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/748378921275554896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/748378921275554896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2007/05/bi-n-c-n-g-d-l-m-r-n-j-n-g.html' title='BINCANG DALAM RANJANG'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-1887490831839818308</id><published>2007-05-25T01:56:00.000+07:00</published><updated>2007-05-25T02:05:31.537+07:00</updated><title type='text'>K O M A  [ karena kalimatnya belum selesai ]</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena saat kau dekat aku akhirnya jauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena saat kau ingat aku akhirnya lupa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena saat kau cinta aku akhirnya benci&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena saat kau datang aku akhirnya pergi,,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena saat kau tulis titik aku berakhir dengan koma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Karena kalimatnya belum selesai—sampai sekarang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku berkutat membaca penggalan puisi Hardjawinata Kartha Winangun, sambil sesekali menguap karena kelelahan, tak lama Ibu mengetuk pintu kamarku lalu menawarkan segelas susu dan 1 tangkup roti isi keju, hari ini sama beratnya dengan hari kemarin—begitu ia selalu berbicara padaku, entah untuk apa mungkin untuk mengingatkan betapa perut yang terisi cukup akan membuat harimu sedikit lebih ringan. Dan seperti biasa aku memakan sarapan trademark ibu dengan berjalan terburu-buru ke arah kendaraan kesayanganku—volkswagen tua berwarna hijau hasil jerih payahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namaku Bintang, anak tunggal dari seorang ibu yang sudah 25 tahun melajang. Ayahku hanya orang biasa, begitu ibu selalu bilang, karena seumur hidup aku hanya mengenalnya dari photo usang yang terselip di dompet ibu, mereka tidak pernah sempat menikah karena Ayah harus pergi menghadap yang Kuasa lebih cepat dari siapapun di hidup kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibu wanita yang tegar—hanya dengan mengandalkan keahliannya dalam bidang menjahit ia bisa menghidupiku hingga sebesar ini. Namun terkadang kulihat gelayut sayu yang menghias paras ayunya, sering kali kulihat ibu menatap cermin dengan gemas—karena apapun yang ia sembunyikan padaku tertoreh jelas dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tatapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sesekali aku rindu sosok Ayah, dan dengan hanya mendengar cerita ibu tentang begaimana tampan dan gagahnya Ayah, aku merasa sudah terpuaskan—dari segala hasrat dan kerinduan akan Ayah. Sama seperti ibu, hanya dengan memandang kenangan usang itu—segala kerinduan dan cintanya terpuaskan sudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nek dimana lo, cptan ke kantor dong, si Jampang udh ngamuk2 nanyain kebrdaan lo. Emang tu kodok bikin mslh lg ya? Pokonya lo cptan dtg deh, alsn gw udh abs bt bhongin tu kutu. Oia hr ini lo jd wawancara lsg Pak. Hardja, dandanan lo oke kan??? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sender : +628569329333&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;07:25:40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;14/09/03&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namaku Bintang dan aku seorang jurnalis di salah satu majalah yang biasa mengulas tentang situasi penting berikut tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, dan hari ini bukan merupakan senin terberat dalam hidupku—hanya entah mengapa semangatku terlalu menggebu-gebu dalam reportase kali ini... Hardjawinata Kartha Winangun, nama tokoh yang siang ini akan aku wawancara, ia seorang penulis sekaligus pelukis, saat rezim orde baru, Pak Hardja merupakan salah satu penulis yang berlangganan tetap dengan hotel Prodeo karena kehebatan tulisannya. Ia mungkin tidak sematang dan sepedas Pramoedya Ananta Toer, namun justru karena kehalusannyalah ia patut keluar masuk penjara—tipikal mahasiswa muda yang geram karena akhirnya orde baru cuma momok yang lebih menakutkan dibanding orde lama. Tidak banyak fakta yang kutahu dari seorang Hardjawinata Kartha Winangun; selain kenyataan bahwa jalan halus yang dikamuflasekan olehnya ternyata masih tercium tajam oleh para badut-badut keparat itu, yang kutahu hanyalah bahwa ia tinggal sementara di kediaman adiknya bersama dengan 2 kucing dan satu great dane peliharaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Iya... gw masih di jln, bntr lg jg nyampe. Blg sm si Jampang, gw lsg k rmh P. Hardja, tu org ptg st plg bnci sm tkg ngret... thanks yow !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sender : +62818805880&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;07:45:55&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;14/09/03&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan disinilah aku, didepan pagar besi model tua yang cat putihnya sewarna tulang, disambut oleh gonggongan great dane dan senyum ramah seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu pagar untukku lalu mempersilahkanku masuk kedalam rumah sedang bercat senada dengan pagarnya yang dikelilingi halaman yang tidak terlalu luas namun terlihat nyaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bapak sedang mandi Neng... Neng ini yang kemarin lusa datang kemari kan?”, tanya perempuan itu sambil menyuguhkan secangkir teh hangat dalam gelas porselen bergambar kincir angin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya bu.”, jawabku singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bapak pesan sama saya supaya Neng disuruh menunggu sementara bapak mandi, Neng datangnya tepat sekali sih tidak seperti wartawati yang lain...”, balasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bapak tidak suka menunggu, saya kira semua orang benci menunggu, tapi Bapak lebih saklek kalau sudah tidak suka... bisa-bisa beliau tidak mau tatap muka seumur hidup”, lanjut perempuan itu sambil tersenyum. Dan aku-pun membalasnya dengan senyuman, karena kemampuan berbasa-basiku sangat minim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Neng asalnya darimana?”, tanya perempuan itu kemudian ditengah-tengah hening yang tak sengaja kuciptakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Saya lahir disini, tapi ibu saya dari Boyolali, kalau bapak saya dari Solo”, jawabku seadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“wah sama dengan saya ya.... Saya sama Bapak aslinya dari Solo juga, Neng... tapi semenjak Bapak kuliah, kita imigrasi kesini, saya ikut Bapak soalnya saya kepingin pinter juga, sayang saya cuma mampu masuk sekolah keputrian... otak saya tidak sepinter Bapak kalau urusan sekolah tapi kalau urusan beres-beres saya jagonya”, tukas perempuan itu mencoba berkelakar, dan aku mengulas sedikit senyum ceria untuk menghargainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Oh ya nama Neng siapa, daritadi ngobrol saya belum tahu namanya siapa?”, kembali ia bertanya kepadaku—pertanyaan tipikal khas keramahan orang Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bintang... panggil saya Bintang saja bu”, jawabku seraya menyeruput teh hangat yang disuguhkan untukku, tenggorokanku terasa kering selama masa penantian ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak lama Pak Hardja datang dengan gaya santainya, kaus swan berikut celana pendek selutut sambil memegang rokok kretek di tangan kanannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Nduk... kamu ngobrol dengan siapa?”, tanya Pak Hardja sambil melihat ke arahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ini loh Mas, wartawati yang mau wawancara Mas Win, daritadi sudah nungguin, tepat waktunya kelewatan sih Mas”, jawab perempuan yang akhirnya kutahu bernama Hapsari—adik kandung satu-satunya Pak Hardja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beliau hanya mengangguk sambil mengulurkan tangannya kearahku, “Hardjawinata Kartha Winangun, senang berkenalan dengan anda, bibit muda yang—semoga anda memiliki idealisasi dalam bentuk apapun”, memperkenalkan dirinya yang sudah kelewat tenar dimata semua orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bintang Artha, saya lebih senang akhirnya bisa mewawancarai Bapak”, jawabku singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bintang Artha... nama anak Bintang Artha”, tanya Pak Hardja sambil bertatapan dengan Bu Hapsari yang juga mengernyit kebingungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“iya nama saya Bintang Artha, tapi panggil saya Bintang saja, Pak”, balasku keheranan, dan jawaban atas keherananku hanya dijawab oleh ulasan senyum mereka sambil menunjukan lukisan perempuan ayu yang terpampang di ruang tengah yang letaknya berseberangan dengan ruang kerja Pak Hardja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nama wanita dalam lukisan itu adalah Bintang Artha, gadis penari yang terkenal di era akhir tahun 60 sampai 70-an. Parasnya ayu selalu mengulas senyuman khas penari—menggoda namun sulit diraih. Ia selalu menari di Pasar Seni 1 bulan 2 kali dalam beberapa pementasan terkenal, tak pelak membuatnya sangat tenar saat itu. Sayang ketenaran penari yang juga merupakan seorang penghibur berbeda dengan seorang aktor, aktris, atau bahkan penyanyi. Bintang Artha yang ayu membuat seorang Hardjawinata Kartha Winangun terpikat dalam sebuah pementasan yang menceritakan tentang kasih terlarang... saat itu sabtu malam ditengah udara sejuk pada pertengahan tahun 1975, Indonesia sudah berada dalam rezim baru—ujar Pak Hardja sambil sesekali menghisap rokok kreteknya, saat itu beliau merupakan mahasiswa kritis yang juga merasa perlu untuk berteriak-teriak atas nama kebebasan yang makin kencang dikekang saat orde baru oleh kekuasaan kaum militer, luapan-luapan kemarahan khas jiwa mudanya ia torehkan dalam puisi, cerita pendek, bahkan dalam lukisan—salah satu lukisannya bahkan sengaja ia bakar ditengah-tengah pusat keramaian sebagai salah satu aksi protes. Dan ditengah malam dingin di sabtu malam, setelah berhasil menjual salah satu karya seninya, Pak Hardja mampir ke Pasar Seni untuk sekedar mencari hiburan, dan disanalah ia bertemu dengan Bintang Artha, gadis ayu bermata bulat dan berkulit halus berwarna kuning langsat khas perempuan Indonesia, gemulai tariannya membuat Pak Hardja terpikat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Nama saya Hardjawinata Kartha Winangun, kalau boleh tahu nama Nona siapa?”, ujarku setelah melihat pementasannya 3 kali, saat itu kuberanikan diriku untuk bertanya kepada gadis ayu bak sedap malam itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bintang Artha, panggil saya Bintang saja, tuan baik sekali mau sungkan bertanya kepada saya”, jawabnya sambil menggenggam tanganku, tangannya yang halus membuatku mulai jatuh masuk perangkap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Saya pengagum anda, dan panggil saya Win... orang-orang biasa memanggil saya Win”, tukasku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Mas Win ini pengagum saya, aduh Mas Win ini bisa saja, saya ini cuma penari amatir, mosok punya penggemar...”, balasnya dengan intonasi suara yang halus namum alami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak mungkin kau penari amatir—pikirku, kalau kau hanya seorang amatir mengapa kehalusan setiap lekuk gerakan tarianmu semakin membuatku jatuh kedalam imajinasi yang selama ini tak pernah kurasakan, mungkin kau Dewi atau Bidadari tapi kau sembunyi dibalik jubah ragawi manusia biasa; sama sepertiku, bedanya aku benar-benar hanya manusia biasa, manusia yang tak mungkin bisa memikat manusia lain hanya dengan olah gerak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bintang... ehm... kalau saya boleh tahu, adik tinggal dimana?”, tanyaku gugup karena melihat sinar matanya silau berbinar, menyentuh halus sudut hatiku yang mencoba masuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“tanya rumah saja kok susah Mas Win, saya tinggal nggak jauh dari sini, cuma 2 blok kalau jalan....”, jawabnya lalu mengambil sobekan karcisku dan menuliskan sebuah alamat di dalamnya, “ini alamat saya kalau-kalau mas Win sudi mampir untuk sekedar membahas hal menarik, lukisan juga boleh...”, lanjutnya sambil menyerahkan kertas tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kau suka lukisan juga, how interesting&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;person...”, tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kemarin dulu Mas Win bikin pagelaran kecil-kecilan di kampus kan?!? Kebetulan saya ada perlu dengan teman di kampus Mas Win, jadi sekalian mampir sekedar melihat kepiawaian seorang Hardjawinata Kartha Winangun yang hobby melukis juga demonstrasi”, jawabnya manis sekali, sayang percakapan ini tidak berlangsung lama, Bintang harus pergi karena pamannya sudah menunggu diluar untuk menjemputnya pulang. Tetapi hanya percakapan ini yang usai, sedang hubungan antara kami baru saja dimulai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pak Hardja masih menghisap rokok kreteknya sambil sesekali mengusap peluh di dahinya, kini kami duduk di beranda samping yang asri, beberapa kali kucuri pandang ke arahnya yang sedang memberi makan ikan-ikan koi yang tumbuh sehat di kolam segar berukuran sedang diseberang kami. Tak lama waktu berselang Bu Hapsari datang seraya membawa beberapa kudapan buatannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“dimakan Nak Bintang, berbincang dengan Mas Win itu memakan waktu lama, jadi perut harus terisi kenyang, jangan sungkan dengan saya...”, ucap Bu Hapsari dengan senyum hangatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“adik saya ini memang ramah sekali dengan orang lain, kemarin dulu ia menawari seorang banci yang sedang ngamen untuk makan siang disini”, sahut Pak Hardja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bu Hapsari kembali tersenyum hangat menanggapi perkataan kakaknya, Bu Hapsari memang perempuan paruh baya yang amat ramah, perawakannya yang kecil dan sedikit tambun membuatku mengingat tokoh bu Teko yang baik hati di cerita dongeng si Cantik dan si Buruk Rupa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak sengaja kulihat hiasan disamping sayap kanan dan kiri pintu, lukisan horizontal cat minyak yang menggambarkan dua gerak tarian, pada lukisan di samping sayap kiri pintu, perempuan yang sedang menari itu memegang bokor di tangan kanannya, sedangkan di sayap kanan ia memegang bokor di tangan kirinya—segera saja Bu Hapsari melihat ketertarikanku akan lukisan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“itu lukisan Mas Win untuk Eyang Putri, Eyang Putri seorang gadis Bali yang juga penari, lukisan itu dibuat saat Eyang Putri berulangtahun yang ke-70 tahun”, ujar Bu Hapsari menanggapi rasa tertarikku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“mungkin itu pula yang membuat saya tertarik dengan Bintang Artha, saya sangat dekat dengan Eyang Putri, sedari kecil Ibu saya sibuk dengan bisnis kateringnya, jadi Eyang Putri bisa dibilang Nanny saya, beliau sering menari untuk saya, gemulai halusnya membuat saya terpana...dan Bintang Artha adalah perempuan kedua yang membuat saya diam menancap karena indahnya”, sambung Pak Hardja seraya melahap kudapan yang tersedia di meja marmer model tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudah hampir satu bulan semenjak perkenalan kami di Pasar Seni, bukannya aku enggan atau akhirnya merasa cukup puas hanya dengan mengetahui namanya. Namun hujan deras turun setiap malam sehingga pertunjukkan tari terpaksa dipersingkat menjadi sebulan sekali karena sepinya peminat. Sayangnya saat malam pementasan Bintang Artha, aku tidak bisa hadir karena harus disidang semalam suntuk oleh dewan senat yang kontraversi atas aksi bakar lukisan yang kulakukan dipusat keramaian tanpa restu mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maka kuputuskan malam ini untuk menemuinya di rumah, dengan bermodalkan skuter pinjaman dari Bang Sahal—editorku, aku nekat bertandang kerumahnya... rumah a’la Belanda yang bercat putih pucat dengan 2 anjing kitamani sebagai pengganti satpam. Lama kutimbang-timbang apakah sudah selayaknya aku singgah ke rumahnya, dan pada akhirnya tekadku bulat sudah untuk membunyikan bel rumahnya. Tak lama Bintang datang dengan rambut yang penuh roll dan daster abu-abu panjang; membuatnya seperti perempuan biasa dihadapanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ia tinggal bersama Paman dan Bibinya dari pihak Ibu, kedua orangtuanya sudah lama mangkat, dan mewariskan rumah ini untuk Bintang dan adiknya—bocah laki-laki berwajah tirus yang saat aku datang sedang membuat pekerjaan sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kedua orangtuanya meninggal saat Bintang berusia 15 tahun, keinginannya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah terpaksa ditunda karena adiknya lebih membutuhkan pendidikan saat ini. Kepiawaiannya menari ia gunakan untuk membunuh jenuh dan menambah tabungannya untuk meneruskan pendidikan, dan didalam rumah yang penuh dengan kenangan orangtuanya ini, Bintang mencoba mengolah satu demi satu masa depannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“menjadi gadis penari itu lebih sulit dari artist manapun Mas Win...”, ujarnya disela-sela obrolan kami yang menarik tentang tarian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“selalu saja ada pikiran-pikiran usil yang berkutat di kepala sebagian pria-pria yang melihat saya... menganggap olah tubuh yang saya pentaskan sebagai ajang pembangkit birahi”, lanjutnya seraya menatap lekat mata saya...”bagaimana dengan Mas Win???”, tanyanya padaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“aku... aku mengagumi tarianmu”, jawabku singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“bukan itu yang kumaksud, apakah Mas Win berpikiran serupa saat melihat saya mentas?”, tanyanya kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“aku... tidak !!!”, jawabku lalu menunduk karena tak kuasa menatap sinar matanya lebih lekat lagi... Yah aku tidak melihat pementasannya sebagai ajang bangkit birahi, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihatnya menari—diam tak bergeming seperti orang kudus yang sedang syahdu melatunkan do’a untuk Tuhannya yang kelewat sibuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perbincangan tentang kehidupan Pak Hardja kembali berlanjut dimeja makan saat makan siang berlangsung, hanya obrolan ringan yang tak terlalu berat, tentang bagaimana akhirnya ia sempat dipenjara karena salah satu cerita pendeknya yang mengulas kisah nyata salah seorang sahabat yang hilang diculik oleh penguasa saat itu; Kucing Garong judul cerita pendek kontraversi yang diterbitkan oleh salah satu koran ternama kala itu. Kalau hanya fiksi belaka mungkin tidak akan mengundangnya masuk bui, namun nama Pak Harto yang diganti dengan Pak Darto digambarkan persis serupa beserta detail pangkat dan kehidupan pibadinya yang lain, cerita pendek ini bahkan banyak digubah ke dalam beberapa pementasan drama bawah tanah yang juga muak dengan sistem militer. Karena ketenarannya inilah, sang penulis berhak masuk Hotel Prodeo dengan alasan menghina Presiden; ya Presiden yang juga membuat hidup kami hina selama seperempat abad.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Mas Win ini memang unik Nak Bintang... dia itu punya hobby masuk bui kata Bapak”, ujar Bu Hapsari berkelakar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“iya, saya ingat Bapak pernah sekali berkata demikian kepada saya... kamu itu hobby masuk bui Win, bikin susah orangtua saja !!! Bapak saya itu kepala sekolah SMA, jadi ya pegawai negeri... golongan orang-orang pasrah yang mau saja disuruh coblos partai kuning&lt;i&gt; &lt;/i&gt;karena takut dituduh PKI”, tukas Pak Hardja kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kali keberapa ia masuk bui ialah saat membuat cerita pendek berjudul Partai Kuning, partai yang berkuasa penuh saat kepemimpinan Pak Harto, Partai yang berwarna dasar kuning itu digambarkan oleh Pak Hardja sebagai kumpulan kotoran manusia yang menyaru bersih dan mengotori negara. Saat cerpen itu akhirnya terbit di salah satu majalah, Pak Hardja harus merasakan bagaimana sakitnya dipukul senjata tumpul dan diguyur kotoran manusia satu ember penuh dilorong menuju rumah Bintang Artha. Kala itu hubungan Pak Hardja dengan Bintang Artha sudah semakin dekat dan serius, aku tidak bisa membayangkan kalau Kites, kekasihku—harus merasakan perlakuan serupa dengannya, bisa-bisa aku mencak-mencak tak keruan sepanjang minggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Obrolan kami lanjutkan didalam studio milik Pak Hardja, dahulu ruangan itu merupakan ruang kerja milik almarhum suami Bu Hapsari. Kini ruangan tersebut diubah menjadi studio lukisan—tempat dimana Pak Hardja menyelesaikan lukisannya. Dari studio ini bisa kulihat seberapa besar rasa kagum dan kecintaannya terhadap Bintang Artha, juga entah mengapa selalu datang perasaan berdesir saat kulihat lukisan itu—lukisan yang selalu menggambarkan objeknya dari samping. Sedari tadi kupikirkan, mengapa nama kami dapat serupa... Bintang Artha, apakah ibuku salah satu pengagumnya atau mungkin ia teman terdekat ibu, setahuku ibu menamakanku Bintang Artha karena kedekatannya dengan arti nama tersebut—tak pernah sekalipun ia jelaskan arti nama itu sendiri... Sementara aku melihat lukisan-lukisan Bintang Artha, Pak Hardja berkutat membuat campuran cat minyak untuk sebuah lukisan yang sedang ia kerjakan, terkadang aku melihatnya sebagai sosok yang selama ini aku rindukan—entah mengapa, lagi-lagi imajinasi yang sebelumnya kutahan hadir memaksa masuk, lagi-lagi kenangan akan ibu yang semakin merajah tubuhku mendobrak masuk kedalam otakku yang sudah terlalu penuh dihuni oleh seribu pikiran tidak masuk akal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bintang Artha... yah namaku Bintang Artha, dan nama yang perempuan yang membuat Pak Hardja jatuh hati juga Bintang Artha, gadis penari yang ia gambarkan bagai Dewi, beruntungkah ia dapat dicintai oleh pria yang begitu populis atau meranakah ia karena harus menerima deraan terus-menerus karena kekritisan kekasihnya, namun dibalik semua pertanyaan itu, hanya satu yang mengganjal pikiranku, dimanakah ia sekarang ?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Siang ini terik matahari menyapa lagi, dengan berjalan lunglai aku menghampiri Bintang Artha yang sedari tadi menungguku di taman depan perpustakaan kampus&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;. &lt;span style=""&gt;Dua tahun sudah hubungan kami terjalin, dan kebahagiaan seakan tak habis diberikan Tuhan oleh kami. Bahkan keberhasilan Bintang Artha dalam hampir seluruh pementasannya tak urung membuat kami merasa bertambah bahagia, tak pernah sekalipun dalam hidupku, kurasakan kekaguman dan kecintaan yang begitu menyatu dan melebur dalam suatu romansa yang kelewat indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Mas Win... ada yang ingin kusampaikan padamu”, ujarnya saat kuraba halus jemarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“ada apa, katakan saja...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“aku... sudah lama ingin kukatakan ini padamu, sudah lama ingin kusampaikan semua perihal hidupku, dan sudah lama pula aku ingin meminta bantuanmu, tetapi...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“tapi apa, kau kekasihku, aku patut untuk tahu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bintang Artha terdiam dan menggulirkan setetes airmata di pipinya. Aku mungkin bintang, tapi bukan bintang yang tak pernah dijamah seperti bintang-bintang lain di angkasa—ucapnya tercekat. Latar belakangku hitam, sudah beratus-ratus kali kutampik, namun tak bisa kuelakkan bahwa aku sudah tidak memiliki harta yang dijaga oleh seluruh perempuan di muka bumi ini. Malam itu tanggal 2 Oktober tahun 1965, mungkin semua orang tahu persis apa yang terjadi pada hari itu di daerah Jawa Tengah, dan aku salah satunya. Ibuku juga seorang penari; penari yang tergabung dalam Gerwani, aku dan adikku bangga memiliki darah seorang wanita pejuang, sayang mereka berpikir kalau Gerwani cuma organisasi yang berisi perempuan-perempuan penari telanjang yang menari sambil diiringi Genjer-Genjer. Dan malam itu, bapak dan ibuku diambil—kami diambil, malam dimana aku memohon dengan sangat untuk ikut ditembak dengan kedua orangtuaku, daripada harus berada di atas himpitan seorang perwira hidung belang yang juga masih kerabat dekat Bapak. Selama 2 tahun aku dan adik terlunta-lunta, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, meringkuk kedinginan di atas truk tentara ditengah malam yang dingin mencekam, sampai akhirnya Paman dari pihak ibu yang juga anggota tentara mengambilku dan adik, mengurus kami yang trauma setengah mati saat memasuki rumah asing, yang kuakui sebagai rumah pribadi yang diwariskan padaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“sungguh ingin kukubur semuanya, tertimbun rapat dan hampa udara...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“tapi untuk apa???”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“aku ingin sepertimu... manusia biasa”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“yang mencoba menjadi luar biasa”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Dimana Bintang Artha sekarang, Bapak?”, tanyaku mencoba memberanikan diri mengajukan isi otakku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Entahlah, aku tidak pernah bertemu dengannya semenjak... semenjak kami berpisah.”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada akhir tahun 1977, Pak Hardja dan kekasih yang paling dicintainya berpisah, mereka berpisah tepat di depan Gedung Pasar Seni, yang juga tempat dimana mereka dipertemukan oleh keajaiban. Saat itu situasi kehidupan Pak Hardja tambah tak keruan, menyusul dampak dari hasil karangannya yang berjudul Partai Kuning, Pak Hardja harus merasakan bagaimana hidup ditengah keterasingan. Saat itu Bapak Negara kita bukan hanya dengan mudah mengubah kehidupan ekonomi dan pendidikan bagi warganya—tapi juga dengan mudah menyingkirkan orang-orang yang mengancam imperium tak kasat yang ia bangun. Pada sore yang hangat di bulan Desember, seorang teman seperjuangan memperingatinya bahwa ia akan kembali masuk bui karena selebaran yang tersebar di seluruh penjuru kota tentang Partai Kuning yang ia buat. Dan penangkapan kali ini tidak akan membuat hidupnya merasakan matahari dari dua sisi lagi, atas dukungan para sahabat—Pak Hardja diminta mengasingkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kala itu, kalau tidak mati yang disiksa sampai ingin mati”,ujar Pak Hardja sambil terus melukis. Dan Bintang Artha tak dapat menahan haru namun juga tak kuasa menahan kekasihnya lebih lama tinggal di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Saya bilang saya harus pergi padanya, ia menangis—seperti biasa namun tangisnya hening tak bersuara, ia cuma diam... diam dan hanya mengucap satu kata”, tukas Pak Hardja sambil membenarkan letak kacamatanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Aku harus pergi, situasi mulai tidak kondusif disini.”ucapku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“ya aku tahu Mas”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“katakan sesuatu, katakan sesuatu untuk menenangkanku...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“katakan sesuatu sebelum aku pergi...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saat ini waktuku terbatas, waktuku sangat terbatas ketika menggenggam tangannya, penerbangan menuju pengasinganku tinggal satu jam lagi, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Bintang Artha masih tetap diam—menggantung sayu dalam pelukanku. Selang berapa waktu, Bang Sahal yang akan mengantarku sampai ke Belanda, memanggilku karena memang aku sudah harus berangkat. Tetapi hatiku berat, karena Bintang Artha masih tak bergeming.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“aku harus pergi...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“aku,,,,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“sampai jumpa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Dan Bintang Artha tidak berkata apapun sampai akhir keberangkatan saya, hanya kata itu, aku... menggantung berarti namun tak dapat kutangkap artinya”.ujar Pak Hardja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Anda tidak tahu?”, tanyaku penasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kamu pernah membaca novel saya yang berjudul Biru?”, balas Pak Hardja bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“ya, sebelum berangkat kerumah Bapak hari ini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Karena saat kau dekat aku akhirnya jauh...Karena saat kau ingat aku akhirnya lupa...Karena saat kau cinta aku akhirnya benci…Karena saat kau datang aku akhirnya pergi,,,”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Karena saat kau tulis titik aku berakhir dengan koma...Karena kalimatnya belum selesai—sampai sekarang...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“kalimatnya belum ia selesaikan Bapak”, lanjutku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“itu bukan puisi saya, itu puisinya dalam surat pertama dan terakhir yang ia berikan pada saya pada tanggal 30 Juli 1978, puisi yang saya sisipkan dalam sebuah novel untuknya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Casey;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Citrawati menatap lekat photo pria bertubuh tegap dan berkulit cerah itu—entah untuk yang keberapa kali dalam sehari ini. Pesonanya yang hampir 25 tahun dicobanya untuk dikubur hidup-hidup, tetap meninggalkan sisa-sisa kejayaan sampai sekarang. Berulang kali ia mencoba menghapus ingatan akan pria itu, namun hasil kasih mereka begitu mengingatkannya dengan parasnya sewaktu muda dulu, dan wataknya begitu mirip kau Mas—bathin Citrawati, kali ini tanpa tangis yang biasa. Pikirannya menerawang ke masa ia masih muda dulu, tubuhnya yang begitu gempal dan tariannya yang begitu halus, mengundang banyak peminat yang memang saat itu sedang makmur namun sengsara pada kenyataaanya. Dan pria yang disimpannya erat di sudut hatinya yang paling dalam adalah satu-satunya peminat yang berhasil memikat hati Citrawati, seorang pelukis yang juga gemar menulis dan protes dengan sistem yang berlaku, aku begitu mencintainya, begitu mengaguminya, begitu bangga padanya, walau saat dunia nyata mengetuk pagi hari hidup kami, ketakutan selalu menjalar cepat dalam aliran darahku. Tak kuasa kulepas malam indah yang meninabobokan kami dalam buaian mimpi, pergi begitu saja saat sang Dewa Surya harus kembali bertahta. Aku tahu hari itu akan datang, hari dimana ia harus kulepas pergi untuk menyelamatkan nyawanya, untuk menyelamatkan nyawa kami—untuk yang kesekian kalinya, aku harus berpisah dengan pelipur laraku demi hidupku. Saat itu sebenarnya aku sedang mengandung, tapi Bang Sahal melarangku untuk memberitahunya, khawatir ia akan menolak rencana untuk tinggal di Belanda sementara waktu, sedangkan jika penolakan itu dilakukannya, nyawanya terancam—hidupnya dan hidupku juga hidup jabang bayi ini terancam. Maka kukunci rapat perihal ini darinya, menggantung kata aku saat kepergiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kebahagiaan itu tak semuanya hilang begitu saja di depan mataku, 9 bulan setelah kepergiannya, putri pertama kami lahir, lahir dengan sehat dan sempurna. Lahir di malam sejuk pada tanggal 29 Juli yang penuh bintang pukul 22.30 di kediaman paman dan bibiku. Tak kuasa aku menahan haru, tak kuasa aku berteriak memanggil namanya, berharap kencangnya suara yang kukeluarkan menembus dinding keratonmu Tuhan, mewujudkan mimpiku untuk kembali bersamanya. Namun sampai detik dimana Bintang Artha kubuatkan akte kelahiran, ia tak juga kunjung muncul dan menjadi Ayah dari putri mungil kami. Perihalmu sangat ingin kuceritakan padanya, Mas—bathinku lagi, namun lagi-lagi penguasa-pengusa bangsat itu memaksaku mengurungkan niatku, aku khawatir Bintang Artha menderita, lahir dari seorang ibu yang anak dari keluarga PKI dan Ayah yang buronan politik. Ia tak mungkin berhasil seperti sekarang apabila identitasnya tak kupalsukan—identitasku tak kupalsukan. Setahun setelah kepergianmu, Bang Sahal dan Hapsari membantuku memalsukan identitas diriku supaya aku bisa memiliki KTP dan membuatkan Bintang Artha akte kelahiran, walau didalamnya namamu tak dapat kucantumkan. Dan aku.... yah aku tetap Bintang Artha yang dulu, hanya kuganti namaku menjadi Citrawati, dan aku-pun berhenti menari. Aku tak kuasa memendam kenangan itu setiap kali melihat dan beraktifitas di Pasar Seni, segala memori itu berawal dan berakhir disana, disana kau datang dan disana pula kau pergi meningalkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Citrawati menghela napasnya dalam, berharap saat akhirnya napas itu berhenti, kekasihnya ada disampingnya untuk membantunya mengucap kalimat syahadat, berharap di akhir hidupnya ia bisa melihat keluarganya berkumpul, berharap Bintang akhirnya menemukan seseorang yang seharusnya ia panggil Ayah. Namun sekali lagi, impian itu harus musnah dari akal sehatnya, ia tak mungkin dapat menemukan kekasihnya, kemungkin besar ia telah meninggal duniat atau identitasnya-pun diganti, walau ia tahu kekasihnya tidak sepengecut dirinya. Dipenghujung rasa sakit dan deritanya malam ini—ditaruhnya photo usang itu dalam tempat semula—Novel Biru karangan kekasihnya yang memang diperuntukkan olehnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Casey;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku diam kudus menabur bunga di pusara ibu, ia tak pernah berkata apapun perihal Hepatitis yang di deritanya, ia bahkan tak pernah mengeluh kesakitan padaku. Andai aku tahu, kesehatannya memburuk semenjak kelahiranku, aku mungkin berharap untuk mati dalam perutnya. Perempuan tangguh ini akhirnya harus menghembuskan napas terakhirnya sendirian, aku menyesal saat dimana aku seharusnya menggenggam jemari ibu dan mengecup keningnya untuk kehangatan terakhir sebelum ia mangkat—aku berada di tempat lain, sibuk mengerjakan proyek penerbitan buku novel Hardjawinata Kartha Winangun yang terbaru. Aku tak pernah tahu keinginan seorang Citrawati—keinginan ibu, segalanya tersembunyi di matanya, dan mata itu disembunyikannya erat-erat dari pandanganku. Hanya secarik kertas ini peninggalannya untukku, segalanya yang belum sempat ia kemukakan padaku, hanya dibingkainya dalam puisi singkat yang ditaruhnya di meja komputer di ruang tengah—tempat dimana aku menghabiskan malamku mengerjakan tugas kantor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Biarlah yang gelap menjadi gelap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena inginku yang selalu meringkuk pekat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Biarlah dosa ini menjadi dosa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena mauku sesal ini seumur hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Biarlah yang palsu tetap palsu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Karena harusku menyaru dalam nama baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Dan Biarlah yang menjadi rahasia tetap rahasia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Karena takdirku diam tercekat bersembunyi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Casey;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;Kembali aku mengusap batu nisan di pusara ibu, disana tertoreh jelas namanya—Citrawati Husein binti Abdul Husein, 25 Desember 1955-30 Juli 2005. Iya... ini bahkan lebih dramatis dari sinetron manapun yang ditayangkan di televisi. Kenapa kau begitu murah hati menjemput ibuku pergi, tepat 1 hari setelah hari jadiku, tepat satu hari setelah ia mencium kening dan pipiku lalu memelukku erat di malam 29 Juli. Apakah Kau tidak miris atau bahkan mungkin puas dengan semuanya, dengan lakon sempurna ini, sekali lagi !!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-1887490831839818308?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/1887490831839818308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=1887490831839818308' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/1887490831839818308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/1887490831839818308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2007/05/k-o-m-karena-kalimatnya-belum-selesai.html' title='K O M A  [ karena kalimatnya belum selesai ]'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7560873648820036888.post-8798382696331416840</id><published>2007-05-23T10:46:00.000+07:00</published><updated>2007-05-25T02:49:23.620+07:00</updated><title type='text'>L E B U R</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s1600-h/gse_multipart41401.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s320/gse_multipart41401.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068215224014005218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Secarik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kertas kutemukan dalam lipatan pakaian dalamku di lemari, entah tulisan siapa? Atau kiriman siapa?, tapi siapa yang berani menaruh secarik kertas dalam pakaian dalam yang terlipat rapih oleh si bibi.... mana mungkin si bibi iseng mengirimkan penggalan kalimat itu kepadaku dalam balutan pakaian dalam. Ah... aku bingung, benar-benar bingung... lalu mulai menggumamkan kata perkata dalam kalimat tersebut, karena matahari takkan bersinar selamanya—kenapa kalimat ini begitu familiar di telingaku, seakan telah berulang kali kudengar seseorang berbisik di telingaku, tapi siapa? Mengapa bisa aku terbangun pagi ini lalu lupa, lupa akan apa? Akan segalanya yang terjadi semalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam ini begitu gelap, dan bulan temaram bertengger indah dalam langit yang hanya didominasi satu warna,,, biru pekat !!! Begitu senyap dan sunyi, seperti hari kemarin, aku hanya termangu menatap bulan yang tak bosan bosannya berganti shift jaga dengan matahari. Tepat jam 9 malam, kutemukan sesuatu dalam keremangan lampu taman, ia bernyawa dan berputar tanpa henti, raut wajahnya mengulas senyum nyaman yang selalu kuinginkan, lebur tariannya merajah hingga hatiku terasa sesak akan bahagia yang terlalu meluap-luap, seakan tak pernah lagi aku hidup dan merasakan segala kebodohan lakon duniawi yang disutradarai-Nya jauh dari sana. Kuhampiri ia yang kini menghimpitkan seluruh permukaan tubuhnya ke badanku. Kami menari bersama, tarian indah yang bahkan tak pernah kusadari keberadaannya, dalam temaram cahaya bulan kulihat wajahnya yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;begitu kudus menjiwai tarian kami, himpitan tubuhnya semakin lekat hingga bisa kuhirup harum aroma tubuhnya, pheromon yang kuat darinya membangkitkan birahi yang telah kian lama kupendam, kurabarasakan seluruh sentuhan yang membuatku kian jatuh tak bernyawa, diam dan rasakanlah—bisiknya lembut, hanya itu yang ingin aku dapatkan darimu malam ini—lanjutnya, mengapa hanya satu malam—tanyaku gusar, jangan bodoh aku datang setiap malam—jawabnya, tapi tak pernah kautemukan karena kau selalu menampik kehadiran sesuatu yang lain selain dirimu—lanjutnya seraya menempelkan bibirnya yang lembut ke bibirku, menciumnya kuat dan bernafsu, nafasku dan nafasnya melebur dalam satu tarian yang tak ingin kuselesaikan. Birahi ini tak ingin kuselesaikan, aku ingin terus melakukannya, bersamanya, lenguhan kami seakan melodi indah yang selama ini ingin kualunkan dalam hidupku. Himpitan tubuhnya semakin kurasakan, dan ketika kami akhirnya menjadi benar-benar satu, ia lenyap, masuk kedalam tubuhku, menggeliat geli. MELEBUR !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div face="verdana" style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s1600-h/gse_multipart41401.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s320/gse_multipart41401.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068215224014005218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalimat itu kini datang lagi setelah sekian kenangan yang hampir musnah satu persatu dalam hidupku. Setiap malam yang kulewati seakan seperti... bahkan hembusan angin pun dapat kurasakan kehadirannya. Kini kalimat itu hadir dalam buku catatan kuliahku, terselip diantara sejumlah teori-teori busuk akan pembenaran kejahatan, yang sesungguhnya hanya salah satu dari bentuk terkikisnya humanisme seorang manusia. Dan aku salah satu dari mereka , mereka yang membenarkan teori pembenaran akan segala sesuatu yang absurd di dunia. Kubaca lagi kalimat tersebut, rasa penasaran seakan kembali membuncah dalam otakku kini. Ingin kuhiraukan saja, tapi ia selalu berhasil datang kala proses pencucian otak ini berhasil. Namun kalimat itu beriku sejuta harapan yang selama ini aku cari, entah mengapa, ia seperti menggelitik sudut hatiku yang tertutup rapat akan keajaiban, mungkinkah ini pertanda usainya penderitaanku selama ini, tapi mana mungkin Tuhan beriku signal, Ia tidak hanya mengurusi satu mahluk, terlalu banyak justru—sehingga aku hanya satu dari sekian kutu busuk yang diperalat untuk mewujudkan ide kreatif-Nya setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam kesenyapan heningku di ruangan tertutup tempat dimana para manusia biasa menguras segala sampah hasil olah tubuhnya, kutemukan kembali ia yang selalu hadir ditengah segala kekuduskan yang aku alami. Kini ia berada diseberangku, tepat dihadapan cermin yang kutatap, wajahnya yang terkena pancaran lampu menyiratkan sejuta makna yang hendak kutanyakan namun tertahan di ujung lidah—riskan untuk terucap. Dalam alunan yang kami ciptakan, ia kembali mengajakku menikmati melodi lara yang selama ini mengungkungku atas segala hasrat, menuntunku melepas semua kenangan akan ketakutan yang tertoreh jelas dalam alur tubuhku. Lepaskan—kembali kunikmati suaranya. Apa yang harus terlepas, biarlah lepas—ujarnya kembali. Aku tidak perlu melepaskan apapun—jawabku angkuh. Aku Matahari_aku dibutuhkan alih-alih membutuhkan—lanjutku. Namun ia terdiam dan menyenandungkan kata atas sepenggal kalimat yang selalu terngiang dalam sepanjang hariku. Karena Matahari takkan bersinar selamanya... gumamnya lirih tetapi membangkitkan gairahku. Siapakah engkau, dengan segenap hasrat penantian, hadirmu seakan selalu kuimpikan, tapi mengapa hanya kau satu-satunya yang beriku kebebasan dan pemenuhan kebutuhan, bukankah aku Matahari_lalu mengapa aku membutuhkanmu. Kau tak mungkin Lucifer, atau Brahman, kau hanya seseorang yang selalu kunantikan. Manusia yang bantuku lepas semua beban di pundakku. Bantu aku, tarik aku dari segala angkuh yang selama ini merajaiku...........................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tawa sekumpulan junior dalam bilik toilet membangunkanku dari... apa yang tadi kulakukan, aku seakan kehilangan satu jam waktu dalam hidupku. Ingin kupaksakan otak dan segenap organ dalam tubuhku untuk mengingatkan kemana perginya waktu selama satu jam. Namun mereka seakan enggan, dan hanya berkata biarlah yang hilang seperti hilang, tak perlu kucemaskan kemana perginya waktu, kala ia tidak mengijinkan untuk diketahui. Namun dalam genggamanku kembali kutemukan secarik kertas penggalan kalimat itu, kini tepat dalam genggamanku, kertas putih lusuh bertoreh tinta hitam. Sepenggal kalimat yang selalu datang secara mistrerius dalam hidupku. Kenapa? Apa yang terjadi denganku? Mungkinkah aku sudah gila? Seperti yang selalu dikatakan Ayah... aku mewarisi darah ibuku—darah seorang pesakitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s1600-h/gse_multipart41401.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s320/gse_multipart41401.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068215224014005218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ya bawa aku, siapapun yang telah sudi menuliskan penggalan kalimat ini, dan memberikan padaku—bawalah aku, sebelum aku jenuh dan berakhir beku, mati pengap minta udara segar. Selama ini himpitan kesengsaraan seakan menjegalku, menghantam setiap sudut tubuhku kala aku ingin berbaring sejenak—lepas dari semua superior yang kumiliki. Namun siapa, siapa yang sudi terima permohonanku,,, siapa yang sudi beriku mimpi lalu suguhkan nyata—bahkan ia yang menjadi Ayahku selalu menatap enggan ke arahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Maaf... tadi disini ada yang lain gak selain kita”, tanyaku kepada salah satu junior yang kini sedang merapihkan rambutnya yang terkucir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“perasaan cuma ada kita-kita sama situ, gak ada yang lain kok !”, jawabnya singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“makasih yah”, balasku sambil lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;Benarkah hanya ada aku dan mereka, tapi aku melihatnya, aku merasakannya, senyata kertas yang kuremas dalam genggamanku saat ini, tapi mengapa mereka berkata ia tak ada... ataukah ia hanya bayanganku saja, My other imagination !!!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Apakah aku seperti mimpi saat kaubiarkan tubuhku menyatu denganmu—ujarnya berbisik ditengah riuhnya suara orang-orang yang berlalu-lalang sepanjang koridor fakultas, tidak_kau senyata jari jemariku—jawabku tanpa memandangnya, lalu kenapa kau ragukan keberadaanku, I’ve no doubt about you—ujarnya sekali lagi sambil membelai ujung rambutku, aku... aku bingung akan kalimat itu—jawabku sungkan, tak perlu kau risaukan_resapilah seperti air meresapi setiap gulir yang dibuatnya—katanya lalu mengecup leherku dan pergi lagi, entah kemana, aku menghiraukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku tersadar ketika seseorang dari arah yang berlawanan, menjatuhkan semua buku-buku yang kubawa. Ia begitu rupawan—kecantikan dan ketampanan menjadi satu, melebur kedalam wajah penuh keteduhan, tersadar bahwa ia adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang pernah jatuh gila memelas sedikit kasih dariku... dari seorang Matahari !!! aku meneruskan langkahku, namun terhenti sejenak memandang kesejukan tatapan yang menyaru dalam kehitaman pekat bola matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;same old shit&lt;/i&gt; Matahari &lt;i style=""&gt;huh&lt;/i&gt; ?!?”, ujarnya memandangku tanpa arti yang dapat kuruak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;who the hell are you thinkin’&lt;/i&gt; ???”, jawabku lunak namun keras.&lt;span style=""&gt;                                                    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;better person, but I might be wrong... U’ll never chance—nooit licht&lt;/i&gt; !!!”, ucapnya kali ini sambil berlalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;Ingin kukerahkan segala tenaga untuk menutup usai semua keangkuhan yang hampir merajam setiap inchi napas dan kata-kata yang keluar dan mengalir dari lubang kehidupan. Namun semua kemampuan yang kupugar hanya bertahan sebentar hingga akhirnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jatuh runtuh di hadapan otak kananku. &lt;i&gt;I’am Same Old Shit Matahari, never chance&lt;/i&gt; !!! karena takkan adalah sumpah mati seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s1600-h/gse_multipart41401.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s320/gse_multipart41401.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068215224014005218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Ayolah bangun... bangun dari kematian akan tidur panjang. Sudah terlalu lama kupendam segala hasrat untuk lepaskan yang harus terlepaskan. Kendati segala ilmu yang kupunya kukerahkan, alih-alih membuatku kuat, hanya berbalik tertawa atas kebodohan yang kubangun di hadapan istanaku sendiri. Darimana datangnya secarik kertas dengan kalimat penggugah semangat ini, darimana jika bukan dari tangan suci seseorang yang rela membantu melepaskan beban dalam vena tubuhku. Benarkah kau malaikat pelindungku ???? Atau bahkan jika kau hanya iblis malam yang dengan senang hati menginginkan jiwaku, akan kujual dengan penawaran terendah yang pernah ada. Lalu kemana perginya bayanganmu setiap kali kubutuhkan kali ini, mungkinkah malam-malam yang kita lewatkan bersama hanya salah satu dari angan konyol yang selama ini menuntunku menjadi seorang pemimpi yang taat. Aku ingin kau datang, memeluk erat tubuh usang yang selalu melas minta tenaga. Aku ingin kau datang, mencium setiap harum aroma tubuh yang keluar lewat semua panca indera yang kupunya. Aku ingin kau datang, mengambil apa yang hendak kaumiliki. Aku ingin kau datang,,,,, Ain’t You heard my scream !!!. Datanglah padaku kali ini bayangan, datanglah menjelang dahaga yang tercekat untuk kesekian kalinya.............&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;Cukup... bahkan langit ketujuh terusik karena teriakanmu—kini kau datang dengan datar, kemana kau pergi ?—tanyaku, kedalam sukmamu—jawabnya diam namun terlintas dari mata yang menohok ulu hatiku, bohong !!!—ucapku mendekat dan menyetuh ujung jemarinya, kalau ada dalam sukma, kau bisa kukendalikan seperti yang lain, pikirku. I’am over controlled_kerena hendakmu bukan inginku—ucapnya seakan membaca lubuk hatiku, kau tahu apa yang tak terucap—tanyaku, karena aku adalah kamu_karena kita adalah satu... satu takkan terbelah walau mungkin terpecah—jawabnya disusul dengan keheningan dan rasa kehilangan yang semakin meraja. Ia pergi lagi, masuk kedalam entah darimana, entah lewat celah yang mana, bahkan aku awam dengan anatomi tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;                                                                      -jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku – *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jiwaku seakan tahu apa yang diharapkan oleh tuannya, tanpa sadar jari jemariku menulisi seluruh dinding kamarku dengan syair lantunan Al-Hallaj, sampai letih membekukan otot bisep dan trisepku. Seluruh dinding kini tertutup oleh kata-kata indah, refleksi do’a yang belum sempat kukatakan pada-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Gadis gila !!! Apa yang kaulakukan dalam rumahku ???”, Ayahku datang disaat yang tak pernah sanggup kunantikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ini rumahku juga, rumah peninggalan ibuku, rumahku karena ini rumahmu, rumah Ayah !!!”, seruku lantang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kau gila, pesakitan seperti Ibumu, aku tahu semenjak kutemukan kau dalam inkubator, kau pasti gila, kau mewarisi darahnya. Darah seorang pesakitan !!!”, Ayah membalas seruanku dengan kencang hampir membuat telingaku pecah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Tapi aku mewarisimu, aku mewarisi legam rambutmu, aku anakmu, anak yang entah mengapa enggan kausentuh... Aku Matahari Ayah, Matahari yang akan bersinar selamanya !!!”, kukatakan ini dengan tegas seraya beringsut pergi meninggalkan Ayah dalam gamang, sunyi meliputi seluruh bangunan indah yang kusebut rumah selama 24 tahun, sepi... disini sepi, aku pengap Tuhan, aku sudah tak tahan, ambil aku sebelum membujur dalam balutan kemewahan semu yang kuelakkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Do’a itu kembali kulantunkan, ditengan sergapan seluruh bodyguard Ayah, yang kini menyeretku menuju mobil putih yang berpendar-pendar pada bagian atasnya, tak dapat kuingat apa yang kulakukan, mereka datang lalu memberiku suntikan hingga ku terasa ringan, terbang menuju keabadian sementara, tempatku singgah menuju hidup yang sempurna. Lalu kau datang lagi dengan senyum sejuk disebelahku, membisikkan sedikit kata cinta untuk selanjutnya mengecup keningku. Aku lelah, aku minta udara, aku susah aku merana !!! Kemana Matahari yang dulu ada, kemana diriku pergi ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s1600-h/gse_multipart41401.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s320/gse_multipart41401.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068215224014005218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutku yang selalu tercekat... kau bilang aku akan pergi, dibawa jauh dimana tak seorang-pun mengenalku. Berhenti bersinar untuk rasakan sinar dari dua sisi dunia. Benarkah ?!? aku skeptis ada yang sanggup bawaku pergi dari dunia yang selalu menguras seluruh kalor yang kumiliki,,, tidak... takkan ada yang berdusta dengan Matahari, tidak jika mereka masih membutuhkanku dan belum menemukan penggantiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Pandanganku kabur, kakiku lemas seakan sudah berjam-jam aku berdiri disini, di jalan setapak sepi yang tak ada seorangpun beraktifitas disini. Kepalaku pusing bukan kepalang, degup jantungku berirama tak beraturan, sepertinya sepersekian detik kemudian jantungku lepas dan luluh lantak di tanah merah yang kuinjak. Lalu kulihat suara deru kendaraan dari kejauhan, kulihat seorang wanita diantara 3 pria bertubuh kekar, mereka seperti sedang bernegosiasi, kuhampiri namun mereka acuh, menghiraukan kata-kataku yang musnah tertelan debu dan udara. Wanita itu memohon, minta diberi kesempatan sekali lagi, pria-pria besar tertawa—hampir kaget aku dibuatnya, tawa mereka penuh laknat dunia. Wanita itu kembali memohon, memohon untuk diberi kesempatan kedua kali, pria-pria besar itu kembali tertawa, namun salah satu dari pria besar yang wajahnya bermandikan peluh menghampiri lalu memukul wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lu pikir ini dunia punya engkong lu, bisa diputer balik seenak udel lu hah ?!!”, ujar sang pria besar penuh peluh dengan suara kencang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bang... gue janji, gue gak bakal lari lagi Bang, tapi jangan siksa gue Bang, gue janji, gue gak bakal lari lagi...”, wanita itu kembali memelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lu kagak tau diutung, udah kita kasih makan dari orok, lu malah bikin malu kita, bikin malu keluarga, dasar betina !!!”, kali ini pria besar dengan wajah yang dipenuhi bulu janggut kasar menjambak wanita itu sambil memukulnya sekali lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bang... maapin gue Bang, gue khilaf Bang... maapin gue Bang !!!”, wanita itu memohon sambil memegangi lutut pria besar dengan janggut kasar, tetapi ditendangnya perut wanita itu hingga jatuh terpelanting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Betina bunting... lu udah cacat !!! Kagak bakal bisa diapa-apain lagi...”, pria penuh peluh kembali berteriak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sedari tadi pria besar dengan jambang panjang dan wajah yang kelihatan selalu berseri hanya terdiam menatap kedua orang dihadapannya memukul dan menendang wanita itu. Aku meronta untuk menolong wanita tersebut, namun aku seakan tak kasat, aku bahkan tak bisa merasakan kulitnya, apakah aku sudah tiada, lalu siapa aku dan mengapa aku disini ??? Pikiran itu berkecamuk, namun kucoba hentikan untuk berkonsentrasi membantu wanita itu—walau hasilnya selalu nihil. Pria besar dengan jambang panjang yang hanya sumbang suara tawa itu sepertinya kukenal, ia tertawa diatas miris yang pekat kurasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bang Oddy... tolong gue Bang... tolong maapin gue, tolong kasih gue kesempatan...”, wanita itu meronta ke arah pria besar dengan jambang panjang, sayup-sayup kudengar ia memanggil lelaki itu dengan nama yang familiar di telingaku... Oddy... yah Oddy—nama Ayah !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi mengapa ada Ayah disini, dan ia begitu tampak muda, tubuhnya yang gempal, kulitnya yang kuning cerah tak pernah kulihat sejak aku pertama kali melihat manusia di bumi ini, tidak pernah kulihat semenjak aku untuk pertama kalinya memanggilnya Ayah, walau satu kali-pun aku tidak pernah mendengar keinginannya untuk dipanggil Ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lu minta tolong ama Bang Oddy juga percuma, ato lu mau minta tolong ama Tuhan sekalipun percuma Matahari... kagak bakal ada yang bisa nolong lu sekarang, kesalahan lu fatal, lu bunting dan lu kagak bakal bisa dijual sekarang....”, suara serak milik pria berjanggut membangunkanku dari lamunan selintas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Sekarang bilang sama gua Matahari... siapa yang bikin lu bunting, kagak mungkin pelanggan, kagak mungkin karna tiap kali lo selesai lo selalu minum jamu yang Bang Wira kasih, jadi siapa yang bikin lu bunting !??”, kali ini suara Ayah yang tampak marah terdengar, suaranya sangat tegas, suara pertama yang terdengar ketika aku pertama kali bisa mendengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kagak tau Bang, gue kagak tau siapa namanya... sumpah bang... gue kagak tau !!!”, jawab wanita itu sambil tersedu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lu tuh tolol apa dongo... mana ada orang hamil tapi kagak tau siapa yang bikin. Siti Maryam aja tau kalo dia dibuntingin ama Tuhan !!! Masa lu kagak ?!?”, kali ini pria besar penuh peluh kembali geram dan meludahi wajah wanita itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;Tiba-tiba Bang Oddy yang sedari tadi hanya berpangku tangan mendekat ke arah wanita itu dan memukulnya keras, sangat keras sehingga aku seakan merasakan kesakitan yang dialaminya, pukulan itu membuat wanita itu terhuyung dan jatuh terbujur penuh darah, merintih minta sedikit tenaga pada Tuhan, namun Ia sedang sibuk entah dengan siapa, karna sampai detik semua penglihatanku mengabur, rasa sakit dan pilu wanita yang bernama sama denganku itu tetap menyesakkan dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk pertama kalinya Matahari dengarkanlah aku, dengarkanlah ceritaku... tentang asal usulmu yang selalu kelabu. Mungkin sudah lama ingin kautanyakan padaku tapi kau sama seperti ibumu, memilih diam daripada harus menelan pil pahit deraan yang akan kuberikan. Aku—seperti yang selalu kuteriakkan padamu, bukanlah Ayah, bukan Ayah yang selama ini selalu kaupanggil Ayah, bukan Ayah yang spermanya menjadikanmu seorang manusia, bukan Ayah yang mencintai ibumu lalu melebur dan menjadikanmu. Aku pamanmu, kakak tiri ibumu... ibumu seperti juga ibuku dan kau adalah wanita pendiam, mungkin sebenarnya bukan keinginan mereka atau kau untuk menjadi diam, tapi kalian memilih diam untuk bertahan hidup. Ayahku seorang juragan cabai terkaya di desaku, kehidupanku dan kedua adikku bahagia sampai ibumu lahir di usiaku yang ke-25, terlahir saat usia Bapakku yang berusia 50 tahun sudah tidak mampu berereksi dan ibuku yang masih segar di usia 40 tahun, cantik, bertubuh gempal, berkulit halus sehalus kulitmu kini—ia yang seorang mantan penari ronggeng masih diminati oleh banyak pria, bahkan ketika ia sudah beranak tiga. Seluruh keluarga bingung, Bapakku yang impoten dan tak punya muka semenjak penyakit itu dideritanya—hanya menatap haru ke arah ibumu, bayi mungil berkulit bersih dan berhidung bangir, hingga akhir hayatnya setelah kematian ibuku yang berjuang keras melahirkan ibumu tanpa bantuan siapapun termasuk para babu, Bapak tidak pernah berbicara_tidak sepenggal kalimat-pun untuk menjelaskan kepadaku perihal ibumu. Cerita tentang ibumu yang lahir bukan sebagai darah daging Bapakku, kuketahui dari buku catatan ibuku—ibumu bukan anak siapapun, bukan dari lelaki manapun... ibumu dan kau entah anak dari pria mana. Bahkan ketika test DNA sudah kulakukan kepadamu, dalam darahmu sama seperti dalam darah ibumu, hanya mengandung satu darah... darah seorang anak tanpa Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s1600-h/gse_multipart41401.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s320/gse_multipart41401.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068215224014005218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tiba-tiba kudengar suara-suara kecil mengumandangkan kalimat itu, kalimat yang selama ini menemaniku habisi hari-hari terakhir masa penantianku. Suara Ayah yang tadi sekan meninabobokanku dalam impian dan seluruh rasa keingintahuan yang mulai menguasai hidupku, kini serasa menjauh dan menyatu dengan suara udara yang terdengar riuh. Apakah tadi hanya mimpi dan dimanakah aku sekarang, mengapa aku ada disini... berada didalam ruang kosong bertembok putih dengan hanya satu ranjang dan meja disebelahnya, jendela kecil disudut ruangan pancarkan sedikit sinar dan hembuskan udara walau hanya sisa dari udara lain diluar sana. Pintu besar yang terbuat dari besi, berdiri kokoh dihadapanku, kucoba membukanya namun pintu itu tertutup rapat seakan menutup usai seluruh hubunganku dengan alam diluar sana. Ingin aku berteriak, berharap seseorang akan membukanya dan melepaskanku pergi, tetapi sekali lagi, kata-kata itu selalu tercekat dan tertahan diujung lidah. Aku takkan mampu keluar dari sini, dan biarlah kunikmati keterkekangan ini sekali lagi. Melantunkan do’a demi do’a, berharap tebalnya tembok kekang ini menembus langit tingkat ketujuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-family:Letter;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;-jadikanlah diriku seperti sebelum Kau jadikan diriku –&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kumohon maafkan aku Matahari—bayangan kembali datang dan mengecup keningku. Maaf ?!? atas apa ???—tanyaku. Karena hanya sampai disini aku ada—jawabnya kaku tanpa menoleh padaku. Mengapa—kini aku berubah tegang dan takut. Karena ia sudah kutitipkan padamu—katanya lembut. Siapa ???—tanyaku lagi. Kau akan tahu karena ia bagian dari dirimu—jawabannya kini halus dan penuh makna. Aku ingin kembali bertanya, tetapi otakku seakan ingin menutup usai semuanya, dan biarlah—hatiku menyerah... biar semua yang gelap tetap gelap, biar semua yang harus ada kini terlahir dan tetap ada. Keinginan mungkin ingin selalu merubah apa yang telah tertoreh jelas dalam garis tangan yang kita miliki, namun biarlah... biar kunikmati lakon ini sekali lagi, karena aku sudah menyerah, walau tak kalah, aku sudah lelah, walau tak pernah ingin rebah. Karena Matahari takkan bersinar selamanya. Karena takkan,,, sekali lagi&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;adalah janji dengan Tuhan sampai nanti !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Century;font-size:12;"  lang="IN" &gt;+&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;+ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;font-family:Letter;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;too many knots are tied&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;font-family:Letter;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;too many lips have lied&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;font-family:Letter;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;too many times I've tried&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204); font-family: arial;font-family:Letter;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;too many voices inside&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:9;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=8798382696331416840#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;*Sumnun, Al-Hallaj&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:Letter;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7560873648820036888-8798382696331416840?l=oemarmeqy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/feeds/8798382696331416840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7560873648820036888&amp;postID=8798382696331416840' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/8798382696331416840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7560873648820036888/posts/default/8798382696331416840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oemarmeqy.blogspot.com/2007/05/lebur-secarik-kertas-kutemukan-dalam.html' title='L E B U R'/><author><name>oemar meqy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17167379447446299785</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2OHzpXRTwog/RlXq5MiU4-I/AAAAAAAAAAc/4YWpLQALeNU/s72-c/gse_multipart41401.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
